Tag: APQBI

  • Republika Gandeng ITMI Siapkan Lomba Tilawah Al-Qur’an Braille Tingkat Nasional

    Republika Gandeng ITMI Siapkan Lomba Tilawah Al-Qur’an Braille Tingkat Nasional

    Dokumentasi photo 1
    Dokumentasi photo 2
     photo 3

    Jakarta, Itmi.or.id – Pengurus Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PP ITMI) menerima kunjungan jajaran Harian Republika di Kantor Harian PP ITMI, Jalan RS Fatmawati Raya No. 20, Cilandak, Jakarta Selatan.

    Pertemuan tersebut membahas rencana kerja sama antara Republika dan ITMI dalam penyelenggaraan lomba tilawah Al-Qur’an Braille bagi penyandang disabilitas netra tingkat nasional.

    Perlombaan direncanakan menjadi bagian dari rangkaian Festival Republika yang berlangsung pada November 2026, dengan puncak kegiatan pada Dzikir Nasional Republika pada akhir Desember.

    Pertemuan dipimpin langsung Ketua Umum PP ITMI Ust. H. Yogi Madsuni. Dalam kesempatan itu, Ust. H. Yogi Madsuni memperkenalkan jajaran pengurus sekaligus sejumlah program yang selama ini dijalankan ITMI.

    Salah satunya adalah program pemberantasan buta huruf Al-Qur’an Braille di kalangan tunanetra Muslim Indonesia. Program tersebut terus berkembang hingga mendorong lahirnya Asosiasi Pengajar Al-Qur’an Braille Indonesia (APQBI) sebagai salah satu badan otonom ITMI.

    Sekretaris Umum PP ITMI Heri Mujianto, S.H.I., M.Pd. turut menjelaskan perkembangan organisasi. Saat ini, menurut Heri, kepengurusan ITMI telah terbentuk di 26 provinsi dan lebih dari 170 kabupaten/kota.
    “Kita juga semuanya telah terdokumentasi pada database secara digital untuk keanggotaan,” kata Heri.

    Ust. H. Yogi Madsuni menambahkan, selain sekretariat utama di Cimahi, Jawa Barat, ITMI memiliki kantor harian di Jakarta yang menjadi tempat berlangsungnya pertemuan tersebut.

    “Tambahan, kantor harian ini sebetulnya dapat dorongan dari Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia. Sekretariat kita yang utama ada di Cimahi, kantor hariannya ada di sini,” ujar Ust. H. Yogi Madsuni.

    Republika Siapkan Lomba Tilawah Tunanetra
    Dalam pertemuan tersebut, perwakilan Republika menyampaikan rencana menjadikan lomba tilawah bagi tunanetra sebagai salah satu kegiatan dalam Festival Republika 2026.

    Peserta nantinya akan membaca Al-Qur’an Braille. Pemenang perlombaan direncanakan tampil dalam puncak Dzikir Nasional Republika pada akhir tahun.

    “Republika, seperti yang di awal disampaikan, datang ke sini untuk berkolaborasi dalam Festival Republika. Acaranya nanti mulai bulan November dan puncaknya pada Desember di Dzikir Nasional. Untuk lombanya ada tilawah tunanetra membaca Al-Qur’an Braille. Yang juara nanti kita tampilkan di Dzikir Nasional,” ujar perwakilan Republika.

    Republika juga menyampaikan bahwa Dzikir Nasional biasanya menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan pejabat negara. Pada penyelenggaraan sebelumnya, Dzikir Nasional Republika memang menjadi ruang pertemuan ulama, tokoh bangsa, dan masyarakat dalam mengisi pergantian tahun dengan zikir, doa, serta muhasabah.

    APQBI Soroti Pentingnya Pengajar Al-Qur’an Braille

    Ketua APQBI Ust. Yayat Ruhyat, S.Pd. menyambut rencana tersebut sekaligus menceritakan perkembangan pembelajaran Al-Qur’an Braille di Indonesia.

