Tag: islam

  • Laki-laki Wajib Tahu, Ini 4 Ilmu yang Harus Dipelajari Sebelum Menikah

    Itmi.or.id, Ada banyak laki-laki yang merasa siap menikah ketika sudah memiliki pekerjaan, tabungan, atau usia yang dianggap cukup. Padahal pernikahan bukan sekadar soal kesiapan menggelar akad, melainkan kesiapan menjalani kehidupan setelah akad itu selesai.

    Akad hanya berlangsung mungkin 10 menit. Tetapi menjadi suami berlangsung bertahun-tahun, bahkan seumur hidup.

    Karena itu, sebelum sibuk mencari pasangan yang tepat, ada pertanyaan yang lebih penting untuk dijawab:

    “Apakah saya sudah menyiapkan diri menjadi suami?”

    Dalam Islam, pernikahan adalah ibadah sekaligus amanah. Maka persiapannya tidak cukup hanya finansial, tetapi juga ilmu.

    Ilmu Agama

    Banyak laki-laki semangat mencari pasangan, tetapi belum pernah duduk serius mempelajari ilmu rumah tangga. Kita sering diajarkan bagaimana mencari nafkah, tetapi jarang diajarkan bagaimana menjadi suami.

    Padahal rumah tangga yang baik tidak dibangun oleh cinta saja, melainkan, Rumah tangga juga dibangun oleh ilmu Agama.

    Sebelum menikah, seorang laki-laki perlu memahami bagaimana menjaga dirinya sebelum pernikahan. Menjaga pandangan, menjaga batas interaksi, dan tidak menjadikan proses menuju pernikahan sebagai ruang melanggar syariat dengan alasan

    “sedang saling mengenal”.

    Menikah juga berarti siap memahami hak dan kewajiban. Bagaimana cara menafkahi, memimpin, bermusyawarah, dan menyelesaikan konflik. Termasuk memahami bahwa dalam Islam ada ucapan-ucapan tertentu yang tidak boleh dipermainkan.

    Tidak sedikit rumah tangga terguncang bukan karena niat bercerai, tetapi karena suami tidak memahami bahwa sebagian ucapan memiliki konsekuensi hukum. Mengatakan

    “sudah, kita pisah saja”

    , atau kalimat serupa saat marah bukan perkara ringan. Karena itu, ilmu fikih rumah tangga perlu dipelajari sebelum akad, bukan setelah masalah muncul.

    Persiapan agama juga berarti menyiapkan hati menerima takdir. Tidak semua pasangan akan langsung diberi anak. Ada yang diuji dengan kondisi kesehatan, ada yang diuji dengan keterbatasan ekonomi, ada yang diuji dengan penantian panjang.

    Menikah bukan akad untuk membeli masa depan yang ideal. Menikah adalah kesiapan menemani seseorang dalam keadaan yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

    Di titik inilah pembicaraan sebelum menikah menjadi penting. Bukan untuk saling curiga, tetapi untuk menyamakan harapan, memahami kondisi masing-masing, dan membicarakan hal-hal yang berpotensi menjadi masalah di kemudian hari.

    Ilmu Parenting

    Banyak orang mengira ilmu mendidik anak, atau ilmu parenting bisa dipelajari nanti setelah anak lahir.

    Padahal ketika anak hadir, orang tua sering kali tidak lagi punya banyak waktu untuk mulai dari nol.

    Menjadi ayah bukan hanya soal bekerja lalu membawa pulang uang. Menjadi ayah adalah membentuk manusia.

    Di era digital seperti sekarang, tantangan membesarkan anak jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya. Anak-anak tumbuh bersama layar, algoritma, dan banjir informasi yang tidak selalu sehat.

    Karena itu, laki-laki yang ingin menikah sebaiknya mulai belajar tentang perkembangan anak, komunikasi keluarga, cara membangun kedekatan emosional, dan bagaimana menghadirkan teknologi tanpa menjadikannya pusat kehidupan.

    Anak tidak hanya belajar dari nasihat.

    Anak belajar dari kebiasaan orang tuanya.

    Jika ayah sibuk dengan ponsel sepanjang waktu, anak akan tumbuh dengan pemahaman bahwa Handphone lebih penting daripada percakapan dengannya.

    Rumah yang baik bukan rumah yang bebas internet. Tetapi rumah yang punya arah.

