Ditulis oleh
Kategori
Cimahi, itmi.or.id – Sebanyak 21 pengajar Al-Qur’an Braille dari sejumlah daerah di Indonesia mengikuti Uji Kompetensi Trainer Al-Qur’an Braille Gelombang III yang diselenggarakan Asosiasi Pengajar Qur’an Braille Indonesia (APQBI).
Kegiatan dilaksanakan di Sekretariat Pimpinan Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PP ITMI), Kota Cimahi, Jawa Barat, Jumat (13/8/2026), bertepatan dengan 1 Rabiul Awal 1448 Hijriah.
Uji kompetensi berlangsung selama tiga hari hingga Ahad.
Peserta berasal dari berbagai wilayah, antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, dan DKI Jakarta.
Pembukaan dihadiri Ketua Umum PP ITMI Ust. H. Yogi Madsuni, Sekretaris Umum PP ITMI Heri Mujianto, S.H.I., M.Pd., Ketua APQBI Ust. Yayat Ruhyat, S.Pd., Direktur LSP Pengajaran Qur’an Braille Ust. Ahmad Solihin, S.T.H.I., pimpinan BAZNAS Provinsi Jawa Barat, perwakilan Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia (RATI), serta sejumlah tamu undangan.
Ketua APQBI sekaligus Ketua Panitia, Ust. Yayat Ruhyat, S.Pd., mengatakan kegiatan di Cimahi merupakan gelombang ketiga setelah dua kegiatan sebelumnya diselenggarakan di Bogor dan Jakarta.
“Kegiatan ini merupakan kegiatan gelombang ketiga, setelah dulu yang pertama di bulan Desember di kompleks Pesantren Adzikra di Bogor. Kemudian yang kedua pada bulan Maret di Markas Al-Qur’an Braille Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia di Fatmawati 20, Jakarta. Dan alhamdulillah yang ketiga ini di Gedung Sekretariat PP ITMI,” kata Yayat.
Menurut Ust. Yayat, APQBI menjadi wadah bagi para pengajar Al-Qur’an Braille yang selama ini tersebar di berbagai komunitas dan daerah.
Keberadaan asosiasi itu tidak semata-mata untuk menghimpun pengajar. APQBI juga mendorong peningkatan kompetensi, kualitas, dan pengakuan terhadap profesi pengajar Al-Qur’an Braille.
“Di sini kita coba menghimpun. Tujuannya untuk meningkatkan kompetensinya, kualitasnya, juga statusnya,” ujarnya.
Ust. Yayat mengatakan APQBI telah membangun komunikasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Agama. Upaya tersebut dilakukan agar kompetensi pengajar Al-Qur’an Braille tidak hanya mendapat pengakuan di tengah masyarakat, tetapi juga memperoleh pengakuan negara.
“Sehingga para pengajar itu dapat pengakuan selain dari masyarakat, juga dari negara,” katanya.
Uji kompetensi gelombang ketiga diikuti 21 peserta. Ust. Yayat mengatakan sebenarnya terdapat calon peserta lain yang belum dapat mengikuti kegiatan karena memiliki keperluan yang tidak dapat ditinggalkan.
Agenda hari pertama berlangsung cukup padat. Peserta mengikuti pretest hingga materi metodologi pembelajaran Al-Qur’an Braille.
Pada hari kedua, kegiatan akan berkolaborasi dengan DKM Masjid As-Sakinah dan mendapat dukungan Kumpulan Remaja Masjid (Kurma). Salah satu agendanya berupa sharing session dan talkshow bertema “Kemerdekaan Bersama Al-Qur’an”.
Sementara pada hari terakhir, peserta dijadwalkan mengikuti praktik mengajar di SLBN-A Citeureup, Cimahi.
“Mudah-mudahan dapat diikuti sebaik-baiknya oleh para peserta,” ujar Yayat.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada PP ITMI, BAZNAS Provinsi Jawa Barat, RATI, serta berbagai pihak yang mendukung pelaksanaan kegiatan.
“Terakhir, kalau tidak ada kerja sama yang baik, ya tentu saja tidak akan ada hasil yang baik,” katanya.
Ketua Umum PP ITMI Ust. H. Yogi Madsuni membuka sambutannya dengan membangkitkan semangat peserta.
“Ayo! Para pengajar Qur’an Braille jangan pada loyo. Ada yang tidur enggak nih? Saya enggak kelihatan,” seloroh Yogi.
Suasana pembukaan pun mencair.
Ketua umum menyambut peserta yang datang dari berbagai daerah, termasuk mereka yang menempuh perjalanan jauh dari Jawa Timur. Ia sendiri bukan orang baru dalam program tersebut karena pernah menjadi peserta uji kompetensi angkatan pertama.
“Biasanya angkatan pertama ahli Sunda wal jamaah. Saya juga adalah peserta ukom angkatan pertama. Saya juga ikut walaupun saya ketua umum karena ini ilmu,” ujarnya.
Melihat komposisi peserta dan pengurus APQBI, ketua umum mengatakan terdapat perpaduan antara generasi senior dan junior.
“Di sini juga saya ketemu para senior saya. Terakhir saya ketemu kayanya Saya masih anak-anak kayaknya itu,” selorohnya lagi.
Ketua umum kemudian membawa peserta melihat kembali perjalanan panjang pengajaran Al-Qur’an Braille di lingkungan ITMI.
Ia mengatakan keberadaan APQBI tidak dapat dilepaskan dari sejarah ITMI sejak organisasi berdiri pada 1999. Pemberantasan buta huruf Al-Qur’an Braille menjadi salah satu program unggulan organisasi sejak masa awal.
“Mungkin dalam hati bapak ibu semua, kok ada ITMI, ada APQBI, berarti ada negara dalam negara?” katanya.
