Sejak awal berdiri pada tahun 1999, Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) telah melalui berbagai fase kepemimpinan yang mewarnai perjalanan organisasi.
Setiap masa khidmat menghadirkan tantangan dan ikhtiar yang berbeda, namun tetap berpijak pada semangat dakwah, pemberdayaan, ukhuwah Islamiyah, serta penguatan peran tunanetra muslim di Indonesia.
Berikut perjalanan kepemimpinan Ketua Umum ITMI dari masa ke masa:
Masa khidmat: 1999 M – 2004 M (1420 H – 1425 H)
Masa Khidmat awal kepemimpinan ITMI ditandai dengan proses perintisan dan konsolidasi organisasi. Pada masa ini, fokus utama diarahkan pada pembentukan fondasi kelembagaan, mempererat ukhuwah Islamiyah antaranggota, serta mulai memperjuangkan eksistensi dan hak-hak tunanetra muslim di tingkat nasional.
Masa khidmat: 2004 M – 2009 M (1425 H – 1430 H)
Memasuki masa khidmat kedua, ITMI mulai menguatkan orientasi pada pendidikan, pemberdayaan, dan pengembangan dakwah. Organisasi semakin dikenal di berbagai kalangan dan mulai memperluas komunikasi dengan masyarakat serta berbagai lembaga.
Masa khidmat: 2009 M – 2014 M (1430 H – 1435 H)
Pada masa khidmat ini, ITMI memperluas jaringan organisasi di berbagai daerah serta memperkuat dakwah sosial kemasyarakatan. Berbagai kegiatan pembinaan, pelatihan, dan pengembangan kapasitas anggota terus didorong guna meningkatkan kemandirian anggota.
Masa khidmat: 2014 M – 2019 M (1435 H – 1440 H)
Masa khidmat ini ditandai dengan upaya modernisasi tata kelola organisasi. Penguatan administrasi, peningkatan koordinasi kelembagaan, serta perluasan hubungan dengan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam pengembangan ITMI.
Masa khidmat: 2019 M – 2023 M (1440 H – 1444 H)
Pada masa kepemimpinan ini, ITMI mulai memasuki penguatan dakwah dan komunikasi digital. Berbagai upaya dilakukan untuk memperluas jejaring organisasi, meningkatkan pemberdayaan anggota, serta memperkuat peran ITMI di tengah perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.
Di tengah masa kepemimpinan tersebut, beliau mangkat (Wafat) dan meninggalkan warisan perjuangan yang terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya sebagai bagian dari estafet kepemimpinan ITMI.
Masa khidmat: 2023 M – sekarang (1444 H – sekarang)
Masa khidmat kepemimpinan saat ini diarahkan pada penguatan tata kelola organisasi berbasis kolaborasi, digitalisasi layanan organisasi, serta perluasan manfaat bagi anggota.
Berbagai langkah strategis mulai dikembangkan, di antaranya penguatan sistem pendataan anggota secara terintegrasi, pengembangan media informasi dan publikasi, perluasan jejaring kelembagaan, serta penguatan dakwah dan pemberdayaan tunanetra muslim di berbagai daerah. Masa khidmat ini juga ditandai dengan upaya membangun organisasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar perjuangan dan ukhuwah yang telah diwariskan sejak awal berdirinya ITMI.
Perjalanan kepemimpinan ITMI merupakan rangkaian estafet perjuangan yang saling melengkapi. Setiap Masa khidmat memiliki tantangan, warna, dan kontribusi tersendiri dalam membangun organisasi.
Dengan semangat khidmah, dakwah, dan pemberdayaan, ITMI terus melangkah untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi tunanetra muslim Indonesia dari generasi ke generasi.
Izul Islam Wal Muslimin Wal Ma’fufin (Kemuliaan Agama Islam, Kaum Muslimin dan Kaum Tunanetra
Untuk mewujudkan Visi tersebut, Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) memiliki Misi sebagai berikut :
Dalam melakukan kiprahnya, ITMI telah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, baik Pemerintah maupun non-pemerintah, LSM, Ormas, dan sebagainya.
Untuk menjaga keberlangsungan kiprahnya dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi umat, ITMI senantiasa membuka kerjasama dengan berbagai pihak.
Diantara kiprah dan kerjasama yang telah dan selalu dilakukan ITMI adalah :
Program dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan tunanetra muslim berjalan berkat dukungan para dermawan. Partisipasi Anda membantu membuka kesempatan yang lebih luas bagi saudara-saudara tunanetra untuk belajar, berkarya, dan mandiri.
Dapatkan kabar terbaru program dan kegiatan ITMI melalui media sosial.