Tag: itmi.or.id

  • ITMI Luncurkan Website dan Cetak Perdana KTAI, Pendataan Anggota Tembus 2212 Orang

    ITMI Luncurkan Website dan Cetak Perdana KTAI, Pendataan Anggota Tembus 2212 Orang

    Dokumentasi photo 1
    Dokumentasi photo 2

    Jakarta, itmi.or.id — Pengurus Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) bersama Yayasan Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia (YRATI) resmi meluncurkan website organisasi dan melakukan pencetakan perdana Kartu Tanda Anggota ITMI (KTAI) pada Rabu, 10 Dzulhijjah 1447 Hijriyah bertepatan dengan 27 Mei 2026 di Kantor Yayasan Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia, Jalan Fatmawati Raya No. 20, Cilandak, Jakarta Selatan.

    Peluncuran tersebut dilaksanakan bertepatan dengan kegiatan pembagian daging hewan kurban kepada sekitar 150 mustahik tunanetra dari lima daerah di wilayah DKI Jakarta. Kegiatan kurban sendiri berlangsung sejak pagi dengan pemotongan sembilan ekor sapi dan enam ekor kambing, serta melibatkan berbagai komunitas tunanetra, termasuk Komunitas Pasundan.

    Acara dihadiri Ketua Umum ITMI Ust. H. Yogi Madsuni, Presiden Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia Drs. H. Arief Pribadi, M.M.Tr., Sekretaris Umum ITMI Heri Mujianto, S.H.I., M.Pd., Ketua Bidang Organisasi Eka Setiawan, S.Pd., Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi dan Ketenagakerjaan: Dra. Lies H. Agustarini, ketua departemen potensi Muslimah Synthia Cempaka Dewi, serta Ketua Majelis Syura ITMI Ust. Ahmad Rojiin Faqih.

    Tak hanya secara langsung di jakarta, acara launching tersebut juga dihadiri oleh administrator wilayah dan daerah dibawah komando administrator pusat siarga Dwi Citolaksono, Pii Jali Fadli, S.Pd dan Ratna Anjani secara online via zoom.

    Suasana kegiatan berlangsung hangat dan meriah. Sebelum seremoni launching dimulai, para peserta terlebih dahulu disuguhi hiburan dari grup band tunanetra dan makan siang bersama.

    Dalam sambutannya,

    Sekretaris Umum ITMI Heri Mujianto menyampaikan bahwa perjalanan pengembangan Sistem Registrasi Anggota ITMI (SIARGA) telah melalui proses panjang sejak pertama kali digagas pada 2022 dalam forum Muzakarah Nasional di Hotel Balairung.

    “Perjalanan SIARGA alhamdulillah banyak lika-likunya sejak awal diinisiasi tahun 2022 oleh pionir Ustadz Eka Setiawan. Itu menjadi pondasi awal sehingga berjalannya waktu SIARGA terus dipacu sampai akhirnya difinalisasi,” ujarnya.

    Menurut Heri, hingga 27 Mei 2026 tercatat sebanyak 2.212 anggota telah terinput ke dalam sistem dalam kurun waktu kurang dari dua bulan sejak pendataan dimulai secara masif pada akhir Maret lalu.

    “Ini merupakan perwujudan semangat dan kerja sama semua pihak, dari hilir ke hulu dan dari hulu ke hilir. Pusat hanya memfasilitasi, sementara administrator wilayah dan daerah yang bergerak melakukan pendataan,” katanya.

    Ia menjelaskan, SIARGA tidak hanya berfungsi sebagai basis data anggota, tetapi juga memuat profil wilayah dan daerah sehingga memudahkan pengurus pusat memantau perkembangan organisasi di seluruh Indonesia.

    Selain peluncuran SIARGA, ITMI juga secara resmi meluncurkan website organisasi dengan alamat itmi.or.id sebagai media publikasi dan penyebaran informasi organisasi kepada masyarakat luas.

    Presiden Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia Drs. H. Arief Pribadi, M.M.Tr. turut menyampaikan apresiasi atas capaian pendataan anggota yang menurutnya menjadi langkah penting menuju organisasi yang lebih tertata.

    “Saya mengapresiasi setinggi-tingginya atas tercatatnya 2.212 anggota. Mudah-mudahan cita-cita terwujudnya anggota yang tercatat by name by address bisa benar-benar terwujud,” ujarnya.