    Menurutnya, pada masa lalu mendapatkan akses terhadap mushaf Al-Qur’an Braille bukan perkara mudah.

    Kondisi saat ini sudah jauh berkembang dengan semakin tersedianya mushaf dan kegiatan pembinaan.

    “Untuk bisa Al-Qur’an Braille itu dulu harus pinjam, harus jalan juga. Dari Pajajaran ke Sukajadi, dibatasi waktu juga. Tapi sekarang Alhamdulillah Al-Qur’an sudah banyak, pembinaan juga sudah banyak. Tapi tenaga pengajarnya harus diperbanyak juga,” kata Ust. Yayat Ruhyat.

    APQBI bersama berbagai pihak juga terus meningkatkan kompetensi pengajar melalui Training of Trainer (ToT) dan uji kompetensi. Hingga kini, uji kompetensi pengajar Al-Qur’an Braille telah dilaksanakan sebanyak tiga gelombang dan akan kembali dilanjutkan.

    Ust. Yayat Ruhyat menekankan bahwa pengembangan Al-Qur’an Braille tidak cukup hanya dengan menyediakan mushaf. Keberadaan dan kesejahteraan para pengajar juga perlu mendapat perhatian.

    “Kita harus punya perhatian kepada guru agama, guru yang mengajar Al-Qur’an Braille. Kita juga perhatikan kesejahteraan mereka,” ujarnya.

    Pertemuan tersebut turut dihadiri Ketua Bidang I Eka Setiawan, S.Pd, dan Ketua Bidang II PP ITMI Ust. H. Heppi Septian, S.Ag, Direktur LSM Umi Maktum Voice Ust. H. Entang Kurniawan, Ketua APQBI Ust. Yayat Ruhyat, S.Pd., Direktur LSP Pengajar Al-Qur’an Braille Indonesia Ust. Ahmad Solihin, S.T.H.I., Ketua Unit Media, Informasi, Publikasi, Riset dan Teknologi PP ITMI Drs. Toto Sugihatno, Staff Media Officer Dwi Citolaksono, S.Pd., Sekretaris APQBI Ust. Nu’man Sabit, S.Ag., Yeni Kurniati dari kesekretariatan PP ITMI, serta jajaran Harian Republika.

    Pertemuan ditutup dengan kesepakatan awal untuk menjalin kerja sama dalam penyelenggaraan lomba membaca Al-Qur’an Braille tersebut. PP ITMI dan Republika selanjutnya akan kembali melakukan koordinasi untuk mematangkan teknis perlombaan, peserta, serta rangkaian kegiatan menuju Festival Republika dan Dzikir Nasional 2026.

  • Cerita Abdul Manan Ikut Uji Kompetensi Al-Qur’an Braille: Capek, Ngantuk, Senang, sampai Deg-degan

    Cimahi, Itmi.or.id – Capek, mengantuk, senang, hingga berdebar-debar. Begitulah Abdul Manan, (49) peserta asal Semarang, Jawa Tengah, menggambarkan pengalamannya selama mengikuti Uji Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille Gelombang III di Kota Cimahi, Jawa Barat.

    Kesan itu disampaikan Abdul Manan pada penutupan kegiatan di Sekretariat pengurus pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PP ITMI), Ahad (16/8/2026).

    Didapuk mewakili peserta untuk menyampaikan kesan dan pesan, Abdul Manan sejak awal mengaku sebenarnya belum sempat berembuk dengan peserta lain mengenai apa yang harus disampaikannya.

    “Saya mewakili, walau sebenarnya belum pernah rembuk apa kesan pesan saya. Tapi saya mencoba, semoga tidak ada pertentangan,” kata Abdul Manan.

    Ia kemudian menggambarkan tiga hari kegiatan dengan satu istilah sederhana: nano-nano.