Ia menjelaskan, pada dekade 1990-an, mendapatkan mushaf Al-Qur’an Braille tidak semudah sekarang.
“Dulu tahun 90-an susah cari Qur’an Braille. Ingat dulu saya. Dulu sampai berebutan Qur’an. Seiring dengan lahirnya ITMI dan teknologi, dari situlah Qur’an itu menyebar,” tuturnya.
Namun, tersedianya mushaf memunculkan persoalan berikutnya. Mushaf Al-Qur’an Braille dapat tersedia, tetapi belum tentu penyandang tunanetra mampu membacanya.
ITMI kemudian mengembangkan program Training of Trainers (TOT), mulai dari tingkat dasar hingga lanjutan, untuk melahirkan tenaga pengajar.
Persoalan selanjutnya adalah pengakuan terhadap kompetensi mereka.
“Setelah pengajarnya ada, perlu ada pengakuan. Tapi sertifikatnya lokal. Sehingga kita perlu ada pengakuan dari negara,” kata pria yang akrab disapa Pak Soni itu..
Dari kebutuhan tersebut, tim penyusun modul pengajaran Al-Qur’an Braille dibentuk. Modul itu kemudian menjadi salah satu instrumen untuk membangun standar pengajaran yang dapat digunakan bersama.
Program tersebut pernah diluncurkan pada 2023 oleh Muhadjir Effendy, yang ketika itu menjabat Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK).
Perjalanan standardisasi kemudian berlanjut dengan pembentukan lembaga sertifikasi yang dipimpin Ust. Ahmad Solihin, S.T.H.I. Kebutuhan akan wadah profesi pengajar selanjutnya melahirkan APQBI.
Ketua umum menjelaskan APQBI dan LSP berada dalam ekosistem ITMI sebagai badan otonom.
Lagi-lagi ia memilih menjelaskannya dengan istilah yang mengundang tawa.
“APQBI dan LSP ini bagian dari ITMI, badan otonom, disingkat Bandot,” selorohnya yang mengundang tawa seluruh peserta..
Menurut Ketua umum, upaya membangun pengakuan kompetensi itu tidak dilakukan secara sembarangan. Proses penyusunan standar juga melalui pengujian hingga akhirnya pada 2025 telah tersedia Standar Kompetensi Kerja Khusus (SKKK) Pengajar Al-Qur’an Braille Indonesia.
Kepada para peserta, pria yang akrab disapa pak soni itu juga berpesan agar pengalaman mengajar yang telah dimiliki tidak justru menjadi penghalang untuk menerima pengetahuan baru.
Ia mengakui peserta yang hadir telah memiliki pengalaman beragam. Dalam praktik mengajar, mereka bisa berhadapan dengan peserta didik yang sulit berkembang dari pengenalan huruf tertentu hingga penyandang tunanetra yang memiliki sensitivitas perabaan berbeda.
Karena itu, ia mendorong peserta saling bertukar pengalaman di luar sesi resmi APQBI.
Untuk menggambarkan pentingnya membuka diri terhadap metode baru, ketua umum menggunakan analogi air.
“Analoginya kita punya air, simpan dulu lah separuh ke termos lain. Kita berikan yang kosong untuk ada yang mengisi supaya ada air baru. Simpan dulu ilmu yang sudah ada, kita terima ilmu yang baru,” katanya.
Menurut dia, penyamaan metode menjadi penting agar kualitas pengajaran Al-Qur’an Braille memiliki standar yang sama.
“Tujuannya kita standarisasikan dulu semuanya, agar semuanya berjalan lancar,” ujarnya.
Ketua umum secara khusus menyampaikan terima kasih kepada BAZNAS Provinsi Jawa Barat yang mendukung kegiatan tersebut.
Ia berharap dukungan serupa dapat berkembang di daerah lain.
“Terima kasih wabil khusus bagi BAZNAS Jawa Barat. Mudah-mudahan diikuti oleh BAZNAS-BAZNAS lainnya. Biar jadi role model,” katanya.
Menjelang membuka kegiatan secara resmi, ketua umum kembali mengingatkan pentingnya kemampuan membaca dan memahami Al-Qur’an bagi penyandang tunanetra.
“Karena ini penting. Buta di dunia itu takdir, Pak, tapi buta di akhirat pilihan.”
Ia kemudian menyinggung Surah Taha tentang peringatan bagi mereka yang berpaling dari petunjuk Allah dan kehidupan yang sempit.
“Bismillah, kita buka kegiatan ini,” ujar ketua umum, menandai dimulainya rangkaian Uji Kompetensi Trainer Al-Qur’an Braille Gelombang III.
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *
Komentar *
Nama *
Email *
Situs Web
Simpan nama, email, dan situs web saya pada peramban ini untuk komentar saya berikutnya.
Izul Islam Wal Muslimin Wal Ma’fufin (Kemuliaan Agama Islam, Kaum Muslimin dan Kaum Tunanetra
Untuk mewujudkan Visi tersebut, Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) memiliki Misi sebagai berikut :
Dalam melakukan kiprahnya, ITMI telah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, baik Pemerintah maupun non-pemerintah, LSM, Ormas, dan sebagainya.
Untuk menjaga keberlangsungan kiprahnya dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi umat, ITMI senantiasa membuka kerjasama dengan berbagai pihak.
Diantara kiprah dan kerjasama yang telah dan selalu dilakukan ITMI adalah :
Program dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan tunanetra muslim berjalan berkat dukungan para dermawan. Partisipasi Anda membantu membuka kesempatan yang lebih luas bagi saudara-saudara tunanetra untuk belajar, berkarya, dan mandiri.
Dapatkan kabar terbaru program dan kegiatan ITMI melalui media sosial.