Assalamu'alaykum Ikhwah Fillah,


Komplek Cijerah II, Blok I KSB 5 Sukaasih RT. 01 RW. 31, Kel. Melong Kec. Cimahi Selatan, Cimahi 40534 Telepon 022 6000 173

IKATAN TUNANETRA MUSLIM INDONESIA

Sekilas Tentang ITMI

IKATAN TUNANETRA MUSLIM INDONESIA, Yang selanjutnya disingkat menjadi
ITMI, adalah organisasi kemasyarakatan
Tunanetra berskala nasional yang mengusung visi
Izul Islam Wal Muslimin Wal Ma'fufin (Kemuliaan Agama Islam, Kaum Muslimin dan Kaum Tunanetra).

Sejarah Singkat ITMI

Atas prakarsa Yayasan Himpunan Tunanetra Islam dan Kelompok Tunanetra Islam Bandung, maka diselenggarakanlah sebuah pertemuan yang diberi nama
Musyawarah Nasional Tunanetra Islam (MUNASTI) di Lembang Kabupaten Bandung Barat pada tanggal 23-25 Muharam 1420 Hijriyah,
atau 9-11 Mei 1999 Masehi.
Dalam suasana yang dinamis, demokratis dan kekeluargaan yang dilandasi semangat Ukhuwah Islamiyah,
MUNASTI tersebut melahirkan sebuah Organisasi Tunanetra Muslim di Indonesia dengan nama Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI).

QAWWAM: AMANAH KEPEMIMPINAN DALAM KELUARGA

Bagikan Kepada Yang Lain

Islam memandang keluarga sebagai pondasi utama kehidupan masyarakat. Karena itu, syariat memberikan aturan yang jelas tentang tanggung jawab setiap anggota keluarga, terutama peran seorang suami sebagai pemimpin rumah tangga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ
Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya. [An-Nisa/4: 34]

Makna Qawwam dalam Islam

Kata qawwam berasal dari akar kata yang berarti berdiri tegak, menjaga, mengurus, dan melaksanakan sesuatu dengan sungguh-sungguh hingga sempurna. Suami adalah qawwaam sebagai kepala keluarga, suami bertanggung jawab untuk melindungi, mengayomi, mengurusi, dan mengupayakan kemaslahatan keluarga.

Seorang suami bukan hanya kepala rumah tangga secara administratif, melainkan pemikul amanah besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tanggung jawab seorang suami bukan hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi juga terhadap istri dan anak-anaknya. Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ٦
Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [at-Tahrim/66: 6]

Inilah hakikat kepemimpinan dalam Islam. Seorang suami bertanggung jawab menjaga keluarganya agar tetap berada di jalan Allah dan selamat dari api neraka.

Baca juga:  Hakikat Kurban: Ibadah Ketaatan dan Keikhlasan kepada Allah

Kepemimpinan Bukan Kesewenang-wenangan

Ketika seorang suami memahami dirinya sebagai qawwam, maka ia tidak akan bersikap semena-mena terhadap istri dan anak-anaknya.

Ia sadar bahwa keluarga bukanlah miliknya, melainkan amanah dari Allah. Karena itu, kepemimpinan dalam Islam bukan alat untuk menindas, melainkan sarana untuk melayani, membimbing, dan menjaga.

Seorang suami yang memahami amanahnya akan berusaha untuk

  • Memperbaiki kualitas ibadahnya,
  • Menambah ilmu agamanya,
  • Memperkuat akhlaknya,
  • Menjadi teladan bagi keluarganya.

Ia memahami bahwa keselamatan keluarganya sangat bergantung pada kesungguhan dirinya dalam menjalankan amanah tersebut.

Keutamaan Laki-Laki sebagai Amanah

Allah menjelaskan sebab laki-laki menjadi qawwam; “Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.” [An-Nisa/4: 34].

Kelebihan yang Allah berikan kepada laki-laki bukanlah alasan untuk sombong atau merasa lebih tinggi. Justru kelebihan itu adalah amanah dan tanggung jawab.

