Tag: islam

  • PP ITMI Kecam Dugaan Penistaan Nabi oleh Abah Setu, Minta Umat Percayakan Proses Hukum

    Cimahi, itmi.or.id – Pengurus Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PP ITMI) mengecam pernyataan Asep Setiawan alias Abah Setu yang menjadi polemik karena dinilai menghina Nabi Muhammad ﷺ.

    PP ITMI mendukung aparat penegak hukum mengusut perkara tersebut hingga tuntas, sekaligus meminta umat Islam tetap tenang dan tidak melakukan tindakan main hakim sendiri.

    Ketua Umum PP ITMI Ust. H. Yogi Madsuni mengatakan, Nabi Muhammad ﷺ merupakan suri teladan bagi umat Islam sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 21.

    Karena itu, umat Islam memiliki kewajiban menghormati Rasulullah ﷺ dan mengikuti ajaran yang dibawanya.

    “Pertama bahwa kita tahu, sebagai umat Islam Rasulullah itu sebagai suri teladan, sebagaimana dalam Surah Al-Ahzab, laqad kana lakum fi rasulillahi uswatun hasanah. Ketika Rasulullah sudah memberi kabar kepada manusia, maka kita harus tunduk karena ajarannya sudah benar. Salah satu ajaran Islam itu taat kepada Allah dan Rasul-Nya,” kata Ust. H. Yogi Madsuni kepada Redaksi ITMI melalui sambungan telepon, Senin (14/9/2026).

    Menurut Ust. H. Yogi Madsuni, pernyataan Abah Setu yang antara lain menyinggung peristiwa ketika Rasulullah ﷺ dilempari batu tidak dapat digunakan untuk merendahkan kedudukan Rasulullah.

    “Menurut saya ini penistaan. Sampai disebut Rasulullah dilempari batu tidak melawan. Padahal itu ujian kesabaran bagi Rasulullah, bukan karena semata-mata Rasulullah itu lemah,” ujarnya.

    Atas polemik tersebut, Ust. H. Yogi Madsuni menyatakan PP ITMI mendukung aparat penegak hukum melakukan pengusutan secara tuntas.

    “Ketika ada penghinaan itu tentunya kita mendukung para pihak berwajib untuk dapat mengusut tuntas ini semua,” katanya.

    Soroti Klaim Rekayasa AI

    Kasus Abah Setu mencuat setelah potongan video pernyataannya beredar luas di media sosial.

    Dalam klarifikasi awal kepada kepolisian, Abah Setu membantah telah menghina Nabi Muhammad ﷺ dan menduga sebagian rekaman yang beredar telah diedit atau diubah menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

    Namun Belakangan, Abah Setu menyampaikan permohonan maaf dan mengakui kekeliruannya dalam forum klarifikasi dan mediasi di Polres Metro Bekasi. Perkara tersebut juga telah dilaporkan masyarakat kepada kepolisian.

    Ust. H. Yogi Madsuni menilai permohonan maaf memang patut dihargai.

    Namun, permohonan maaf tersebut tidak serta-merta menghilangkan dugaan pelanggaran yang telah dilaporkan.

    “Minta maaf sudah, tapi tidak lantas membebaskan dari dugaan penistaan agama. Biarkan pihak berwajib yang mengusut,” tegasnya.

    Ia juga menyoroti perubahan keterangan mengenai dugaan rekayasa AI. Menurutnya, klaim tersebut perlu menjadi bagian yang diperhatikan dalam pengusutan perkara.

    “Terkait adanya pernyataan dari terduga bahwa itu buatan AI, kemudian diklarifikasi berikutnya diakui olehnya, jelas ya, itu merupakan suatu kebohongan,” kata Ust. H. Yogi Madsuni.

    PP ITMI mendorong aparat penegak hukum dan pihak yang memiliki kompetensi di bidang forensik digital untuk memastikan keaslian serta konteks rekaman yang beredar secara objektif.

