Kategori: Artikel

  • Radio Suara ITMI: Dari Sejarah Radio Hingga Dakwah Tunanetra

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Radio adalah media komunikasi nirkabel yang telah hadir sejak akhir abad ke-19, berawal dari penemuan gelombang elektromagnetik oleh James Clerk Maxwell dan pembuktian oleh Heinrich Hertz. Perkembangan teknologi ini kemudian dimanfaatkan oleh Guglielmo Marconi yang mematenkan telegraf nirkabel pada 1896, hingga akhirnya radio menjadi media massa global pada 1920-an.

    Di Indonesia, sejarah radio dimulai pada 1925 dengan berdirinya Bataviase Radio Vereniging (BRV). Radio kemudian berkembang pesat, terutama setelah berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI) pada 11 September 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Radio Nasional.

    Sejak itu, radio menjadi sarana informasi, edukasi, hiburan, dan perjuangan bangsa.

    Lahirnya Radio Suara ITMI

    Pada 21 Mei 2021, lahirlah Radio Suara ITMI yang diprakarsai oleh Drs. Toto Sugihatno. Dengan moto: media, informasi, hiburan, dakwah, ukhuwah, dan jamiah.

    Perkembangan zaman menunjukkan banyak radio muslim bermunculan dengan menggunakan media radio sebagai sarana untuk menyampaikan dakwah.

    Di antaranya Radio Rodja, Radio MQ, Radio Silaturahim dan masih banyak radio-radio muslim lainnya.

    Oleh karena itu, ITMI pun tidak mau ketinggalan untuk membuat salah satu media radio yang memudahkan para jemaah ITMI, para pendengar di seluruh Indonesia dan di mancanegara dengan menggunakan streaming, melalui peralatan handphone, komputer, sehingga dapat dengan mudah mendengarkan radio dan mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh pusat, seperti pengajian dan program-program yang disampaikan oleh pusat serta hiburan, informasi, edukasi, dan yang lainnya.

    Radio Suara ITMI hadir sebagai:

    • Media dakwah untuk menyampaikan ajakan kebaikan.
    • Sarana informasi bagi program ITMI pusat, wilayah, dan daerah.
    • Hiburan Islami berupa musik, berita, dan kajian.
    • Pemberdayaan tunanetra sebagai wadah belajar broadcasting, manajemen radio, dan penyaluran bakat.

    Ajakan Dukungan

    Radio Suara ITMI mengajak:

    Pengusaha dan sponsor untuk bermitra mendukung program siaran.

    Donatur yang ingin beramal jariyah untuk program ITMI melalui media radio.

    Komunitas muslim untuk bersama menyebarkan ukhuwah dan dakwah.

    Dengan dukungan semua pihak, Radio Suara ITMI akan terus berkembang menjadi media dakwah, edukasi, dan hiburan yang bermanfaat bagi umat, baik di Indonesia maupun mancanegara.

  • Laki-laki Wajib Tahu, Ini 4 Ilmu yang Harus Dipelajari Sebelum Menikah

    Itmi.or.id, Ada banyak laki-laki yang merasa siap menikah ketika sudah memiliki pekerjaan, tabungan, atau usia yang dianggap cukup. Padahal pernikahan bukan sekadar soal kesiapan menggelar akad, melainkan kesiapan menjalani kehidupan setelah akad itu selesai.

    Akad hanya berlangsung mungkin 10 menit. Tetapi menjadi suami berlangsung bertahun-tahun, bahkan seumur hidup.

    Karena itu, sebelum sibuk mencari pasangan yang tepat, ada pertanyaan yang lebih penting untuk dijawab:

    “Apakah saya sudah menyiapkan diri menjadi suami?”

    Dalam Islam, pernikahan adalah ibadah sekaligus amanah. Maka persiapannya tidak cukup hanya finansial, tetapi juga ilmu.

    Ilmu Agama

    Banyak laki-laki semangat mencari pasangan, tetapi belum pernah duduk serius mempelajari ilmu rumah tangga. Kita sering diajarkan bagaimana mencari nafkah, tetapi jarang diajarkan bagaimana menjadi suami.

    Padahal rumah tangga yang baik tidak dibangun oleh cinta saja, melainkan, Rumah tangga juga dibangun oleh ilmu Agama.

    Sebelum menikah, seorang laki-laki perlu memahami bagaimana menjaga dirinya sebelum pernikahan. Menjaga pandangan, menjaga batas interaksi, dan tidak menjadikan proses menuju pernikahan sebagai ruang melanggar syariat dengan alasan

    “sedang saling mengenal”.