Pada umumnya, laki-laki memiliki kemampuan menghadapi berbagai persoalan secara bersamaan, terutama dalam urusan-urusan publik dan tanggung jawab sosial. Namun semua kelebihan itu bukan untuk membanggakan diri. Karena itulah ayat ini ditutup dengan pengingat tentang sifat Allah: “Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Pesannya sangat jelas: jangan sampai kelebihan yang diberikan Allah melahirkan kesombongan. Sebab kesombongan justru merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah Allah.

Baca juga:  Dari Ucapan Anak, Ipan Hidayatulloh Mantapkan Niat Berhaji

Nafkah: Bukti Tanggung Jawab Seorang Suami

Allah melanjutkan firman-Nya: “Dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” [An-Nisa/4: 34]

Ayat ini menegaskan bahwa salah satu bentuk tanggung jawab seorang suami adalah memberikan nafkah kepada keluarganya.
Nafkah bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi bagian dari ibadah dan pengorbanan seorang laki-laki demi keluarganya.

Menariknya, Al-Qur’an menggunakan kata “min amwalihim” — sebagian dari harta mereka. Ini menunjukkan bahwa seorang suami harus memiliki kesungguhan dalam bekerja dan mencari rezeki agar kebutuhan keluarganya tercukupi dengan layak.

Karena itu, seorang suami tidak boleh bermalas-malasan dalam mencari nafkah. Ia harus berikhtiar sekuat tenaga demi menjaga kehormatan dan kesejahteraan keluarganya.

Nafkah kepada Keluarga adalah Sedekah Terbaik

Banyak orang bersemangat bersedekah kepada orang lain, tetapi lupa memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa nafkah kepada keluarga termasuk sedekah yang paling utama. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

أَفْضَلُ الدِّينَارِ دِينَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ
“Dinar yang paling utama adalah dinar yang dibelanjakan seseorang untuk keluarganya.” (HR. Muslim)

Bahkan setiap makanan yang diberikan seorang suami kepada istrinya bernilai pahala di sisi Allah. Karena itu, memenuhi kebutuhan keluarga tidak boleh dianggap sebagai beban semata. Ia adalah amal saleh yang bernilai sedekah.

Mendidik Keluarga untuk Gemar Bersedekah

Keluarga yang baik bukan hanya keluarga yang tercukupi kebutuhan materinya, tetapi juga yang tumbuh dalam semangat berbagi.

Baca juga:  Keutamaan Hari Jum’at: Momentum Memperbaiki Diri dan Memperbanyak Doa

Seorang suami hendaknya mendidik istrinya untuk gemar bersedekah. Ketika seorang istri menggunakan sebagian harta keluarga untuk membantu orang tua, saudara, tetangga, atau orang yang membutuhkan, maka suami pun ikut mendapatkan pahala selama ia meridhainya. Dengan demikian, rumah tangga menjadi ladang amal yang penuh keberkahan.

Menjadi Qawwam yang Diridhai Allah

Menjadi Qawwam bukan sekadar menjadi pengambil keputusan dalam rumah tangga. Lebih dari itu, seorang suami harus menjadi:

Pelindung bagi keluarganya,
Pembimbing menuju kebaikan,
Penanggung jawab kebutuhan lahir dan batin,
Teladan dalam ibadah dan akhlak.

Kepemimpinan dalam Islam dibangun di atas amanah, kasih sayang, dan tanggung jawab, bukan kekuasaan dan kesewenang-wenangan.

Semakin besar amanah yang Allah berikan kepada seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya di hadapan Allah kelak.

Ayat tentang qawwam mengajarkan bahwa kepemimpinan seorang laki-laki dalam keluarga adalah amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan ketakwaan.

Keutamaan yang Allah berikan kepada laki-laki bukanlah alasan untuk berlaku sombong, melainkan dorongan untuk lebih sungguh-sungguh menjaga keluarga, memenuhi nafkah, serta membimbing istri dan anak-anak menuju ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga Allah menjadikan para suami sebagai pemimpin keluarga yang amanah, lembut dalam membimbing, kuat dalam menjaga, dan ikhlas dalam berkorban demi keluarganya.