    Ust. Heppi: Umat Islam Wajib Punya Sikap

    Ketua Bidang II PP ITMI Ust. H. Heppi Septian, S.Ag. turut memberikan tanggapan. Melalui pesan suara WhatsApp kepada tim Media Officer ITMI pada hari yang sama, ia mengatakan umat Islam wajib memiliki sikap ketika Nabi Muhammad ﷺ dihina. Namun, reaksi tersebut harus tetap berada dalam koridor hukum yang berlaku di Indonesia.

    “Umat Islam wajib marah. Tapi tentunya berlandaskan dengan konstitusi yang berlaku di negara kita. Bagi kita umat Islam, Rasulullah teladan kita. Rasulullah adalah qudwah kita. Beliau mulia karena dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau suci, ma’sum karena Allah,” ujar Ust. Heppi.

    Ust. Heppi kemudian merujuk Surah Al-Kahfi ayat 110 yang menjelaskan sisi kemanusiaan Nabi Muhammad ﷺ sekaligus kedudukannya sebagai Rasul yang menerima wahyu dari Allah.

    “Dari sisi lain, Rasulullah juga manusia biasa seperti kita. Seperti yang Allah firmankan dalam Surah Al-Kahfi, bahwa aku ini manusia seperti kalian juga. Bedanya aku diberi wahyu,” katanya.

    Menurut Ust. Heppi, umat Islam tidak semestinya bersikap acuh ketika kehormatan Rasulullah ﷺ direndahkan.

    “Kalau ada umat Islam yang tidak bereaksi, yang diam-diam saja atas penghinaan Abah Setu terhadap Rasulullah, wajib untuk dipertanyakan keimanannya,” ujarnya.

    Ust. Heppi juga merujuk hadis tentang kewajiban seorang Muslim menyikapi kemungkaran sesuai dengan kemampuan. Menurutnya, dalam konteks kehidupan bernegara, tindakan melalui kewenangan berada di tangan pemerintah dan aparat penegak hukum.

    “Apabila kalian dapati suatu kemungkaran di hadapan kalian, maka hentikan kemungkaran itu dengan tangan kalian, dengan wewenang yang ada pada kalian. Tentu itu tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam konteks NKRI,” katanya.

    Bagi masyarakat yang tidak memiliki kewenangan tersebut, lanjut Ust. Heppi, sikap dapat diwujudkan melalui lisan dan dakwah.

    “Kalau kalian tidak bisa karena kalian bukan orang pemerintahan, maka kalian lakukan dengan lisan dan berdakwah. Dengan membuat pernyataan sikap, mendorong pemerintah dan mendukung untuk diusut,” ujarnya.

    Atas dasar itu, Ust. Heppi menilai ITMI sebagai organisasi yang menaungi tunanetra Muslim di Indonesia juga perlu menyampaikan sikap.

    “Semua orang Islam harus punya sikap atas penghinaan kepada Rasulullah. ITMI juga wajib bersikap atas itu semua,” tegasnya.

    Ust. H. Yogi Madsuni Minta Jajaran ITMI Tetap Tenang

    Di tengah polemik tersebut, Ust. H. Yogi Madsuni secara khusus berpesan kepada Pengurus Wilayah, Pengurus Daerah, serta jemaah ITMI di seluruh Indonesia agar tidak melakukan penghakiman sendiri.

    “Pesan kami untuk Pengurus Wilayah dan Daerah se-Indonesia, juga jemaah ITMI, agar kita tidak perlu menghakimi. Biarkan pihak berwajib yang menangani. Kita tetap tenang,” pesannya.

    Ia juga mengajak umat menjadikan peristiwa tersebut sebagai pelajaran untuk lebih berhati-hati menjaga ucapan. Pesan itu tidak hanya berkaitan dengan kasus Abah Setu, tetapi juga dalam menyikapi perbedaan pendapat dan amalan di tengah umat Islam.

    “Ke depannya kita menjaga lisan. Termasuk apabila berbeda pendapat, jangan langsung mencela. Hanya karena beda amalan, kita mencela. Janganlah, itu saya kira,” ujar Ust. H. Yogi Madsuni.

