Semarang, Itmi.or.id – Andhi Setiyono, S.Sos. terpilih sebagai Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PW ITMI) Jawa Tengah periode 2026–2031 dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) V ITMI Jawa Tengah di Asrama Haji Semarang.
Pemilihan ketua menjadi salah satu agenda Muswil V yang berlangsung dalam rangkaian Al-Qur’an Braille Camp, Muswil, dan Seminar Wawasan Kebangsaan pada 26–28 September 2026.
Andhi sebelumnya mengemban amanah sebagai sekretaris PW sekaligus Ketua Panitia Muswil V. Kini, setelah kepengurusan dan forum tersebut berakhir, ia mendapat tanggung jawab baru untuk memimpin ITMI Jawa Tengah selama lima tahun mendatang.
“Perasaannya campur aduk sih. Capek juga ada. Cuma ya, dalam hati saya merasa tanggung jawab saya bertambah,” kata Andhi kepada Redaksi ITMI.
Andhi terpilih melalui pemungutan suara yang diikuti dua calon. Proses pemilihan dilakukan menggunakan bilik suara dengan mekanisme pencoblosan.
Selepas terpilih, Andhi mengatakan langkah pertama yang akan dilakukannya adalah menyusun kepengurusan PW ITMI Jawa Tengah. Dalam penyusunan tersebut, ia ingin membawa kepengurusan yang berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah sekaligus membuka ruang kaderisasi.
“Tentunya pertama kita akan segera membentuk kepengurusan. Tentunya kita mengedepankan Al-Qur’an dan Sunnah. Yang kedua kaderisasi, penyegaran. Karena jujur saja, kaderisasi di ITMI Jawa Tengah ini agak mandek. Kita ingin ke depannya kaderisasi tetap ada,” ujarnya.
Pemberantasan Buta Aksara Al-Qur’an Braille Jadi Prioritas
Selain kaderisasi, Andhi menempatkan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an Braille sebagai salah satu prioritas kepemimpinannya.
PW ITMI Jawa Tengah berencana melakukan pemetaan kemampuan membaca Al-Qur’an Braille di daerah-daerah. Dari pemetaan tersebut, ITMI akan mengetahui daerah yang telah memiliki sumber daya memadai maupun daerah yang masih membutuhkan penguatan.
“Kita akan memetakan ke daerah-daerah. Mana daerah-daerah yang sudah bisa membaca Al-Qur’an Braille dengan lancar, mana yang belum. Nanti kita latih di ToT, setelah itu kita buka aksesnya ke Al-Qur’an Braille,” kata Andhi.
Program Training of Trainer (ToT) direncanakan menjadi salah satu langkah untuk memperbanyak sumber daya pengajar Al-Qur’an Braille di daerah.
Andhi mengatakan pendekatan serupa telah diuji di PD ITMI Kota Semarang sejak dirinya menjabat sebagai ketua PD 2022 lalu. Berdasarkan data yang disampaikannya, ketika program tersebut dimulai baru sekitar 45 persen anggota yang mampu membaca Al-Qur’an Braille.
Pada 2026, angka itu disebut telah mencapai sekitar 95 persen.
“Kita juga sudah uji coba proyeknya di PD Kota Semarang. Tahun 2022, kita 45 persen yang baru bisa membaca Al-Qur’an Braille. Sekarang 2026, alhamdulillah sudah 95 persen yang sudah bisa. Ya, itu kan sebuah pencapaian. Mudah-mudahan hasil di Semarang ini bisa menjadi percontohan untuk daerah-daerah lainnya,” ujarnya.
Menurut Andhi, pengalaman Kota Semarang juga menunjukkan bahwa belajar Al-Qur’an Braille tidak hanya dapat dilakukan oleh mereka yang mengalami ketunanetraan sejak lahir.
Ia menyebut sekitar 70 persen dari kelompok yang kini mampu membaca Al-Qur’an Braille tersebut merupakan orang-orang yang mengalami ketunanetraan pada usia yang lebih dewasa.