Tentang Penulis

Avatar Ahmad Solihin, S.T.H.I

Baca Postingan Lainnya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bersatu, Berdaya, dan Berkembang Bersama Sesama Muslim Tunanetra

Jadilah bagian dari keluarga besar Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia
organisasi perjuangan, pemberdayaan, dan persaudaraan tunanetra muslim di seluruh Indonesia.

MANFAAT MENJADI ANGGOTA ITMI

Advokasi Dan Pendampingan

Mendapat dukungan advokasi hak-hak tunanetra dalam bidang pendidikan, pekerjaan, dan layanan publik.

Kartu Tanda Anggota resmi

Peroleh kartu tanda anggota (KTA) ITMI yang diakui secara nasional sebagai identitas resmi.

Solidaritas dan ukhuwah

Bergabung menjadi Bagian dari komunitas yang saling mendukung dalam keimanan, kehidupan sosial, dan kesejahteraan.

Informasi Dan Kegiatan

Dapatkan informasi terkini seputar kegiatan, beasiswa, lowongan kerja, dan program khusus tunanetra.

Pelajari Cara Mendaftar ↗️

CARA MENDAFTAR

Pelajari cara mendaftar dan mendapatkan KTAI (Kartu Tanda Anggota ITMI) Daftar Sekarang

Visi

Izul Islam Wal Muslimin Wal Ma’fufin (Kemuliaan Agama Islam, Kaum Muslimin dan Kaum Tunanetra

Misi

Untuk mewujudkan Visi tersebut, Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) memiliki Misi sebagai berikut :

Menegakkan Syari’at Islam.
Menjalin Ukhuwah Islamiah dengan berbagai pihak berlandaskan Al–Qur’an dan As-Sunnah.
Selengkapnya

Tujuan Organisasi

Dengan berdirinya ITMI, bertujuan untuk:
Menegakkan Syariat Islam.
Memperkuat Dakwah, Ukhuwah dan Jam’iah sehingga tercapai Kemuliaan Agama Islam Tunanetra Muslim dan Umat Islam.
Menjalin Ukhuwah Islamiah dengan berbagai pihak berlandaskan Al–Qur’an dan As-Sunnah.
Selengkapnya
Struktur Jenjang Organisasi
Kiprah & Kerjasama

Dalam melakukan kiprahnya, ITMI telah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, baik Pemerintah maupun non-pemerintah, LSM, Ormas, dan sebagainya.

Untuk menjaga keberlangsungan kiprahnya dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi umat, ITMI senantiasa membuka kerjasama dengan berbagai pihak.

Diantara kiprah dan kerjasama yang telah dan selalu dilakukan ITMI adalah :

Pembebasan buta huruf Al-Quran Braille.
Pendistribusian Al-Quran Braille.
Pendistribusian buku-buku Ke-Islaman.
Selengkapnya

Program-program
Penyusunan Modul/Pedoman berkaitan dengan peningkatan kemampuan keorganisasian untuk Pengurus Pusat, Wilayah, dan Daerah.
Menyelenggarakan kegiatan pembelajaran bahasa Arab.
Menyelenggarakan kegiatan Training of Trainer Al-Quran Braille.
Menyelenggarakan pelatihan Kewirausahaan, seperti Digital/Marketing Online, kerajinan tangan membuat manik-manik, keset, massage, dll.
Selengkapnya

Dukung Program ITMI

Program dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan tunanetra muslim berjalan berkat dukungan para dermawan. Partisipasi Anda membantu membuka kesempatan yang lebih luas bagi saudara-saudara tunanetra untuk belajar, berkarya, dan mandiri.

Ikuti Kegiatan Kami

Dapatkan kabar terbaru program dan kegiatan ITMI melalui media sosial.

Kalam Mutiara