    “Saya merasa di sini campur aduk. Capek, ngantuk, senang, juga debar-debar. Ya macam-macam lah, nano-nano.”

    Rasa lelah itu sudah dimulai bahkan sebelum kegiatan berlangsung. Abdul Manan harus menempuh perjalanan darat dari Semarang menuju Cimahi menggunakan bus.

    Ia berangkat malam hari dan baru tiba pada pagi hari. Setibanya di Sekretariat PP ITMI, ia langsung mengikuti rangkaian kegiatan.

    “Capeknya itu naik bus dari Semarang, dari malam ke pagi. Pagi sampai ITMI, langsung mulai kegiatan,” tuturnya.

    Rutinitas tidurnya juga harus berubah. Jika biasanya ia dapat beristirahat pada siang hari, padatnya agenda membuat kebiasaan tersebut untuk sementara harus ditinggalkan.

    “Ngantuknya, ya, saya biasa tidur siang, di sini enggak bisa,” selorohnya.

    Namun, perjalanan panjang dan rasa kantuk terbayar oleh kesempatan bertemu dengan sesama pengajar Al-Qur’an Braille dari berbagai daerah.

    “Senangnya saya bisa ketemu dengan teman-teman yang biasanya enggak bisa ketemu, hanya di online,” katanya.

    Pertemuan itu juga membuka kesempatan untuk mengenal peserta yang sebelumnya belum pernah ditemui sekaligus bertukar pengalaman.

    “Yang lainnya di sini yang belum kenal bisa kenalan dan saling berbagi,” ujarnya.

    Ada satu perasaan lain yang menyertai Abdul Manan selama kegiatan: berdebar-debar.

    Berbeda dengan pertemuan biasa, kali ini ia datang untuk menjalani uji kompetensi. Kemampuan yang selama ini digunakan dalam pengajaran harus diuji.

    “Debar-debarnya saya di sini diuji, grogi juga. Apalagi saya enggak terbiasa nulis Braille, sudah enggak terbiasa, disuruh nulis RPP lagi,” katanya.

    Menulis Braille menjadi tantangan tersendiri. Abdul Manan mengaku sudah tidak terbiasa melakukannya sehingga tugas penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) membuatnya sempat kebingungan.

    Ia bersyukur para pengajar memahami kondisi yang dialaminya.

    “Alhamdulillah dari pengajarnya maklum, tahu saya pusing dan kebingungan,” ujarnya.

    Pengalaman selama uji kompetensi justru mengubah cara pandangnya terhadap salah satu kemampuan dasar yang selama ini mulai jarang digunakannya.

    Sebelum mengikuti kegiatan, Abdul Manan menganggap kemampuan menulis Braille tidak terlalu penting baginya. Namun, ketika mengikuti rangkaian uji kompetensi, ia menyadari kemampuan tersebut tetap diperlukan seorang pengajar Al-Qur’an Braille.

    “Saya sendiri merasa menulis Braille menurut saya enggak penting, tapi di sini saya jadi merasa perlu. Saya nulis selembar aja sudah capek,” katanya.

    Kesadaran tersebut menjadi salah satu hal yang ia bawa pulang dari Cimahi. Uji kompetensi, menurut dia, tidak sekadar menguji kemampuan yang sudah dikuasai, tetapi juga memperlihatkan bagian-bagian yang perlu kembali dilatih.

    Pengakuan Pengajar Juga Membutuhkan Kompetensi

    Abdul Manan berharap uji kompetensi seperti ini terus diselenggarakan. Menurutnya, peningkatan kemampuan menjadi penting di tengah perjuangan APQBI agar pengajar Al-Qur’an Braille mendapatkan pengakuan yang lebih kuat.

    “Pesan saya, kalau bisa ukom ini sangat diperlukan, jadi terus terselenggara,” ujarnya.

