Tag: alquran

  • Tingkatkan Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille, PW ITMI Jabar Gelar Uji Kompetensi Se Bandung Raya

    Tingkatkan Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille, PW ITMI Jabar Gelar Uji Kompetensi Se Bandung Raya

    Dokumentasi photo 1
    dokumentasi photo 2
    Cimahi, Itmi.or.id — Pengurus Wilayah Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia Provinsi Jawa Barat (PW ITMI JABAR) bekerja sama dengan Asosiasi Pengajar Al-Qur’an Braille Indonesia (APQBI) dan LSM Ummi Maktum Voice menyelenggarakan kegiatan Uji Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille di Aula Sekretariat Pengurus Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PP ITMI) Komplek Cijerah II, Blok I KSB 5 Sukaasih RT. 01 RW. 31, Kel. Melong, Kec. Cimahi Selatan, Kota Cimahi, pada hari Jumat sampai Ahad, tanggal 18-20 September 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 20 peserta yang merupakan perwakilan dari Pengurus Daerah ITMI se-Bandung Raya dan perwakilan Majelis Taklim Tunanetra se-Bandung Raya. Kegiatan uji kompetensi ini diselenggarakan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi para pengajar dalam menyampaikan pembelajaran Al-Qur’an Braille kepada penyandang tunanetra. Kompetensi pengajar menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung terselenggaranya pembelajaran Al-Qur’an Braille yang baik, sistematis, dan mudah dipahami oleh peserta didik. Dalam kegiatan tersebut, peserta mengikuti beberapa tahapan uji kompetensi yang meliputi kemampuan membaca Al-Qur’an Braille, pemahaman kaidah penulisan AlQur’an Braille, metode pembelajaran, dan praktik mengajar. Peserta juga mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam menerapkan pengetahuan serta keterampilan yang telah dimiliki dan dipraktikkan di daerahnya masing-masing. Ketua Pengurus Wilayah ITMI Provinsi Jawa Barat, Heri Mujianto, S.H.I., M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam bidang pendidikan Al-Qur’an bagi tunanetra. “Melalui uji kompetensi ini, kami berharap para pengajar Al-Qur’an Braille memiliki kompetensi yang semakin baik sehingga dapat memberikan pembelajaran yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik tunanetra,” ujar Heri Mujianto di sela-sela persiapan penyelenggaraan kegiatan. Salah satu peserta yang berasal dari Pengurus Daerah ITMI Kabupaten Bandung, Anwar Abubakar, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman dan kesempatan untuk mengukur kemampuan yang telah dimiliki dalam mengajarkan Al-Qur’an Braille. “Kegiatan ini menjadi pengalaman yang berharga bagi kami untuk mengetahui kemampuan yang sudah kami kuasai dan bagian yang masih perlu kami tingkatkan,” ujar Anwar Abubakar. Kegiatan Uji Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille diharapkan tidak hanya menjadi sarana untuk mengukur kompetensi peserta, tetapi juga dapat mendorong peningkatan kualitas pembelajaran Al-Qur’an Braille serta memperluas akses penyandang tunanetra terhadap pendidikan keagamaan yang inklusif. Ke depan, PW ITMI JABAR berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dan dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak pengajar dan lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan bagi penyandang tunanetra.
  • Republika Gandeng ITMI Siapkan Lomba Tilawah Al-Qur’an Braille Tingkat Nasional

    Republika Gandeng ITMI Siapkan Lomba Tilawah Al-Qur’an Braille Tingkat Nasional

    Dokumentasi photo 1
    Dokumentasi photo 2
     photo 3

    Jakarta, Itmi.or.id – Pengurus Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PP ITMI) menerima kunjungan jajaran Harian Republika di Kantor Harian PP ITMI, Jalan RS Fatmawati Raya No. 20, Cilandak, Jakarta Selatan.

    Pertemuan tersebut membahas rencana kerja sama antara Republika dan ITMI dalam penyelenggaraan lomba tilawah Al-Qur’an Braille bagi penyandang disabilitas netra tingkat nasional.