    Ilmu Kesehatan

    Pernikahan mempertemukan dua orang, tetapi juga mempertemukan dua kondisi kesehatan.

    Banyak pasangan yang baru membicarakan kesehatan ketika masalah sudah datang. Padahal banyak hal bisa dipersiapkan lebih awal.

    Laki-laki perlu memahami pentingnya menjaga pola makan, tidur, kesehatan reproduksi, kebugaran, serta pemeriksaan kesehatan sebelum menikah.

    Bukan untuk mencari pasangan yang sempurna, Tetapi agar pasangan dapat saling memahami kondisi satu sama lain.

    Kadang yang terlihat seperti masalah komunikasi ternyata akar persoalannya adalah kelelahan, stres, atau tubuh yang tidak pernah diberi kesempatan pulih.

    Tubuh yang sehat bukan tujuan hidup, Tetapi ia adalah kendaraan untuk menjalankan amanah.

    Ilmu Psikologi

    Ada laki-laki yang siap menikah secara ekonomi, tetapi belum siap secara emosi.

    Ada yang mampu memimpin pekerjaan, tetapi tidak mampu memimpin percakapan.

    Ada yang mampu mencari uang, tetapi belum mampu mengelola amarah.

    Menikah mempertemukan dua manusia yang sama-sama punya masa lalu, luka, kebiasaan, dan cara berpikir yang berbeda.

    Karena itu, memahami psikologi bukan berarti menjadi ahli terapi, Tetapi belajar mengenali diri sendiri.

    Belajar mendengar sebelum menjawab., Belajar memahami bahwa tidak semua masalah harus dimenangkan. Belajar bahwa pasangan bukan bawahan dan bukan pula lawan.

    Salah satu tanda seseorang siap menikah bukan karena ia berkata “saya siap”, Tetapi karena ia mampu berbeda tanpa marah, kecewa tanpa melukai, dan memimpin tanpa mengendalikan.
    Penutup
    Jangan terlalu cepat mencari siapa pasangan hidup kita.

    Tanyakan dulu, apakah diri kita sudah siap menjadi pasangan hidup seseorang?

    Karena pernikahan tidak dibangun oleh dua orang yang sempurna, Tetapi oleh dua orang yang mau terus belajar.

    Dan bagi seorang laki-laki, persiapan terbaik sebelum menikah sering kali bukan menambah anggaran resepsi, Tetapi menambah ilmu.

    Sebab mahar dibayar sekali. Sedangkan menjadi suami dibayar dengan ilmu.

  • QAWWAM: AMANAH KEPEMIMPINAN DALAM KELUARGA

    Islam memandang keluarga sebagai pondasi utama kehidupan masyarakat. Karena itu, syariat memberikan aturan yang jelas tentang tanggung jawab setiap anggota keluarga, terutama peran seorang suami sebagai pemimpin rumah tangga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ
    Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya. [An-Nisa/4: 34]

    Makna Qawwam dalam Islam

    Kata qawwam berasal dari akar kata yang berarti berdiri tegak, menjaga, mengurus, dan melaksanakan sesuatu dengan sungguh-sungguh hingga sempurna. Suami adalah qawwaam sebagai kepala keluarga, suami bertanggung jawab untuk melindungi, mengayomi, mengurusi, dan mengupayakan kemaslahatan keluarga.

    Seorang suami bukan hanya kepala rumah tangga secara administratif, melainkan pemikul amanah besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Tanggung jawab seorang suami bukan hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi juga terhadap istri dan anak-anaknya. Allah berfirman:

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ٦
    Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [at-Tahrim/66: 6]

    Inilah hakikat kepemimpinan dalam Islam. Seorang suami bertanggung jawab menjaga keluarganya agar tetap berada di jalan Allah dan selamat dari api neraka.

    Kepemimpinan Bukan Kesewenang-wenangan

    Ketika seorang suami memahami dirinya sebagai qawwam, maka ia tidak akan bersikap semena-mena terhadap istri dan anak-anaknya.

    Ia sadar bahwa keluarga bukanlah miliknya, melainkan amanah dari Allah. Karena itu, kepemimpinan dalam Islam bukan alat untuk menindas, melainkan sarana untuk melayani, membimbing, dan menjaga.

    Seorang suami yang memahami amanahnya akan berusaha untuk

    • Memperbaiki kualitas ibadahnya,
    • Menambah ilmu agamanya,
    • Memperkuat akhlaknya,
    • Menjadi teladan bagi keluarganya.

