Tag: ikatan tunanetra muslim indonesia

  • Mengenal Ulil Albab: Manusia yang Tidak Hanya Pintar, Tapi Juga Bertakwa

    www.itmi.or.id, Di zaman hari ini, ukuran kecerdasan sering kali hanya berhenti pada angka. Siapa yang nilai akademiknya tinggi dianggap hebat. Siapa yang fasih berbicara dianggap cerdas. Siapa yang punya jabatan, pengaruh, atau gelar panjang dianggap berhasil.

    Padahal dalam Islam, ada satu istilah yang jauh lebih tinggi daripada sekadar “orang pintar”. Al-Qur’an menyebut mereka dengan nama Ulil Albab.

    Istilah ini bukan sekadar pujian intelektual. Ia adalah kedudukan manusia yang menggunakan akal, hati, dan ketakwaannya secara bersamaan.

    Apa Arti Ulil Albab?

    Secara bahasa, Ulil Albab berasal dari dua kata:

    • Ulu yang berarti “pemilik”
    • Albab jamak dari lubb, yang berarti inti akal, akal yang bersih, atau pemikiran yang jernih.

    Maka Ulil Albab dapat dimaknai sebagai orang-orang yang memiliki akal sehat yang bersih, dalam, dan bercahaya.

    Bukan hanya cerdas berpikir, tetapi juga benar dalam memandang kehidupan.

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebut Ulil Albab dalam banyak ayat Al-Qur’an. Salah satunya dalam Surah Ali ‘Imran ayat 190-191:

    Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, maupun berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi…

    Ayat ini menarik. Karena ternyata ciri Ulil Albab bukan hanya berpikir, tetapi juga berdzikir.

    Ulil Albab Bukan Sekadar Orang Berilmu

    Ada banyak orang berilmu, tapi ilmunya membuatnya sombong. Ada yang semakin tinggi pendidikannya, semakin memandang rendah orang lain.

    Ada yang cerdas, tetapi licik. Pintar mencari celah, namun miskin adab.
    Ada juga yang cemerlang karirnya, sehingga lantas mencela sesamanya yang masih berada di bawahnya.

    Islam tidak menempatkan kecerdasan seperti itu sebagai kemuliaan tertinggi.
    Ulil Albab adalah mereka yang ilmunya membuatnya semakin takut kepada Allah, semakin rendah hati, dan semakin sadar bahwa hidup ini bukan hanya soal dunia.

    Ia berpikir, tetapi tidak liar.

    Ia kritis, tetapi tetap tunduk kepada wahyu.

    Ia cerdas, tetapi tidak kehilangan nurani.

    Karena itu, Ulil Albab bukan manusia yang hanya kuat otaknya, melainkan juga kuat ruhnya.

    Ciri-Ciri Ulil Albab dalam Kehidupan

    Kalau diperhatikan dari ayat-ayat Alqur’an , ada beberapa karakter utama Ulil Albab.

    1. Gemar Berpikir dan Merenung
    2. Ulil Albab tidak menjalani hidup secara asal lewat. Ia terbiasa bertafakkur.

      Melihat hujan, ia tidak hanya melihat air turun.

      Melihat malam, ia tidak hanya melihat gelap.

      Melihat kehidupan, ia tidak hanya sibuk menjalani rutinitas.

      Ia bertanya:

      “Apa hikmah di balik semua ini?”

      Karena itu orang yang dekat dengan Al-Qur’an biasanya memiliki kedalaman berpikir yang berbeda. Hidupnya tidak dangkal.

    3. Dekat dengan Dzikir dan Ibadah
    4. Ulil Albab itu, tidak memisahkan akal dengan iman.

      Hari ini kita sering melihat seolah agama dan intelektualitas dipisahkan. Seakan kalau terlalu religius dianggap kurang ilmiah. Padahal dalam Islam, justru semakin benar ilmu seseorang, semakin ia sadar betapa kecil dirinya di hadapan Allah.

      Ulil Albab menjadikan pikirannya tunduk kepada kebenaran, bukan tunduk kepada hawa nafsu.

    5. Mampu Mengambil Pelajaran dari Kehidupan
    6. Banyak manusia melihat kejadian, tetapi sedikit yang mengambil ibrah.
      Ulil Albab mampu belajar dari sejarah, musibah, kesalahan, bahkan dari kematian.

      Ketika melihat dunia semakin rusak, ia tidak hanya mengeluh di media sosial. Ia berpikir apa yang bisa diperbaiki dari dirinya dan lingkungannya.

    7. Tidak Mudah Tertipu Gemerlap Dunia

    Orang yang hanya memakai logika dunia biasanya mudah silau oleh popularitas, uang, dan pujian manusia.
    Tetapi Ulil Albab sadar bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.

    Ia tahu:
    jabatan bisa hilang,

    popularitas bisa jatuh,

    dan manusia bisa berubah.

    Karena itu, orientasinya tidak berhenti pada dunia, tetapi juga akhirat.

    Ulil Albab di Era Modern

    Hari ini dunia sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Teknologi berkembang cepat. Informasi tersebar di mana-mana. Gelar akademik semakin banyak.

    Tetapi manusia yang bijak justru terasa langka.

    Banyak orang cerdas secara digital, tetapi lemah secara spiritual.

    Mudah tersinggung.

    Mudah menghina.

    Mudah merasa paling benar.

    Mudah kehilangan arah hidup.

    Karena itu konsep Ulil Albab menjadi sangat relevan hari ini.

    Islam tidak hanya ingin melahirkan manusia yang mampu membuat teknologi, tetapi juga manusia yang tahu untuk apa teknologi digunakan.

    Tidak hanya mampu berbicara, tetapi juga tahu kapan harus diam.

    Tidak hanya mampu memimpin, tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah.

    Menjadi Ulil Albab

    Menjadi Ulil Albab bukan berarti harus menjadi ulama besar atau profesor.

    Ia dimulai dari kebiasaan sederhana:

    mau belajar,

    mau berpikir,

    mau menerima nasihat,

    dan mau mendekat kepada Allah.

    Karena sesungguhnya kerusakan terbesar bukan terjadi saat manusia kehilangan ilmu, tetapi saat manusia kehilangan hati yang hidup.

    Dan Ulil Albab adalah mereka yang menjaga keduanya:

    akalnya hidup,

    dan hatinya juga hidup.