    Menikah juga berarti siap memahami hak dan kewajiban. Bagaimana cara menafkahi, memimpin, bermusyawarah, dan menyelesaikan konflik. Termasuk memahami bahwa dalam Islam ada ucapan-ucapan tertentu yang tidak boleh dipermainkan.

    Tidak sedikit rumah tangga terguncang bukan karena niat bercerai, tetapi karena suami tidak memahami bahwa sebagian ucapan memiliki konsekuensi hukum. Mengatakan

    “sudah, kita pisah saja”

    , atau kalimat serupa saat marah bukan perkara ringan. Karena itu, ilmu fikih rumah tangga perlu dipelajari sebelum akad, bukan setelah masalah muncul.

    Persiapan agama juga berarti menyiapkan hati menerima takdir. Tidak semua pasangan akan langsung diberi anak. Ada yang diuji dengan kondisi kesehatan, ada yang diuji dengan keterbatasan ekonomi, ada yang diuji dengan penantian panjang.

    Menikah bukan akad untuk membeli masa depan yang ideal. Menikah adalah kesiapan menemani seseorang dalam keadaan yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

    Di titik inilah pembicaraan sebelum menikah menjadi penting. Bukan untuk saling curiga, tetapi untuk menyamakan harapan, memahami kondisi masing-masing, dan membicarakan hal-hal yang berpotensi menjadi masalah di kemudian hari.

    Ilmu Parenting

    Banyak orang mengira ilmu mendidik anak, atau ilmu parenting bisa dipelajari nanti setelah anak lahir.

    Padahal ketika anak hadir, orang tua sering kali tidak lagi punya banyak waktu untuk mulai dari nol.

    Menjadi ayah bukan hanya soal bekerja lalu membawa pulang uang. Menjadi ayah adalah membentuk manusia.

    Di era digital seperti sekarang, tantangan membesarkan anak jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya. Anak-anak tumbuh bersama layar, algoritma, dan banjir informasi yang tidak selalu sehat.

    Karena itu, laki-laki yang ingin menikah sebaiknya mulai belajar tentang perkembangan anak, komunikasi keluarga, cara membangun kedekatan emosional, dan bagaimana menghadirkan teknologi tanpa menjadikannya pusat kehidupan.

    Anak tidak hanya belajar dari nasihat.

    Anak belajar dari kebiasaan orang tuanya.

    Jika ayah sibuk dengan ponsel sepanjang waktu, anak akan tumbuh dengan pemahaman bahwa Handphone lebih penting daripada percakapan dengannya.

    Rumah yang baik bukan rumah yang bebas internet. Tetapi rumah yang punya arah.

    Ilmu Kesehatan

    Pernikahan mempertemukan dua orang, tetapi juga mempertemukan dua kondisi kesehatan.

    Banyak pasangan yang baru membicarakan kesehatan ketika masalah sudah datang. Padahal banyak hal bisa dipersiapkan lebih awal.

    Laki-laki perlu memahami pentingnya menjaga pola makan, tidur, kesehatan reproduksi, kebugaran, serta pemeriksaan kesehatan sebelum menikah.

    Bukan untuk mencari pasangan yang sempurna, Tetapi agar pasangan dapat saling memahami kondisi satu sama lain.

    Kadang yang terlihat seperti masalah komunikasi ternyata akar persoalannya adalah kelelahan, stres, atau tubuh yang tidak pernah diberi kesempatan pulih.

    Tubuh yang sehat bukan tujuan hidup, Tetapi ia adalah kendaraan untuk menjalankan amanah.

    Ilmu Psikologi

    Ada laki-laki yang siap menikah secara ekonomi, tetapi belum siap secara emosi.

    Ada yang mampu memimpin pekerjaan, tetapi tidak mampu memimpin percakapan.

    Ada yang mampu mencari uang, tetapi belum mampu mengelola amarah.

    Menikah mempertemukan dua manusia yang sama-sama punya masa lalu, luka, kebiasaan, dan cara berpikir yang berbeda.

    Karena itu, memahami psikologi bukan berarti menjadi ahli terapi, Tetapi belajar mengenali diri sendiri.

    Belajar mendengar sebelum menjawab., Belajar memahami bahwa tidak semua masalah harus dimenangkan. Belajar bahwa pasangan bukan bawahan dan bukan pula lawan.

    Salah satu tanda seseorang siap menikah bukan karena ia berkata “saya siap”, Tetapi karena ia mampu berbeda tanpa marah, kecewa tanpa melukai, dan memimpin tanpa mengendalikan.
    Penutup
    Jangan terlalu cepat mencari siapa pasangan hidup kita.