    Ust. H. Yogi Madsuni menutup pesannya dengan mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan dan mengedepankan kelembutan dalam berdakwah.

    “Ayo kita jaga dakwah, ukhuwah dan jam’iyah kita. Dakwah itu dengan kelembutan. Itu yang terpenting,” pungkas Ust. H. Yogi Madsuni.

  • Pentingnya Adab Dan Akhlaq Sebelum Ilmu

    Itmi.or.id, Di era digital seperti sekarang, mencari ilmu menjadi semakin mudah.

    Ceramah dapat ditonton melalui Gatget, kitab tersedia dalam bentuk digital, dan berbagai penjelasan agama dapat diakses hanya dengan beberapa sentuhan jari saja.

    Namun, kemudahan itu ternyata tidak selalu melahirkan keberkahan.

    Tidak sedikit orang yang semakin banyak ilmunya, tetapi justru semakin mudah meremehkan orang lain, gemar berdebat, bahkan merasa paling benar.

    Fenomena ini mengingatkan kita pada satu prinsip penting dalam Islam, yaitu adab didahulukan sebelum ilmu.

    Para ulama sejak dahulu tidak hanya mengajarkan bagaimana memahami Al-Qur’an dan hadis, tetapi juga bagaimana bersikap ketika menuntut ilmu. Sebab, ilmu yang tidak dibarengi adab dapat menjadi sebab munculnya kesombongan, sedangkan adab akan mengantarkan seseorang memperoleh ilmu yang bermanfaat.

    Adab adalah Pintu Masuk Ilmu

    Dalam tradisi keilmuan Islam, adab memiliki kedudukan yang sangat tinggi.

    Adab bukan sekadar sopan santun dalam berbicara, tetapi mencakup cara menghormati guru, memuliakan ilmu, menjaga niat, menghargai sesama penuntut ilmu, hingga menempatkan sesuatu pada tempatnya.

    Seorang murid yang datang kepada gurunya dengan hati yang tawadhu akan lebih mudah menerima pelajaran dibandingkan orang yang datang dengan perasaan sudah mengetahui segalanya.

    Karena itu, banyak ulama mengajarkan bahwa sebelum seseorang sibuk menghafal banyak kitab, ia harus terlebih dahulu memperbaiki adabnya.

    Para Ulama Lebih Dahulu Mempelajari Adab

    Abdullah bin Mubarak rahimahullah pernah berkata:

    “Kami mempelajari adab selama tiga puluh tahun, kemudian mempelajari ilmu selama dua puluh tahun.”

    Ungkapan tersebut bukan berarti ilmu tidak penting.

    Justru sebaliknya, beliau ingin menunjukkan bahwa adab merupakan fondasi yang akan menjaga ilmu agar menjadi manfaat, bukan musibah.

    Begitu pula Imam Malik rahimahullah pernah berpesan kepada seorang pemuda Quraisy agar mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu.

    Nasihat tersebut menjadi bukti bahwa para ulama salaf sangat memperhatikan pembentukan akhlak sebelum memperbanyak pengetahuan.

    Ilmu Tanpa Adab Dapat Menjadi Fitnah

    Ilmu adalah cahaya. Namun, cahaya itu bisa redup apabila berada di dalam hati yang dipenuhi kesombongan.

    Kita sering menjumpai seseorang yang pandai menyampaikan dalil, tetapi lisannya mudah menyakiti orang lain.

    Ada pula yang hafal banyak hadis, tetapi gemar merendahkan pendapat saudaranya.

    Bahkan, tidak sedikit orang yang baru mempelajari sedikit ilmu sudah berani menyalahkan para ulama.

    Padahal, tujuan ilmu bukan untuk memenangkan perdebatan, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki akhlak.