    Ia memahami perjuangan memperoleh pengakuan tersebut juga membawa konsekuensi bagi para pengajar. Jika ingin kompetensinya mendapat pengakuan formal, mereka harus siap memenuhi persyaratan yang ditentukan.

    “Apalagi APQBI ingin memperjuangkan kita sebagai pengajar. Sedangkan pemerintah sendiri punya prasyarat. Prasyaratnya yang utama ya administrasinya itu, kemudian yang kedua ya kitanya juga kompetensinya naik,” kata Abdul Manan.

    Bagi Abdul Manan, pengalaman tiga hari di Cimahi akhirnya bukan hanya tentang rasa lelah setelah perjalanan semalaman dari Semarang atau grogi menghadapi pengujian.

    Pertemuan dengan sesama pengajar, kesempatan berbagi pengalaman, hingga kembali dipaksa berhadapan dengan keterampilan Braille yang mulai jarang digunakannya menjadi bagian dari proses belajar.

    Sebuah pengalaman yang, seperti istilah yang dipilihnya sendiri, terasa “nano-nano”: capek, mengantuk, senang, sekaligus berdebar-debar.

  • APQBI Kejar Pengakuan Negara bagi Pengajar Al-Qur’an Braille, SKKNI dan BNSP Jadi Target Berikutnya

    APQBI Kejar Pengakuan Negara bagi Pengajar Al-Qur’an Braille, SKKNI dan BNSP Jadi Target Berikutnya

    Cimahi, Itmi.or.id – Asosiasi Pengajar Qur’an Braille Indonesia (APQBI) terus mendorong agar kompetensi pengajar Al-Qur’an Braille mendapatkan pengakuan formal dari negara.

    Setelah melalui proses standardisasi yang berjalan selama beberapa tahun, pengembangan menuju Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan pengakuan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) menjadi agenda yang akan diperjuangkan berikutnya.

    Hal tersebut disampaikan Ketua APQBI Ust. Yayat Ruhyat, S.Pd. saat menutup Uji Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille Gelombang III di Sekretariat Pimpinan Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PP ITMI), Kota Cimahi, Jawa Barat, Ahad (16/8/2026).

    “Kita insyaa Allah terus berusaha agar para pengajar Qur’an Braille dapat pengakuan oleh negara. Dari sektor formal, ke depannya insyaa Allah SKKNI, BNSP kita upayakan. Semoga membuahkan hasil sebagaimana yang kita inginkan,” kata Ust. Yayat.

    Upaya tersebut menjadi kelanjutan dari perjalanan panjang peningkatan kualitas pengajar Al-Qur’an Braille. Bagi APQBI, kemampuan mengajar yang telah tumbuh di berbagai daerah perlu diperkuat dengan standardisasi sekaligus pengakuan terhadap kompetensi para pengajarnya.

    Tiga Hari Dinilai Belum Cukup

    Uji kompetensi gelombang ketiga berlangsung selama tiga hari. Para peserta menjalani rangkaian kegiatan sejak pretest, pembekalan, hingga praktik kerja lapangan di SLBN-A Citeureup, Cimahi.

    Yayat mengakui waktu tiga hari belum cukup untuk mendalami seluruh pengetahuan dan keterampilan dalam pengajaran Al-Qur’an Braille.

    “Tiga hari, sebetulnya tidak cukup ya. Tetapi mudah-mudahan dapat terus ditingkatkan ke depannya ilmunya,” ujarnya.

    Karena itu, peserta diharapkan tidak berhenti belajar setelah kegiatan berakhir. Pengetahuan yang diperoleh selama uji kompetensi juga diharapkan dapat memberikan dampak ketika mereka kembali ke lingkungan masing-masing.

    “Semoga kita dapat berkontribusi terhadap lingkungan, keluarga, masyarakat, sehingga inklusif,” kata Yayat.