    Tanyakan dulu, apakah diri kita sudah siap menjadi pasangan hidup seseorang?

    Karena pernikahan tidak dibangun oleh dua orang yang sempurna, Tetapi oleh dua orang yang mau terus belajar.

    Dan bagi seorang laki-laki, persiapan terbaik sebelum menikah sering kali bukan menambah anggaran resepsi, Tetapi menambah ilmu.

    Sebab mahar dibayar sekali. Sedangkan menjadi suami dibayar dengan ilmu.

  • Rezeki Sudah Dijamin, Risalah Kajian Al-Hikam Aa Gym

    Tulisan ini dibuat dari risalah kajian Al-Hikam Aagym yang berlangsung pada Kamis, 25 Dzulhijjah 1447 H/11/06/2026 m di Masjid Daarut Tauhiid Bandung Jl. Gegerkalong Girang No. 38, Isola, Kec. Sukasari, Kota Bandung.

    Kajian Al-Hikam kali ini secara khusus membahas tentang kondisi ekonomi yang menurut perhitungan manusia sedang terasa memburuk. Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, naiknya kebutuhan hidup, serta kekhawatiran banyak orang terhadap masa depan ekonomi, muncul pertanyaan: Apa yang harus dilakukan seorang mukmin?

    Jawaban pertama yang disampaikan bukan mencari tambahan pemasukan, bukan sibuk menghitung peluang, bukan pula tenggelam dalam kecemasan.

    Yang pertama harus dilakukan adalah:

    memperbaiki keyakinan kepada Allah.

    Karena yang paling berbahaya bukan sempitnya keadaan. Yang paling berbahaya adalah ketika hati mulai ragu kepada Allah.

    Ragu kepada janji Allah.

    Ragu kepada jaminan Allah.

    Padahal rezeki sepenuhnya milik Ar-Razzaq, Sang Maha Pemberi Rezeki.
    Disampaikan dalil dari:

    Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya…

    (QS. Hud: 6)

    Ayat ini menjadi pengingat bahwa tidak ada satu pun makhluk yang Allah ciptakan lalu Allah tinggalkan tanpa jaminan rezeki.

    Setiap manusia telah diciptakan dengan rezekinya masing-masing. Yang tidak diketahui manusia hanyalah: kapan dilapangkan, kapan disempitkan, kapan ditambah, dan kapan diambil kembali.

    Tetapi seluruhnya tetap berada dalam ilmu dan ketetapan Allah. Karena itu, tidak ada satu pun keputusan Allah yang buruk.

    Yang buruk sering kali adalah prasangka manusia kepada Allah. Maka ketika keadaan terasa sulit, yang perlu diperiksa pertama kali bukan keadaan luar, tetapi kondisi hati.

    Dari keyakinan inilah lahir tujuan besar seorang mukmin, yaitu husnuzan kepada Allah.

    Sebagaimana hadis qudsi:

    Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.

    Karena itu jangan sampai keadaan ekonomi membuat seseorang kehilangan kepercayaan kepada Rabb-nya. Jangan sampai kita menjadi lebih sibuk memikirkan rezeki daripada mendekat kepada Yang Memberi Rezeki.

    Aa Gym mengajak jamaah untuk kembali menata fondasi paling dasar dalam kehidupan seorang mukmin, yaitu keyakinan kepada Allah sebagai satu-satunya Dzat yang menjamin rezeki.

    Disampaikan bahwa sejak dahulu sampai hari ini, yang menjamin rezeki tidak pernah berubah. Allah tetap menjadi satu-satunya pemberi rezeki bagi seluruh makhluk.

    Karena itu, seorang mukmin tidak boleh membiarkan keyakinannya menjadi rapuh hanya karena keadaan ekonomi, perubahan zaman, atau banyaknya kebutuhan hidup.

    Dalam situasi apa pun, seorang yang beriman harus tetap yakin.

    Jangan sampai ketika keadaan ekonomi terasa sempit, kita justru lebih sibuk memikirkan rezeki daripada sibuk mendekat kepada Yang Memberi Rezeki.

    Yang pertama harus diperbaiki bukan penghasilan, bukan peluang, bukan keadaan di luar diri, tetapi keyakinan kepada Allah. Tidak boleh ada keraguan.

    Tujuan dari keyakinan yang kokoh ini adalah lahirnya husnuzan kepada Allah.
    Sebagaimana dalam hadis qudsi:

    Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.

    Artinya, seorang hamba harus menjaga prasangka baik kepada Allah. Apa pun yang Allah tetapkan pasti mengandung hikmah dan kebaikan.