    Dalam suasana penuh keakraban, Arief juga sempat berseloroh kepada Ketua Majelis Syura ITMI terkait pentingnya data anggota yang lengkap dan jelas.

    “Jadi, dengan by name by address ini lengkap. Namanya ada, alamatnya ada, usianya juga bisa ketahuan seperti pak Majelis Syura ini ya,” katanya disambut tawa peserta.

    Ia juga turut menenangkan ketua umum ITMI yang kerap kali bingung tatkala ditanya jumlah anggota.

    “Insya Allah kita tidak bingung lagi kalau ditanya berapa jumlah anggota ya Pak Ketum,” yang disambut senyum lebar ketua umum ITMI.

    Sementara itu, Ketua Umum ITMI Ust. H. Yogi Madsuni menilai hadirnya SIARGA menjadi tonggak baru perjalanan organisasi setelah bertahun-tahun menghadapi persoalan pendataan anggota.

    “Dari 2009 sampai 2019 persoalan pendataan ini seperti ayam dulu atau telur dulu karena tidak pernah selesai. Dulu bahkan sistemnya masih manual,” ungkapnya.

    Ia mengatakan, digitalisasi menjadi kebutuhan organisasi modern, termasuk dalam sistem registrasi anggota dan penerbitan kartu tanda anggota digital.

    “Sekarang kita sudah memiliki sistem registrasi anggota yang bisa mencetak kartu tanda anggota digital sesuai eranya. Digitalisasi itu memudahkan,” jelas ketua umum yang akrab disapa Pak Soni itu.

    Dirinya juga menekankan pentingnya perlindungan data anggota agar tidak disalahgunakan pihak yang tidak bertanggung jawab.

    “Teman-teman di media informasi publikasi, riset dan teknologi juga menyiapkan sistem keamanannya. Jangan sampai terjadi kebocoran data yang diperjualbelikan di luar sana,” ujarnya.

    Pada kesempatan tersebut dilakukan pula pencetakan perdana KTAI fisik yang secara simbolis diserahkan kepada Ketua Umum ITMI, Presiden Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia selaku anggota kehormatan ITMI, serta Ketua Majelis Syura dari sekretaris umum Heri Mujianto, S.H.I, M.Pd..

    Menariknya, KTAI fisik tersebut dilengkapi fitur uang elektronik BNI TapCash di bagian belakang kartu sehingga dapat digunakan untuk pembayaran transportasi umum seperti JakLingko dan MRT.

    “Ini memang masih sebatas kreativitas dan belum kerja sama resmi dengan BNI. Mudah-mudahan ke depan bisa terjalin kerja sama,” ujar Heri Mujianto.

    Ketua Majelis Syura ITMI Ust. Ahmad Rojiin Faqih turut menyampaikan apresiasi kepada jajaran pengurus pusat yang dinilainya terus berikhtiar memperkuat organisasi melalui pengembangan sistem informasi dan media publikasi.

    Dengan diresmikannya website dan pencetakan perdana KTAI tersebut, ITMI berharap sistem organisasi semakin tertata serta mampu memperkuat pelayanan dan pendataan anggota tunanetra muslim di seluruh Indonesia.

    Kontributor: D. Citolaksono.

  • ITMI Optimalkan SIARGA, Launching Website dan Pencetakan Perdana KTAI Segera Digelar

    ITMI Optimalkan SIARGA, Launching Website dan Pencetakan Perdana KTAI Segera Digelar

    Ilustrasi Photo
    Tangkapan layar peserta zoom
    Cimahi, itmi.or.id, Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) terus mematangkan langkah transformasi digital organisasi melalui rapat persiapan launching website resmi ITMI dan pencetakan perdana Kartu Tanda Anggota ITMI (KTAI) berbasis platform SIARGA (Sistem Informasi Registrasi Anggota), Jumat (15/05/2026) malam. Rapat yang digelar secara daring melalui Zoom tersebut diselenggarakan oleh Pengurus Pusat ITMI dan dihadiri sejumlah tokoh penting organisasi, mulai dari Ketua Umum ITMI Ust. H. Yogi Madsuni, Sekretaris Umum Heri Mujianto, S.H.I., M.Pd., Bendahara Umum Ajad Sudrajad, hingga Ketua Unit Media Informasi Publikasi, Riset & Teknologi Drs. Toto Sugihatno beserta jajaran stafnya. Turut hadir pula Ketua Bidang Pendidikan dan Dakwah Ust. H. Hepi Septian, S.Ag., perwakilan Bidang Organisasi Ust. Hidayat, serta sesepuh ITMI sekaligus mantan Ketua Umum ITMI, Ust. Yayat Ruhyat, S.Pd., yang kini menjabat Ketua Asosiasi Pengajar Qur’an Braille Indonesia (APQBI).