    Dari Rencana Hotel hingga “Cuma Rencana”

    Di tengah laporan penutupan, Ust. Yayat turut berbicara mengenai penyelenggaraan kegiatan. Ia mengapresiasi seluruh pihak yang telah bekerja selama rangkaian uji kompetensi.

    Mulai dari penyelenggara, fasilitator, hingga Al-Hawari disebut ikut berjibaku menyukseskan kegiatan.

    “Terima kasih dari semuanya yang telah berjibaku, penyelenggara, fasilitator, hingga Al-Hawari. Tanpa kerja sama yang baik, semuanya tidak akan berjalan dengan lancar,” ujarnya.

    Ust. Yayat mengatakan panitia sejak awal ingin memberikan pelayanan terbaik kepada peserta dan tamu yang datang dari berbagai daerah.

    Namun, ia tidak menutupi keterbatasan yang dihadapi penyelenggara.

    “Kami berharap sebagai penyelenggara, kepada tamu agar dapat diberikan pelayanan yang baik, ditata dan dijamu. Tetapi ya beginilah kemampuan kami,” katanya.

    Ia lantas mengungkap rencana awal penyelenggaraan yang rupanya belum dapat diwujudkan.

    “Semula kan rencananya mau di hotel, dan uang transportasi diberikan. Tapi kan cuma rencana.”

    Pernyataan itu mencairkan suasana penutupan. Ust. Yayat berharap keterbatasan tersebut tidak mengurangi nilai perjuangan para peserta yang telah mengikuti kegiatan hingga selesai.

    “Semoga menjadi catatan amal kebaikan untuk bapak ibu,” ujarnya.

    “Matanya Bisa Masuk Surga”

    Ust. Yayat kembali menyelipkan humor ketika berbicara mengenai kontribusi peserta setelah kembali ke masyarakat.

    Menurut dia, pengetahuan yang diperoleh harus diarahkan agar memberikan manfaat, bukan sekadar menjadi bekal pribadi.

    “Kita sudah dijamin matanya bisa masuk surga. Tinggal yang lain-lainnya harus kita arahkan agar tidak kabawa sakaba-kaba, tidak asal meraba,” kata Ust. Yayat.

    Ungkapan “kabawa sakaba-kaba” dalam bahasa Sunda kurang lebih menggambarkan keadaan terbawa ke mana-mana tanpa arah. Ust. Yayat menggunakannya sebagai permainan kata dengan kondisi tunanetra yang mengandalkan perabaan.

    Di balik gurauan tersebut, ia menekankan pentingnya arah yang jelas dalam pengembangan kompetensi para pengajar.

    Pengakuan Kompetensi Jadi Perjuangan Berikutnya

    Dorongan menuju pengakuan formal tidak muncul setelah uji kompetensi gelombang ketiga saja.

    Pada pembukaan kegiatan, Ust. Yayat sebelumnya menjelaskan bahwa APQBI telah berkomunikasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Agama. Tujuannya agar pengajar Al-Qur’an Braille yang selama ini bekerja di tengah masyarakat memiliki posisi dan kompetensi yang semakin jelas.

    APQBI ingin pengakuan terhadap para pengajar tidak berhenti pada komunitas tempat mereka mengabdi.

    Uji kompetensi menjadi salah satu bagian dari proses tersebut. Namun, sebagaimana disampaikan Yayat, pekerjaan berikutnya adalah membawa standardisasi pengajar Al-Qur’an Braille semakin dekat dengan sistem pengakuan kompetensi secara nasional.

    Jika upaya menuju SKKNI dan BNSP tersebut dapat diwujudkan, APQBI berharap kompetensi para pengajar Al-Qur’an Braille memiliki pijakan yang semakin kuat.

    Dengan demikian, perjuangan yang dibawa pulang dari Cimahi bukan hanya bagaimana peserta semakin terampil mengajar Al-Qur’an Braille, tetapi juga bagaimana profesi dan kompetensi mereka kelak memperoleh pengakuan yang layak dari negara.