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

    Hadis tersebut menunjukkan bahwa akhlak merupakan bagian penting dalam risalah Islam. Maka, tidak pantas apabila seseorang mengaku menuntut ilmu agama, tetapi justru kehilangan kelembutan dalam bersikap.

    Menghormati Guru adalah Bagian dari Adab

    Salah satu bentuk adab yang mulai dilupakan adalah menghormati guru.

    Guru bukan hanya orang yang menyampaikan materi. Ia adalah perantara sampainya ilmu kepada kita. Oleh karena itu, para ulama terdahulu sangat menjaga adab terhadap guru mereka.

    Mereka tidak memotong pembicaraan gurunya, tidak mengangkat suara di hadapannya, tidak tergesa-gesa menyanggah, bahkan merasa malu apabila duduk dengan sikap yang tidak sopan ketika belajar.

    Menghormati guru bukan berarti mengkultuskannya. Seorang guru tetaplah manusia yang dapat melakukan kesalahan. Namun, penghormatan terhadap guru merupakan bentuk penghormatan kepada ilmu yang dibawanya.

    Menjaga Niat dalam Menuntut Ilmu

    Adab juga dimulai dari niat.

    Mengapa seseorang belajar agama? Apakah untuk mencari ridha Allah atau sekadar ingin dianggap pintar?

    Niat yang benar akan melahirkan kerendahan hati. Sebaliknya, niat yang keliru akan menjadikan ilmu sebagai alat untuk mencari popularitas, pengikut, kedudukan, atau pujian manusia.

    Karena itu, para ulama selalu mengingatkan agar niat terus diperbaiki. Menuntut ilmu adalah ibadah. Sebagaimana ibadah lainnya, ia harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah.

    Buah dari Adab

    Orang yang menjaga adab akan lebih mudah menerima nasihat. Ia tidak malu mengakui kesalahan, tidak gengsi bertanya ketika belum memahami sesuatu, dan tidak merasa dirinya paling benar.

    Sebaliknya, orang yang kehilangan adab biasanya sulit menerima kebenaran apabila datang dari orang lain. Ia lebih sibuk mempertahankan pendapat daripada mencari mana yang paling benar.

    Inilah sebabnya adab sering disebut sebagai wadah bagi ilmu. Semakin baik wadahnya, semakin baik pula ilmu yang tersimpan di dalamnya.

    Ilmu yang disertai adab akan melahirkan akhlak yang baik. Sebaliknya, pengetahuan yang tidak disertai kerendahan hati dapat menjerumuskan seseorang kepada kesombongan.

    Mulailah dari Hal-Hal Sederhana

    Adab bukan sesuatu yang hanya dibahas di dalam kitab-kitab klasik. Ia harus tampak dalam kehidupan sehari-hari.

    Mengucapkan salam ketika datang ke majelis, mendengarkan ketika orang lain berbicara, tidak memotong penjelasan guru, menjaga lisan di media sosial, menghargai perbedaan pendapat dalam masalah ijtihad, serta mengamalkan ilmu yang telah dipelajari merupakan bagian dari adab seorang Muslim.

    Sering kali seseorang ingin mengetahui pembahasan yang tinggi dan rumit, tetapi melupakan adab yang paling dasar. Padahal, keberkahan ilmu justru dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan istiqamah.
    Membaca Al-Qur’an, mempelajari hadis, dan mendengarkan penjelasan para ulama perlu dibarengi dengan kesediaan untuk memperbaiki akhlak.

    Sebab, ukuran keberhasilan dalam belajar bukan hanya banyaknya pengetahuan, tetapi juga perubahan sikap setelah memperoleh ilmu.

    Jangan Sampai Ilmu Menjauhkan Kita dari Akhlak

    Semakin banyak ilmu yang dimiliki, semestinya semakin lembut pula perkataan seseorang. Semakin luas pengetahuannya tentang Al-Qur’an dan hadis, seharusnya semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah.

    Apabila bertambahnya pengetahuan justru membuat seseorang mudah menghina, merendahkan, dan menganggap dirinya paling benar, berarti ada yang perlu diperbaiki dalam cara ia menuntut ilmu.