    Ia memahami bahwa keselamatan keluarganya sangat bergantung pada kesungguhan dirinya dalam menjalankan amanah tersebut.

    Keutamaan Laki-Laki sebagai Amanah

    Allah menjelaskan sebab laki-laki menjadi qawwam; “Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.” [An-Nisa/4: 34].

    Kelebihan yang Allah berikan kepada laki-laki bukanlah alasan untuk sombong atau merasa lebih tinggi. Justru kelebihan itu adalah amanah dan tanggung jawab.

    Pada umumnya, laki-laki memiliki kemampuan menghadapi berbagai persoalan secara bersamaan, terutama dalam urusan-urusan publik dan tanggung jawab sosial. Namun semua kelebihan itu bukan untuk membanggakan diri. Karena itulah ayat ini ditutup dengan pengingat tentang sifat Allah: “Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

    Pesannya sangat jelas: jangan sampai kelebihan yang diberikan Allah melahirkan kesombongan. Sebab kesombongan justru merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah Allah.

    Nafkah: Bukti Tanggung Jawab Seorang Suami

    Allah melanjutkan firman-Nya: “Dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” [An-Nisa/4: 34]

    Ayat ini menegaskan bahwa salah satu bentuk tanggung jawab seorang suami adalah memberikan nafkah kepada keluarganya.
    Nafkah bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi bagian dari ibadah dan pengorbanan seorang laki-laki demi keluarganya.

    Menariknya, Al-Qur’an menggunakan kata “min amwalihim” — sebagian dari harta mereka. Ini menunjukkan bahwa seorang suami harus memiliki kesungguhan dalam bekerja dan mencari rezeki agar kebutuhan keluarganya tercukupi dengan layak.

    Karena itu, seorang suami tidak boleh bermalas-malasan dalam mencari nafkah. Ia harus berikhtiar sekuat tenaga demi menjaga kehormatan dan kesejahteraan keluarganya.

    Nafkah kepada Keluarga adalah Sedekah Terbaik

    Banyak orang bersemangat bersedekah kepada orang lain, tetapi lupa memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa nafkah kepada keluarga termasuk sedekah yang paling utama. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    أَفْضَلُ الدِّينَارِ دِينَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ
    “Dinar yang paling utama adalah dinar yang dibelanjakan seseorang untuk keluarganya.” (HR. Muslim)

    Bahkan setiap makanan yang diberikan seorang suami kepada istrinya bernilai pahala di sisi Allah. Karena itu, memenuhi kebutuhan keluarga tidak boleh dianggap sebagai beban semata. Ia adalah amal saleh yang bernilai sedekah.

    Mendidik Keluarga untuk Gemar Bersedekah

    Keluarga yang baik bukan hanya keluarga yang tercukupi kebutuhan materinya, tetapi juga yang tumbuh dalam semangat berbagi.

    Seorang suami hendaknya mendidik istrinya untuk gemar bersedekah. Ketika seorang istri menggunakan sebagian harta keluarga untuk membantu orang tua, saudara, tetangga, atau orang yang membutuhkan, maka suami pun ikut mendapatkan pahala selama ia meridhainya. Dengan demikian, rumah tangga menjadi ladang amal yang penuh keberkahan.

    Menjadi Qawwam yang Diridhai Allah

    Menjadi Qawwam bukan sekadar menjadi pengambil keputusan dalam rumah tangga. Lebih dari itu, seorang suami harus menjadi:

    Pelindung bagi keluarganya,
    Pembimbing menuju kebaikan,
    Penanggung jawab kebutuhan lahir dan batin,
    Teladan dalam ibadah dan akhlak.

    Kepemimpinan dalam Islam dibangun di atas amanah, kasih sayang, dan tanggung jawab, bukan kekuasaan dan kesewenang-wenangan.

    Semakin besar amanah yang Allah berikan kepada seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya di hadapan Allah kelak.

    Ayat tentang qawwam mengajarkan bahwa kepemimpinan seorang laki-laki dalam keluarga adalah amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan ketakwaan.

    Keutamaan yang Allah berikan kepada laki-laki bukanlah alasan untuk berlaku sombong, melainkan dorongan untuk lebih sungguh-sungguh menjaga keluarga, memenuhi nafkah, serta membimbing istri dan anak-anak menuju ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Semoga Allah menjadikan para suami sebagai pemimpin keluarga yang amanah, lembut dalam membimbing, kuat dalam menjaga, dan ikhlas dalam berkorban demi keluarganya.