    Perlombaan direncanakan menjadi bagian dari rangkaian Festival Republika yang berlangsung pada November 2026, dengan puncak kegiatan pada Dzikir Nasional Republika pada akhir Desember.

    Pertemuan dipimpin langsung Ketua Umum PP ITMI Ust. H. Yogi Madsuni. Dalam kesempatan itu, Ust. H. Yogi Madsuni memperkenalkan jajaran pengurus sekaligus sejumlah program yang selama ini dijalankan ITMI.

    Salah satunya adalah program pemberantasan buta huruf Al-Qur’an Braille di kalangan tunanetra Muslim Indonesia. Program tersebut terus berkembang hingga mendorong lahirnya Asosiasi Pengajar Al-Qur’an Braille Indonesia (APQBI) sebagai salah satu badan otonom ITMI.

    Sekretaris Umum PP ITMI Heri Mujianto, S.H.I., M.Pd. turut menjelaskan perkembangan organisasi. Saat ini, menurut Heri, kepengurusan ITMI telah terbentuk di 26 provinsi dan lebih dari 170 kabupaten/kota.
    “Kita juga semuanya telah terdokumentasi pada database secara digital untuk keanggotaan,” kata Heri.

    Ust. H. Yogi Madsuni menambahkan, selain sekretariat utama di Cimahi, Jawa Barat, ITMI memiliki kantor harian di Jakarta yang menjadi tempat berlangsungnya pertemuan tersebut.

    “Tambahan, kantor harian ini sebetulnya dapat dorongan dari Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia. Sekretariat kita yang utama ada di Cimahi, kantor hariannya ada di sini,” ujar Ust. H. Yogi Madsuni.

    Republika Siapkan Lomba Tilawah Tunanetra
    Dalam pertemuan tersebut, perwakilan Republika menyampaikan rencana menjadikan lomba tilawah bagi tunanetra sebagai salah satu kegiatan dalam Festival Republika 2026.

    Peserta nantinya akan membaca Al-Qur’an Braille. Pemenang perlombaan direncanakan tampil dalam puncak Dzikir Nasional Republika pada akhir tahun.

    “Republika, seperti yang di awal disampaikan, datang ke sini untuk berkolaborasi dalam Festival Republika. Acaranya nanti mulai bulan November dan puncaknya pada Desember di Dzikir Nasional. Untuk lombanya ada tilawah tunanetra membaca Al-Qur’an Braille. Yang juara nanti kita tampilkan di Dzikir Nasional,” ujar perwakilan Republika.

    Republika juga menyampaikan bahwa Dzikir Nasional biasanya menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan pejabat negara. Pada penyelenggaraan sebelumnya, Dzikir Nasional Republika memang menjadi ruang pertemuan ulama, tokoh bangsa, dan masyarakat dalam mengisi pergantian tahun dengan zikir, doa, serta muhasabah.

    APQBI Soroti Pentingnya Pengajar Al-Qur’an Braille

    Ketua APQBI Ust. Yayat Ruhyat, S.Pd. menyambut rencana tersebut sekaligus menceritakan perkembangan pembelajaran Al-Qur’an Braille di Indonesia.

    Menurutnya, pada masa lalu mendapatkan akses terhadap mushaf Al-Qur’an Braille bukan perkara mudah.

    Kondisi saat ini sudah jauh berkembang dengan semakin tersedianya mushaf dan kegiatan pembinaan.

    “Untuk bisa Al-Qur’an Braille itu dulu harus pinjam, harus jalan juga. Dari Pajajaran ke Sukajadi, dibatasi waktu juga. Tapi sekarang Alhamdulillah Al-Qur’an sudah banyak, pembinaan juga sudah banyak. Tapi tenaga pengajarnya harus diperbanyak juga,” kata Ust. Yayat Ruhyat.

    APQBI bersama berbagai pihak juga terus meningkatkan kompetensi pengajar melalui Training of Trainer (ToT) dan uji kompetensi. Hingga kini, uji kompetensi pengajar Al-Qur’an Braille telah dilaksanakan sebanyak tiga gelombang dan akan kembali dilanjutkan.