    Adab akan menjaga seseorang agar tidak menggunakan ilmu untuk menyerang orang lain. Akhlak yang baik juga membuat ilmu terasa menyejukkan, bukan menakutkan atau menjauhkan orang dari agama.

    Penutup

    Di zaman ketika informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik, adab justru menjadi sesuatu yang semakin mahal nilainya.

    Banyak orang mampu mengutip ayat Al-Qur’an dan hadis, tetapi belum tentu mampu mengendalikan lisan, menjaga hati, atau menghormati guru.

    Karena itu, mari jangan hanya berdoa agar Allah menambah ilmu kita. Mohonlah juga agar Allah menghiasi diri kita dengan adab dan akhlak yang mulia.
    Sebab, ilmu yang bermanfaat lahir dari hati yang bersih, niat yang lurus, serta akhlak yang baik.

    Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tidak hanya bersemangat mencari ilmu, tetapi juga dimuliakan dengan adab. Semoga apa yang kita pelajari dari Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan para ulama benar-benar menjadi cahaya bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
    Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

  • Laki-laki Wajib Tahu, Ini 4 Ilmu yang Harus Dipelajari Sebelum Menikah

    Itmi.or.id, Ada banyak laki-laki yang merasa siap menikah ketika sudah memiliki pekerjaan, tabungan, atau usia yang dianggap cukup. Padahal pernikahan bukan sekadar soal kesiapan menggelar akad, melainkan kesiapan menjalani kehidupan setelah akad itu selesai.

    Akad hanya berlangsung mungkin 10 menit. Tetapi menjadi suami berlangsung bertahun-tahun, bahkan seumur hidup.

    Karena itu, sebelum sibuk mencari pasangan yang tepat, ada pertanyaan yang lebih penting untuk dijawab:

    “Apakah saya sudah menyiapkan diri menjadi suami?”

    Dalam Islam, pernikahan adalah ibadah sekaligus amanah. Maka persiapannya tidak cukup hanya finansial, tetapi juga ilmu.

    Ilmu Agama

    Banyak laki-laki semangat mencari pasangan, tetapi belum pernah duduk serius mempelajari ilmu rumah tangga. Kita sering diajarkan bagaimana mencari nafkah, tetapi jarang diajarkan bagaimana menjadi suami.

    Padahal rumah tangga yang baik tidak dibangun oleh cinta saja, melainkan, Rumah tangga juga dibangun oleh ilmu Agama.

    Sebelum menikah, seorang laki-laki perlu memahami bagaimana menjaga dirinya sebelum pernikahan. Menjaga pandangan, menjaga batas interaksi, dan tidak menjadikan proses menuju pernikahan sebagai ruang melanggar syariat dengan alasan

    “sedang saling mengenal”.

    Menikah juga berarti siap memahami hak dan kewajiban. Bagaimana cara menafkahi, memimpin, bermusyawarah, dan menyelesaikan konflik. Termasuk memahami bahwa dalam Islam ada ucapan-ucapan tertentu yang tidak boleh dipermainkan.

    Tidak sedikit rumah tangga terguncang bukan karena niat bercerai, tetapi karena suami tidak memahami bahwa sebagian ucapan memiliki konsekuensi hukum. Mengatakan

    “sudah, kita pisah saja”

    , atau kalimat serupa saat marah bukan perkara ringan. Karena itu, ilmu fikih rumah tangga perlu dipelajari sebelum akad, bukan setelah masalah muncul.

    Persiapan agama juga berarti menyiapkan hati menerima takdir. Tidak semua pasangan akan langsung diberi anak. Ada yang diuji dengan kondisi kesehatan, ada yang diuji dengan keterbatasan ekonomi, ada yang diuji dengan penantian panjang.