  • Keutamaan Hari Jum’at: Momentum Memperbaiki Diri dan Memperbanyak Doa

    www.itmi.or.id, Ada suasana yang berbeda ketika hari Jum’at datang.

    Sejak pagi, nuansanya terasa lebih tenang. Masjid mulai ramai. Lantunan sholawat terdengar lebih sering. Banyak orang mengenakan pakaian terbaiknya untuk menunaikan shalat Jum’at.

    Bagi umat Islam, Jum’at bukan sekadar penanda akhir pekan. Ia adalah hari istimewa yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahkan menyebut Jum’at sebagai hari terbaik di antara hari-hari lainnya.

    Hari Terbaik dalam Islam

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    Sebaik-baik hari di mana matahari terbit adalah hari Jum’at.

    (HR. Muslim)

    Hadits ini menunjukkan bahwa Jum’at memiliki kemuliaan yang tidak dimiliki hari lainnya. Dalam sejarah manusia, banyak peristiwa besar terjadi pada hari Jum’at.

    Disebutkan bahwa Nabi Adam ‘Alaihissalam diciptakan pada hari Jum’at, dimasukkan ke surga pada hari Jum’at, dan diturunkan ke bumi juga pada hari Jum’at.

    Karena itu, tidak heran jika para ulama menyebut Jum’at sebagai hari raya mingguan bagi umat Islam.

    Ada Waktu Mustajab untuk Berdoa

    Salah satu keistimewaan hari itu adalah adanya waktu mustajab, yaitu waktu di mana doa-doa sangat berpeluang dikabulkan oleh Allah.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    Pada hari Jum’at terdapat satu waktu, apabila seorang muslim memohon kebaikan kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya.

    (HR. Bukhari dan Muslim)

    Para ulama berbeda pendapat mengenai kapan tepatnya waktu tersebut. Namun banyak yang berpendapat bahwa waktu mustajab itu berada di akhir waktu Ashar menjelang Maghrib.
    Karena itu hari Jum’at seharusnya tidak hanya diisi dengan rutinitas dunia, tetapi juga diperbanyak dengan doa dan mendekatkan diri kepada Allah.

    Anjuran Memperbanyak Sholawat

    Hari Jum’at juga menjadi waktu yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
    Rasulullah bersabda:

    Perbanyaklah sholawat kepadaku pada hari Jum’at dan malam Jum’at.

    (HR. Al-Baihaqi)

    Sholawat bukan hanya bentuk cinta kepada Rasulullah, tetapi juga jalan mendapatkan keberkahan dan ketenangan hati.

    Di tengah kehidupan yang penuh kesibukan dan tekanan hari ini, memperbanyak shalawat bisa menjadi pengingat bahwa hidup bukan hanya soal urusan dunia.

    Momentum Memperbaiki Diri

    Hari Jum’at juga sering menjadi momentum bagi seorang muslim untuk kembali mengevaluasi dirinya.

    Mungkin selama sepekan kita terlalu sibuk, Terlalu lelah mengejar urusan dunia, , Terlalu banyak melakukan kesalahan. Atau terlalu jauh dari Al-Qur’an dan masjid.

    Lalu Jum’at datang seperti pengingat lembut agar hati kembali pulang kepada Allah.

    Ketika adzan Jum’at berkumandang, sebenarnya Allah sedang memanggil hamba-hamba-Nya untuk berhenti sejenak dari urusan dunia dan mengingat-Nya.

    Sunnah-Sunnah yang Dianjurkan di Hari Jum’at

    Ada beberapa amalan sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan pada hari Jum’at, di antaranya:

    • mandi Jum’at,
    • memakai pakaian terbaik,
    • menggunakan wewangian,
    • membaca Surah Al-Kahfi,
    • memperbanyak dzikir dan shalawat,

    • serta datang lebih awal ke masjid.

    Amalan-amalan ini bukan sekadar rutinitas, tetapi bagian dari adab seorang muslim dalam memuliakan hari Jum’at.

    Yuk, tetap semangat raih kemulyaan dan keutamaan dihari ini. Dengan cara kita, dengan cara yang terbaik dan sesuai dengan kesanggupan kita. Semoga Allah mudahkan. Aamiin