“Selama ini kan ada stigma bahwa teman-teman yang dulunya awas atau menjadi tunanetra di usia dewasa. Nah, di sini mayoritasnya tunanetra yang baru-baru malah lebih lancar Al-Qur’an Braillenya. Ada bahkan yang lansia usia 70 tahun. Tapi luar biasa beliau itu,” katanya.
Kaderisasi dan SDM Jadi Tantangan
Andhi melihat kekompakan dan loyalitas anggota sebagai salah satu modal besar ITMI Jawa Tengah. Seluruh 31 daerah yang telah memiliki kepengurusan ITMI hadir dalam Muswil V.
Bahkan, kata Andhi, terdapat delegasi yang tetap berangkat ke Semarang menggunakan biaya pribadi karena tidak memperoleh dukungan biaya perjalanan dari daerah masing-masing.
“Kita bisa meloncat lebih jauh, itu kita bisa. Karena teman-teman ITMI Jawa Tengah itu loyal kok ke ITMI. Di kegiatan Muswil ini saja ada yang dari daerahnya tidak dapat ongkos. Mereka pakai dana pribadi ke Semarang. Ada yang empat sampai delapan jam, lho,” ungkapnya.
Namun, kekuatan tersebut menurut Andhi masih harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Cuma tantangan kita di SDM. SDM IT, pendidikannya harus kita kuatkan lagi. Saya yakin mereka 1.000 persen loyal,” katanya.
Penguatan soft skill dan hard skill anggota akan menjadi salah satu perhatian kepengurusan mendatang. Pemberdayaan ekonomi juga akan diarahkan kepada anggota dengan berbagai latar pekerjaan, termasuk pemijat dan pedagang.
“Ada yang pijat, ada yang jualan. Kita berusaha nanti kita kasih modal,” ujarnya.
Buka Relasi untuk Pendidikan dan Pemberdayaan
Dalam menjalankan program lima tahun mendatang, Andhi mengatakan PW ITMI Jawa Tengah akan memperluas silaturahmi dan audiensi dengan berbagai pihak.
Kerja sama tersebut akan diarahkan terutama untuk mendukung program pendidikan dan pemberdayaan anggota.
“Kemudian yang ketiga, kita akan silaturahmi atau audiensi dengan berbagai pihak untuk berbagai program, pendidikan dan pemberdayaan,” katanya.
Menurut Andhi, PW ITMI Jawa Tengah juga telah memperoleh tawaran untuk membangun nota kesepahaman atau MoU dengan PW Muhammadiyah Jawa Tengah.
Ketua PW Muhammadiyah Jawa Tengah, kata dia, turut hadir dalam Seminar Wawasan Kebangsaan yang menjadi rangkaian penutup Muswil V.
Di bidang pendidikan, perhatian PW ITMI Jawa Tengah tidak hanya akan diberikan kepada anggota tunanetra. Andhi ingin organisasi turut memikirkan pendidikan anak dari keluarga anggota ITMI yang memiliki keterbatasan dalam membiayai pendidikan.
Salah satu langkah yang direncanakan adalah membangun relasi dengan lembaga pendidikan negeri maupun swasta agar dapat membuka peluang dukungan bagi anak-anak dari keluarga tunanetra.
Minta Anggota Jangan Puas dengan Kondisi Saat Ini
Andhi menyadari kepengurusan baru memiliki pekerjaan besar selama lima tahun ke depan. Selain memperkuat organisasi di 31 daerah yang telah terbentuk, ia ingin keberadaan ITMI diperluas ke daerah lain di Jawa Tengah.
Saat ini, menurut Andhi, ITMI telah terbentuk di 31 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Ia berharap jangkauan tersebut dapat bertambah dalam periode kepemimpinannya.
Namun, di atas program dan target organisasi, Andhi meminta kekompakan yang selama ini terbangun di antara anggota tetap dipertahankan.
“Pertama, terus jaga kekompakan, silaturahmi yang saat ini sudah terbangun. Ini nilai yang sangat mahal,” pesannya.
Ia juga meminta anggota ITMI Jawa Tengah tidak berhenti mengembangkan kapasitas diri.
“Jangan puas dengan kondisi saat ini. Tetap terus berkembang, belajar, dan berkarya,” pungkas Andhi.