    Ust. Yayat Ruhyat menekankan bahwa pengembangan Al-Qur’an Braille tidak cukup hanya dengan menyediakan mushaf. Keberadaan dan kesejahteraan para pengajar juga perlu mendapat perhatian.

    “Kita harus punya perhatian kepada guru agama, guru yang mengajar Al-Qur’an Braille. Kita juga perhatikan kesejahteraan mereka,” ujarnya.

    Pertemuan tersebut turut dihadiri Ketua Bidang I Eka Setiawan, S.Pd, dan Ketua Bidang II PP ITMI Ust. H. Heppi Septian, S.Ag, Direktur LSM Umi Maktum Voice Ust. H. Entang Kurniawan, Ketua APQBI Ust. Yayat Ruhyat, S.Pd., Direktur LSP Pengajar Al-Qur’an Braille Indonesia Ust. Ahmad Solihin, S.T.H.I., Ketua Unit Media, Informasi, Publikasi, Riset dan Teknologi PP ITMI Drs. Toto Sugihatno, Staff Media Officer Dwi Citolaksono, S.Pd., Sekretaris APQBI Ust. Nu’man Sabit, S.Ag., Yeni Kurniati dari kesekretariatan PP ITMI, serta jajaran Harian Republika.

    Pertemuan ditutup dengan kesepakatan awal untuk menjalin kerja sama dalam penyelenggaraan lomba membaca Al-Qur’an Braille tersebut. PP ITMI dan Republika selanjutnya akan kembali melakukan koordinasi untuk mematangkan teknis perlombaan, peserta, serta rangkaian kegiatan menuju Festival Republika dan Dzikir Nasional 2026.

  • Uji Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille Gelombang III Ditutup, Peserta Diminta Tak Berhenti Mengajar

    Uji Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille Gelombang III Ditutup, Peserta Diminta Tak Berhenti Mengajar

    Cimahi, Itmi.or.id – Uji Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille Gelombang III resmi ditutup di Sekretariat Pimpinan Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PP ITMI), Kota Cimahi, Jawa Barat, Ahad (16/8/2026).

    Penutupan dihadiri Direktur LSP Pengajar Al-Qur’an Braille Indonesia Ust. Ahmad Solihin, S.T.H.I., Ketua Asosiasi Pengajar Qur’an Braille Indonesia (APQBI) Ust. Yayat Ruhyat, S.Pd., Ketua Bidang Pendidikan dan Dakwah PP ITMI Ust. H. Heppi Septian, S.Ag., serta seluruh peserta.

    Berakhirnya kegiatan selama tiga hari itu bukan menjadi akhir perjalanan para pengajar. Direktur LSP Pengajar Al-Qur’an Braille Indonesia Ust. Ahmad Solihin mengatakan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pengajaran Al-Qur’an Braille.

    “Di siang ini, di penghujung acara, masih banyak PR kita untuk menyiapkan dan mengajar para pengajar Qur’an Braille. Setiap kegiatan ada temuan baru. Dan itu menjadi bahan evaluasi bagi kami di tim LSP, fasilitator, untuk terus memperbaiki kualitas,” kata pria yang akrab disapa Ust. Aso.

    Menurutnya, proses evaluasi akan terus dilakukan karena setiap gelombang pelatihan menghadirkan pengalaman dan temuan baru. Temuan tersebut menjadi bahan bagi LSP dan para fasilitator untuk memperbaiki pelaksanaan kegiatan berikutnya.

    Para Pengajar Disebut “Mujahid Qur’an”

    Ust. Aso menyebut para pengajar Al-Qur’an Braille yang mengikuti kegiatan tersebut sebagai “mujahid Qur’an”.

    Sebutan itu, menurutnya, bukan tanpa alasan. Mengajarkan Al-Qur’an kepada penyandang tunanetra membutuhkan kesungguhan dan keseriusan, terlebih masih banyak penyandang tunanetra yang belum dapat membaca Al-Qur’an Braille.

    “Ini semua mujahid Qur’an. Kenapa kita gunakan kata mujahid? Karena ini sungguh-sungguh dan serius. Semoga kelak memperoleh syafaat karena menjadi sahabat Al-Qur’an,” ujarnya.