    SSQT: Solat, Sedekah, Qur’an, dan Taubat

    Setelah keyakinan dibangun, langkah berikutnya adalah memperkuat amalan yang menjadi jalan datangnya pertolongan Allah.

    Dalam kajian ini disampaikan empat amalan yang diringkas menjadi SSQT: Solat, Sedekah, Qur’an, dan Taubat.

    Solat

    Ketika rezeki terasa sempit, jangan hanya sibuk mencari tambahan pemasukan.

    Perbanyak sujud.

    Jangan merasa cukup hanya dengan salat wajib yang menghadirkan 17 kali sujud dalam sehari. Tambah dengan ibadah sunnah sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

    Dirikan salat rawatib, jaga qabliyah Subuh, qabliyah Zuhur bila mampu empat rakaat, ba’diyah Maghrib, dan amalan sunnah lainnya.

    Karena sujud adalah tempat seorang hamba paling dekat kepada Rabb-nya.

    Sedekah

    Sedekah bukan mengurangi rezeki. Rasulullah SAW bersabda:

    Tidaklah berkurang harta karena sedekah.

    Jangan takut miskin karena memberi. Orang yang yakin kepada Allah memahami bahwa rezeki tidak berhenti pada apa yang terlihat di tangan.

    Allah membuka pintu-pintu yang tidak disangka.

    Sebagaimana pujian Allah kepada orang-orang yang berinfak:

    Al-ladzina yunfiquuna fis-sarra’i wad-dharra’

    Orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit.

    Qur’an

    Amalan berikutnya adalah kembali dekat dengan Al-Qur’an.

    Ayat pertama yang turun adalah:

    Iqra’ — Bacalah.

    Disampaikan pula bahwa membaca memberikan pengaruh terhadap kecerdasan dan kualitas berpikir.

    Disebutkan bahwa berdasarkan bacaan yang pernah disampaikan, orang yang terbiasa membaca akan memiliki daya pikir yang lebih baik dibanding hanya menghabiskan waktu untuk terus menggulir media sosial.

    Karena itu jamaah diajak mulai mengurangi aktivitas yang kurang memberi nilai dan memperbanyak membaca serta berinteraksi dengan Al-Qur’an.

    Taubat

    Perbanyak taubat.

    Perbanyak istighfar.

    Jangan merasa cukup dengan amal yang sudah dilakukan.

    Kembalilah kepada Allah dengan hati yang bersih dan penuh pengharapan.

    Doa: SOP Seorang Mukmin Mencari Solusi

    Kajian kemudian masuk pada pembahasan tentang doa.

    Disampaikan bahwa jika seseorang ingin mendapatkan solusi hidup, maka harus mengikuti “SOP”-nya.
    Kalau ingin otak berpikir benar, hati tenang, dan jalan keluar ditemukan, maka mintalah kepada Pemilik segala solusi.
    Dengan doa.

    Dengan membaca Al-Qur’an.

    Dengan mendekat kepada Allah.

    Doa bukan karena Allah tidak mengetahui kebutuhan kita.

    Allah mengetahui seluruh kebutuhan manusia lebih dari manusia mengetahui dirinya sendiri.

    Allah mengetahui yang di bumi dan di langit.

    Maka doa bukan untuk memberi tahu Allah.

    Doa adalah ibadah.

    Doa adalah bentuk penghambaan.

    Ikhtiar: Bergerak, Tapi Jangan Bersandar

    Setelah doa, seorang mukmin tetap wajib berikhtiar.

    Dicontohkan seperti burung.

    Burung keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar.

    Tetapi ia kembali dalam keadaan kenyang.

    Ia bergerak, mencari, terbang.

    Namun burung tidak menggantungkan hasil pada dirinya. Demikian pula manusia. Keluar rumah dengan doa:

    Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

    Dan disebutkan dalam hadis bahwa Allah memberikan:
    Hudita wa kufita wa wuqita

    Diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi. Ini adalah janji Allah. Namun satu pesan penting yang ditekankan:
    Jangan bersandar kepada ikhtiar.
    Karena ikhtiar hanyalah ibadah.
    Yang memberi hasil tetap Allah.
    Dan sering kali pertolongan pertama dari Allah bukan langsung berupa uang, pekerjaan, atau jalan keluar yang tampak. Tetapi berupa sakinah. Ketenangan yang Allah tanamkan dalam hati orang-orang beriman. Sakiinah fil quluubil mu’minin.
    Allah mengetahui doa kita. Allah mengetahui sujud kita. Allah mengetahui ikhtiar kita. Tidak ada satu pun yang luput dari pengawasan-Nya.

    Wallahu a’lam bish-shawab.