    Menikah bukan akad untuk membeli masa depan yang ideal. Menikah adalah kesiapan menemani seseorang dalam keadaan yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

    Di titik inilah pembicaraan sebelum menikah menjadi penting. Bukan untuk saling curiga, tetapi untuk menyamakan harapan, memahami kondisi masing-masing, dan membicarakan hal-hal yang berpotensi menjadi masalah di kemudian hari.

    Ilmu Parenting

    Banyak orang mengira ilmu mendidik anak, atau ilmu parenting bisa dipelajari nanti setelah anak lahir.

    Padahal ketika anak hadir, orang tua sering kali tidak lagi punya banyak waktu untuk mulai dari nol.

    Menjadi ayah bukan hanya soal bekerja lalu membawa pulang uang. Menjadi ayah adalah membentuk manusia.

    Di era digital seperti sekarang, tantangan membesarkan anak jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya. Anak-anak tumbuh bersama layar, algoritma, dan banjir informasi yang tidak selalu sehat.

    Karena itu, laki-laki yang ingin menikah sebaiknya mulai belajar tentang perkembangan anak, komunikasi keluarga, cara membangun kedekatan emosional, dan bagaimana menghadirkan teknologi tanpa menjadikannya pusat kehidupan.

    Anak tidak hanya belajar dari nasihat.

    Anak belajar dari kebiasaan orang tuanya.

    Jika ayah sibuk dengan ponsel sepanjang waktu, anak akan tumbuh dengan pemahaman bahwa Handphone lebih penting daripada percakapan dengannya.

    Rumah yang baik bukan rumah yang bebas internet. Tetapi rumah yang punya arah.

    Ilmu Kesehatan

    Pernikahan mempertemukan dua orang, tetapi juga mempertemukan dua kondisi kesehatan.

    Banyak pasangan yang baru membicarakan kesehatan ketika masalah sudah datang. Padahal banyak hal bisa dipersiapkan lebih awal.

    Laki-laki perlu memahami pentingnya menjaga pola makan, tidur, kesehatan reproduksi, kebugaran, serta pemeriksaan kesehatan sebelum menikah.

    Bukan untuk mencari pasangan yang sempurna, Tetapi agar pasangan dapat saling memahami kondisi satu sama lain.

    Kadang yang terlihat seperti masalah komunikasi ternyata akar persoalannya adalah kelelahan, stres, atau tubuh yang tidak pernah diberi kesempatan pulih.

    Tubuh yang sehat bukan tujuan hidup, Tetapi ia adalah kendaraan untuk menjalankan amanah.

    Ilmu Psikologi

    Ada laki-laki yang siap menikah secara ekonomi, tetapi belum siap secara emosi.

    Ada yang mampu memimpin pekerjaan, tetapi tidak mampu memimpin percakapan.

    Ada yang mampu mencari uang, tetapi belum mampu mengelola amarah.

    Menikah mempertemukan dua manusia yang sama-sama punya masa lalu, luka, kebiasaan, dan cara berpikir yang berbeda.

    Karena itu, memahami psikologi bukan berarti menjadi ahli terapi, Tetapi belajar mengenali diri sendiri.

    Belajar mendengar sebelum menjawab., Belajar memahami bahwa tidak semua masalah harus dimenangkan. Belajar bahwa pasangan bukan bawahan dan bukan pula lawan.

    Salah satu tanda seseorang siap menikah bukan karena ia berkata “saya siap”, Tetapi karena ia mampu berbeda tanpa marah, kecewa tanpa melukai, dan memimpin tanpa mengendalikan.
    Penutup
    Jangan terlalu cepat mencari siapa pasangan hidup kita.

    Tanyakan dulu, apakah diri kita sudah siap menjadi pasangan hidup seseorang?

    Karena pernikahan tidak dibangun oleh dua orang yang sempurna, Tetapi oleh dua orang yang mau terus belajar.

    Dan bagi seorang laki-laki, persiapan terbaik sebelum menikah sering kali bukan menambah anggaran resepsi, Tetapi menambah ilmu.

    Sebab mahar dibayar sekali. Sedangkan menjadi suami dibayar dengan ilmu.