    Ust. Aso mengatakan upaya meningkatkan kualitas pengajar bukan pekerjaan yang baru dimulai. Proses pelatihan telah dilakukan sejak tahun 2000 dan terus berkembang hingga sekarang.

    Salah satu hasil dari perjalanan panjang tersebut adalah modul pengajaran Al-Qur’an Braille yang kini digunakan para peserta.

    “Kalau kita bicara perbaikan, itu tidak akan berhenti. Ini juga semua proses pelatihan, upaya ini sudah dilakukan sejak tahun 2000. Dan modul yang bapak ibu ini pegang, itu karya monumental,” kata Ust. Aso

    Karena itu, ia meminta peserta tidak menjadikan berakhirnya uji kompetensi sebagai titik untuk berhenti.

    “Di Luaran Sana Masih Banyak Tunanetra yang Belum Bisa Baca Qur’an”
    Ust. Aso mengingatkan bahwa kebutuhan terhadap pengajar Al-Qur’an Braille masih besar. Setelah kembali ke daerah masing-masing, peserta diharapkan melanjutkan peran mereka di tengah masyarakat.

    “Jadi tolong dari sini, jangan berhenti. Di luaran sana masih banyak tunanetra yang belum bisa baca Qur’an,” ujarnya.

    Di tengah pesan tersebut, Ust. Aso menyelipkan gurauan yang langsung disambut tawa peserta.

    “Belum lagi kalau ternyata ada yang berminat jadi tunanetra di usia dewasa.”

    Suasana penutupan yang semula serius pun mencair.

    Pesan untuk terus mengembangkan ilmu juga disampaikan Ketua APQBI Ust. Yayat Ruhyat, S.Pd. Menurutnya, tiga hari pelaksanaan uji kompetensi belum cukup untuk menampung seluruh pengetahuan yang diperlukan seorang pengajar.

    “Tiga hari sebetulnya tidak cukup, ya. Tetapi mudah-mudahan dapat terus ditingkatkan ke depannya ilmunya,” katanya.

    Ia berharap ilmu yang diperoleh tidak hanya bermanfaat bagi peserta secara pribadi, tetapi juga dibawa ke lingkungan yang lebih luas.

    “Semoga kita dapat berkontribusi terhadap lingkungan, keluarga, masyarakat, sehingga inklusif,” ujarnya.

    Berakhir dengan Praktik di SLBN-A Citeureup

    Sebelum acara penutupan, peserta telah menyelesaikan tahapan terakhir berupa praktik kerja lapangan di SLBN-A Citeureup, Cimahi.

    Ust. Yayat mengatakan perjalanan kegiatan telah dimulai sejak proses penjaringan peserta, rekapitulasi, pretest, rangkaian pembelajaran, hingga praktik langsung di lapangan.

    “Alhamdulillah kita sudah melampaui kegiatan ini, dari penjaringan peserta, rekapitulasi, pretest, hingga hari ini praktik kerja lapangan di SLBN-A Citeureup Cimahi,” kata Ust. Yayat.

    Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari penyelenggara, fasilitator, hingga Al-Hawari yang ikut menopang pelaksanaan kegiatan.

    “Terima kasih dari semuanya yang telah berjibaku, penyelenggara, fasilitator, hingga Al-Hawari. Tanpa kerja sama yang baik, semuanya tidak akan berjalan dengan lancar,” ujarnya.

    Menurut ketua APQBI itu, penyelenggara berupaya memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada peserta yang datang dari berbagai daerah meski dengan kemampuan yang tersedia.

    Rangkaian Uji Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille Gelombang III kemudian ditutup secara resmi oleh Ketua APQBI. Doa penutupan dipimpin Ust. H. Heppi Septian, S.Ag.

    Berakhirnya kegiatan di Cimahi membawa satu pekerjaan lanjutan bagi para peserta: kembali ke daerah masing-masing dan meneruskan pengajaran kepada penyandang tunanetra yang hingga kini belum mampu membaca Al-Qur’an Braille.