Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) merupakan organisasi kemasyarakatan yang menjadi sarana perjuangan tunanetra muslim dalam memperjuangkan hak, martabat, serta penguatan nilai-nilai keislaman di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Cikal bakal gerakan tunanetra muslim di Indonesia telah tumbuh sejak akhir tahun 1960-an. Pada tahun 1967 di Bandung berdiri sebuah organisasi bernama Persatuan Pemuda Islam Tunanetra.
Organisasi ini hadir sebagai wadah pembinaan aqidah sekaligus benteng dalam menangkal upaya pemurtadan di kalangan tunanetra muslim.
Beberapa tokoh yang menjadi penggagas gerakan tersebut antara lain
- KH. Aan Juhana,
- HR Rasikin,
- Januar,
- Dadang Rasikin,
- Dr. H. Ahmad Basri NS, M.Pd.
dan
Pada periode yang hampir bersamaan, para tunanetra muslim di Yogyakarta juga membentuk wadah perjuangan bernama Himpunan Tunanetra Islam (HIMTI). Organisasi tersebut didirikan oleh
- Muhammad Najmudin,
- Imam Syafi’i,
- Subiyanto.
dan
Fusi Organisasi dan Perkembangan Gerakan
Seiring berkembangnya semangat perjuangan tunanetra muslim di berbagai daerah, pada tahun 1982 kedua organisasi tersebut kemudian berfusi menjadi Himpunan Tunanetra Islam (HTI) di Bandung.
Dalam perkembangan berikutnya, HTI lebih aktif berjalan di Yogyakarta dan kemudian bertransformasi menjadi Yayasan Himpunan Tunanetra Islam (YHTI). Keberadaan yayasan ini menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga kesinambungan gerakan sosial dan dakwah bagi tunanetra muslim di Indonesia.
Reformasi 1998 dan Lahirnya Semangat Baru
Gelombang reformasi yang bergulir sejak tahun 1998 membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial dan politik di Indonesia. Dicabutnya Pancasila sebagai asas tunggal bagi organisasi kemasyarakatan, partai politik, dan lembaga sosial membuka ruang baru bagi masyarakat untuk berorganisasi sesuai aspirasi dan keyakinannya.
Momentum tersebut turut membangkitkan kesadaran tunanetra muslim untuk memperjuangkan potensi, hak, dan eksistensinya berdasarkan nilai-nilai syariat Islam.
Di tengah suasana reformasi yang dinamis, sekelompok tunanetra muslim di Bandung yang dipelopori oleh
- Yurisman,
- Ade Daud,
- Aidin,
- Yayat Rukhiyat,
- Muhammad Herianto Nuhung,
- Yudi Yusfar
dan
meyakini bahwa perjuangan tunanetra muslim membutuhkan wadah yang lebih kokoh, terorganisir, dan dilandasi semangat ukhuwah Islamiyah.
Musyawarah Nasional Tunanetra Islam (MUNASTI)
Atas prakarsa Yayasan Himpunan Tunanetra Islam bersama kelompok tunanetra muslim di Bandung, diselenggarakan Musyawarah Nasional Tunanetra Islam (MUNASTI) di Bandung pada tanggal 9–11 Mei 1999 Masehi atau bertepatan dengan 12–15 Muharam 1420 Hijriah.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh sekitar 120 peserta utusan dari delapan provinsi di Indonesia, yaitu:
- DKI Jakarta
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
- DI Yogyakarta
- Jawa Timur
- Riau
- Kalimantan Timur
- Sulawesi Selatan
Dalam suasana musyawarah yang dinamis, demokratis, dan penuh kekeluargaan, MUNASTI akhirnya melahirkan sebuah organisasi nasional bernama Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI).
Tujuan dan Fokus Perjuangan ITMI
Lahirnya ITMI merupakan bentuk kristalisasi kesadaran tunanetra muslim dalam memperjuangkan hak-hak dasar sebagai warga negara sekaligus sebagai bagian dari umat manusia.
Kaum tunanetra memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan, pekerjaan yang layak, akses sosial, hingga partisipasi politik. Namun dalam praktiknya, diskriminasi terhadap penyandang disabilitas netra masih kerap terjadi di berbagai bidang kehidupan.
Karena itu, fokus perjuangan ITMI diarahkan pada:
- Peningkatan kualitas sumber daya manusia tunanetra,,
- pembinaan keagamaan,,,
- penguatan ukhuwah Islamiyah,,
- serta pemberdayaan potensi umat.
ITMI memandang bahwa tunanetra bukan objek belas kasihan, melainkan bagian dari umat yang memiliki potensi, kemampuan, dan hak untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan peradaban Islam.
Cita-Cita Besar ITMI
Sejak awal berdiri, ITMI membawa cita-cita besar yang dirangkum dalam spirit:
‘Izzul Islam wal Muslimin wal Makfufin
yang bermakna:
kemuliaan Islam, kemuliaan kaum muslimin, dan kemuliaan kaum tunanetra.
Semangat tersebut terus menjadi ruh perjuangan ITMI dalam membangun masyarakat yang inklusif, berkeadilan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan kemanusiaan.