    Apresiasi untuk Tim Media Officer

    Rapat dibuka oleh Sekretaris Umum ITMI Heri Mujianto yang dalam pengantarnya menyampaikan apresiasi kepada tim media officer yang selama ini terus mengembangkan website dan platform SIARGA ITMI. Menurutnya, pengembangan sistem digital organisasi menjadi langkah penting dalam memperkuat tata kelola organisasi serta pelayanan terhadap anggota di berbagai daerah. Agenda kemudian dilanjutkan dengan presentasi pengembangan website dan platform SIARGA oleh Dwi Citolaksono yang menjelaskan berbagai fitur serta optimalisasi sistem yang sedang dikembangkan. Dalam pemaparannya, Cito menegaskan bahwa platform SIARGA merupakan sistem yang dikembangkan secara mandiri oleh internal ITMI.
    Alhamdulillah bapak ibu, SIARGA ini original buatan kita. Sehingga ini saya kira menjadi suatu kebanggaan buat ITMI,” ujarnya.
    Ia juga menjelaskan bahwa pengembangan terus dilakukan secara masif guna menghadirkan sistem yang lebih efektif dan memudahkan kerja organisasi. Salah satu fitur baru yang diperkenalkan ialah fitur profil wilayah dan daerah yang dapat diisi langsung oleh admin wilayah maupun daerah melalui platform SIARGA. Data tersebut nantinya dapat diunduh oleh pengurus pusat dalam bentuk file Excel untuk kebutuhan pemetaan organisasi. “Ini memudahkan bidang organisasi dalam mendeteksi mana yang belum Muswil, mana yang belum Musda, dan lain sebagainya. Ini keuntungan kalau aplikasinya bikin sendiri bapak ibu,” lanjutnya. Paparan tersebut kemudian diperkuat dengan tambahan masukan dari staf media officer lainnya seperti Pii Jali Fadli, S.Pd., Roja Mubarok, serta Ketua Unit Media Informasi Publikasi, Riset & Teknologi Drs. Toto Sugihatno.

    Pengurus Dorong Partisipasi Digital Organisasi

    Dalam rapat tersebut, sejumlah peserta salah satunya Syntia Cempaka Dewi Ketua Departemen Potensi Muslimah, juga menyampaikan keinginan untuk ikut berkontribusi dalam pengembangan media digital ITMI, baik melalui penulisan artikel di website maupun keterlibatan dalam konten video pada akun TikTok resmi ITMI yang baru diluncurkan. Hal tersebut menunjukkan antusiasme pengurus dalam mendukung transformasi digital organisasi agar semakin dikenal masyarakat luas.

    Launching Disepakati Digelar 27 Mei 2026

    Salah satu agenda penting dalam rapat tersebut adalah penentuan waktu launching website ITMI sekaligus pencetakan perdana KTAI berbasis SIARGA. Setelah melalui diskusi bersama, peserta rapat sepakat menetapkan launching akan dilaksanakan pada 10 Dzulhijjah 1447 H / 27 Mei 2026 M, di kantor Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia (Fatmawati, Jakarta). Keputusan tersebut kemudian disahkan langsung oleh Ketua Umum ITMI Ust. H. Yogi Madsuni. Sebelum mengesahkan keputusan, Ketua Umum turut menyampaikan evaluasi terkait perkembangan organisasi di sejumlah wilayah yang dinilai masih belum optimal dalam melakukan penginputan anggota ke platform SIARGA. Beberapa wilayah juga disebutnya belum menunjukkan keaktifan organisasi dalam beberapa waktu terakhir. “Gimana ya, mereka gak aktif juga saya gimana juga gak bisa datang begitu saja ‘hey, kenapa gak aktif nih?’ Kan nggak bisa begitu ya. Ya, kita tunggu lah paling tidak sebulan ke depan ya Pak Dayat,” ujar Ketua Umum kepada Ketua Departemen Pembinaan Wilayah dan Daerah, Ust. Hidayat. Sementara itu, Sekretaris Umum ITMI turut menambahkan bahwa launching tersebut diharapkan dapat disaksikan lebih luas oleh anggota, khususnya di wilayah Jakarta Raya. “Ya, sesekali mereka menyaksikan acara pusat, jangan Bandung mulu,” ujar Heri Mujianto disambut suasana hangat peserta rapat. Ia juga menyebut bahwa kebutuhan terhadap pencetakan KTAI sudah mulai banyak ditanyakan anggota. “Kita juga nampaknya harus sesegera mungkin ya pak, karena waktu saya pulang dari masjid beberapa waktu yang lalu setelah Tadarus Nasional ITMI, anggota banyak yang nanya kapan bisa dicetak,” imbuhnya.

    Langkah Menuju Penguatan Administrasi dan Pelayanan Anggota

    Rapat yang berlangsung lebih dari dua jam tersebut menjadi bagian penting dari langkah ITMI dalam memperkuat sistem administrasi organisasi berbasis digital. Melalui website resmi dan platform SIARGA, ITMI berharap pendataan anggota dapat berjalan lebih tertib, terintegrasi, dan profesional. Selain itu, keberadaan sistem tersebut diharapkan dapat membuka akses anggota terhadap berbagai program pemberdayaan, pelatihan, maupun peluang kerja yang bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah. Dengan semangat kolaborasi dan transformasi digital yang terus berkembang, ITMI optimistis dapat memperluas peran organisasi sekaligus memperkuat pelayanan kepada tunanetra muslim di Indonesia.
  • Hakikat Kurban: Ibadah Ketaatan dan Keikhlasan kepada Allah

    Editor: Media Officer

    Muqadimah

    Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kepada-Nya kita memuji, memohon pertolongan, dan memohon ampunan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, penutup para nabi, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kepada kita nikmat iman, kesehatan, kesempatan, dan kekuatan sehingga dapat menghadiri majelis Jumat untuk memperbaharui ketakwaan kepada-Nya. Seorang muslim hendaknya menjadikan seluruh gerak hidupnya sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya:

    Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

    Ayat ini menegaskan bahwa seluruh aktivitas seorang mukmin harus dilandasi niat ibadah dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Kurban: Ibadah Sejak Awal Manusia

    Di antara bentuk ibadah yang telah ada sejak awal sejarah manusia adalah ibadah kurban. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan kisah dua putra Nabi Adam ‘Alaihissalam dalam Surah Al-Ma’idah, ketika keduanya mempersembahkan kurban kepada Allah. Salah satu kurban diterima, sedangkan yang lainnya ditolak.

    Kisah ini menunjukkan bahwa sejak dahulu manusia telah diajarkan untuk menyerahkan sebagian hartanya sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Pada masa itu, bentuk kurban belum terbatas pada hewan sembelihan sebagaimana yang kita kenal sekarang. Ada yang mempersembahkan hasil pertanian dan ada pula yang mempersembahkan hewan ternak. Semuanya disebut sebagai kurban.
    Dalam perkembangan syariat umat manusia, bentuk-bentuk pengorbanan harta kemudian memiliki istilah yang berbeda. Ada yang disebut sedekah, infak, dan ada pula yang secara khusus disebut mansak.

    Makna Mansak dalam Al-Qur’an

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 34 bahwa bagi setiap umat telah ditetapkan mansak atau tata cara ibadah tertentu.
    Kata mansak dalam Al-Qur’an mengandung makna syariat atau bentuk ibadah yang khas pada setiap umat dan zaman para nabi. Setiap nabi memiliki aturan ibadah yang berbeda sesuai ketetapan Allah pada masanya. Salat pada zaman Nabi Ibrahim tidak sama dengan salat pada zaman Nabi Musa, begitu pula berbeda dengan syariat pada masa Nabi Isa dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

    Kesempurnaan syariat itu kemudian ditetapkan pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Setelah beliau, tidak ada lagi syariat baru. Karena itu, segala bentuk ibadah yang dibuat-buat dan tidak memiliki dasar dari Rasulullah termasuk perkara yang tertolak.
    Dalam konteks ibadah kurban, mansak bermakna ibadah penyembelihan yang dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Kurban berbeda dengan zakat atau infak. Ketiganya sama-sama mengeluarkan harta, tetapi kurban memiliki kekhususan berupa penyembelihan hewan ternak sebagai bagian dari ibadah.

    Perbedaan Kurban Umat Terdahulu dan Umat Nabi Muhammad

    Pada umat sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, hewan kurban yang dipersembahkan tidak boleh dimakan oleh orang yang berkurban. Bahkan dalam sebagian syariat terdahulu, tanda diterimanya kurban adalah ketika kurban tersebut habis dilahap api.
    Berbeda dengan syariat Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Allah justru memerintahkan agar orang yang berkurban ikut memakan sebagian dari hewan kurbannya. Allah berfirman:

    Makanlah sebagian darinya dan berilah makan kepada orang yang membutuhkan.

    Ini menunjukkan bahwa syariat Islam adalah syariat yang penuh rahmat dan keseimbangan.
    Namun demikian, Islam juga mengajarkan adab distribusi kurban. Daging kurban hendaknya diprioritaskan kepada orang-orang yang membutuhkan, terutama mereka yang menjaga kehormatan diri dan tidak meminta-minta. Mereka inilah yang sering kali luput dari perhatian karena tidak tampak meminta bantuan.
    Karena itu, panitia kurban dan masyarakat perlu mengenali lingkungan sekitarnya agar distribusi kurban benar-benar sampai kepada yang membutuhkan.

    Tiga Bentuk Sembelihan Ibadah

    Dalam Islam terdapat tiga bentuk sembelihan yang bernilai ibadah:

    1. Hadyu, yaitu sembelihan bagi jamaah haji.
    2. Udhiyah, yaitu kurban yang dilakukan pada Hari Raya Iduladha bagi yang tidak berhaji.
    3. Akikah, yaitu sembelihan sebagai ungkapan syukur atas kelahiran anak.

    Selain itu, penyembelihan biasa untuk konsumsi sehari-hari hukumnya halal dan mubah selama dilakukan sesuai syariat.

    Yang diharamkan adalah menyembelih atas nama selain Allah, atau yang dikenal dengan istilah tumbal. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menegaskan bahwa siapa saja yang menyembelih untuk selain Allah maka ia telah melakukan dosa besar.

    Kurban dan Keikhlasan

    Dalam Surah Al-Kautsar, Allah berfirman:

    Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.

    Penekanan ayat ini bukan hanya pada salat dan kurbannya, melainkan pada kalimat “karena Tuhanmu”. Artinya, seluruh ibadah harus dilaksanakan dengan penuh keikhlasan hanya untuk Allah.
    Ibadah kurban memiliki sifat demonstratif; ia terlihat oleh manusia. Berbeda dengan puasa yang tersembunyi. Karena itu, ujian terbesar dalam ibadah kurban adalah keikhlasan. Seseorang bisa saja terjebak pada rasa bangga, riya, atau ingin dipuji karena hewan kurbannya.
    Padahal hakikat kurban bukanlah sekadar membagikan daging. Jika hanya ingin membagikan daging, tentu lebih mudah membeli daging di pasar lalu dibagikan kepada masyarakat. Akan tetapi, kurban memiliki nilai ibadah karena ada unsur penyembelihan yang dilakukan atas nama Allah.

    Di situlah letak spirit pengorbanan. Seorang muslim rela mengeluarkan hartanya demi menjalankan perintah Allah tanpa merasa sayang ataupun berat.

    Spirit Pengorbanan dalam Kehidupan

    Nilai kurban seharusnya tidak berhenti pada penyembelihan hewan semata. Semangat pengorbanan harus terus hidup dalam kehidupan seorang muslim.

    Masjid perlu dibangun dan dirawat. Anak-anak membutuhkan pendidikan. Fakir miskin memerlukan bantuan. Semua itu membutuhkan pengorbanan harta, tenaga, dan perhatian.
    Maka tanda diterimanya ibadah kurban bukan hanya selesai pada hari tasyrik, tetapi berlanjut pada semangat berbagi dan berkorban demi kemaslahatan umat.

    Penutup

    Kurban adalah simbol ketundukan, ketaatan, dan keikhlasan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia mengajarkan bahwa harta hanyalah titipan dan bahwa seorang mukmin harus siap berkorban demi meraih ridha Allah.
    Semoga Allah menerima amal ibadah kita, melimpahkan keikhlasan dalam hati, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang gemar berkorban di jalan kebaikan.

    Ya Allah, berilah kami manfaat dari ilmu yang Engkau ajarkan kepada kami, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.