Assalamu'alaykum Ikhwah Fillah,


Komplek Cijerah II, Blok I KSB 5 Sukaasih RT. 01 RW. 31, Kel. Melong Kec. Cimahi Selatan, Cimahi 40534 Telepon 022 6000 173

IKATAN TUNANETRA MUSLIM INDONESIA

Sekilas Tentang ITMI

IKATAN TUNANETRA MUSLIM INDONESIA, Yang selanjutnya disingkat menjadi
ITMI, adalah organisasi kemasyarakatan
Tunanetra berskala nasional yang mengusung visi
Izul Islam Wal Muslimin Wal Ma'fufin (Kemuliaan Agama Islam, Kaum Muslimin dan Kaum Tunanetra).

Sejarah Singkat ITMI

Atas prakarsa Yayasan Himpunan Tunanetra Islam dan Kelompok Tunanetra Islam Bandung, maka diselenggarakanlah sebuah pertemuan yang diberi nama
Musyawarah Nasional Tunanetra Islam (MUNASTI) di Lembang Kabupaten Bandung Barat pada tanggal 23-25 Muharam 1420 Hijriyah,
atau 9-11 Mei 1999 Masehi.
Dalam suasana yang dinamis, demokratis dan kekeluargaan yang dilandasi semangat Ukhuwah Islamiyah,
MUNASTI tersebut melahirkan sebuah Organisasi Tunanetra Muslim di Indonesia dengan nama Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI).

Pentingnya Adab Dan Akhlaq Sebelum Ilmu

Bagikan Kepada Yang Lain

Itmi.or.id, Di era digital seperti sekarang, mencari ilmu menjadi semakin mudah.

Ceramah dapat ditonton melalui Gatget, kitab tersedia dalam bentuk digital, dan berbagai penjelasan agama dapat diakses hanya dengan beberapa sentuhan jari saja.

Namun, kemudahan itu ternyata tidak selalu melahirkan keberkahan.

Tidak sedikit orang yang semakin banyak ilmunya, tetapi justru semakin mudah meremehkan orang lain, gemar berdebat, bahkan merasa paling benar.

Fenomena ini mengingatkan kita pada satu prinsip penting dalam Islam, yaitu adab didahulukan sebelum ilmu.

Para ulama sejak dahulu tidak hanya mengajarkan bagaimana memahami Al-Qur’an dan hadis, tetapi juga bagaimana bersikap ketika menuntut ilmu. Sebab, ilmu yang tidak dibarengi adab dapat menjadi sebab munculnya kesombongan, sedangkan adab akan mengantarkan seseorang memperoleh ilmu yang bermanfaat.

Adab adalah Pintu Masuk Ilmu

Dalam tradisi keilmuan Islam, adab memiliki kedudukan yang sangat tinggi.

Adab bukan sekadar sopan santun dalam berbicara, tetapi mencakup cara menghormati guru, memuliakan ilmu, menjaga niat, menghargai sesama penuntut ilmu, hingga menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Seorang murid yang datang kepada gurunya dengan hati yang tawadhu akan lebih mudah menerima pelajaran dibandingkan orang yang datang dengan perasaan sudah mengetahui segalanya.

Karena itu, banyak ulama mengajarkan bahwa sebelum seseorang sibuk menghafal banyak kitab, ia harus terlebih dahulu memperbaiki adabnya.

Para Ulama Lebih Dahulu Mempelajari Adab

Abdullah bin Mubarak rahimahullah pernah berkata:

“Kami mempelajari adab selama tiga puluh tahun, kemudian mempelajari ilmu selama dua puluh tahun.”

Ungkapan tersebut bukan berarti ilmu tidak penting.

Justru sebaliknya, beliau ingin menunjukkan bahwa adab merupakan fondasi yang akan menjaga ilmu agar menjadi manfaat, bukan musibah.

Baca juga:  Dari Ucapan Anak, Ipan Hidayatulloh Mantapkan Niat Berhaji

Begitu pula Imam Malik rahimahullah pernah berpesan kepada seorang pemuda Quraisy agar mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu.

Nasihat tersebut menjadi bukti bahwa para ulama salaf sangat memperhatikan pembentukan akhlak sebelum memperbanyak pengetahuan.

Ilmu Tanpa Adab Dapat Menjadi Fitnah

Ilmu adalah cahaya. Namun, cahaya itu bisa redup apabila berada di dalam hati yang dipenuhi kesombongan.

Kita sering menjumpai seseorang yang pandai menyampaikan dalil, tetapi lisannya mudah menyakiti orang lain.

Ada pula yang hafal banyak hadis, tetapi gemar merendahkan pendapat saudaranya.

Bahkan, tidak sedikit orang yang baru mempelajari sedikit ilmu sudah berani menyalahkan para ulama.

Padahal, tujuan ilmu bukan untuk memenangkan perdebatan, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki akhlak.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Hadis tersebut menunjukkan bahwa akhlak merupakan bagian penting dalam risalah Islam. Maka, tidak pantas apabila seseorang mengaku menuntut ilmu agama, tetapi justru kehilangan kelembutan dalam bersikap.

Menghormati Guru adalah Bagian dari Adab

Salah satu bentuk adab yang mulai dilupakan adalah menghormati guru.

Guru bukan hanya orang yang menyampaikan materi. Ia adalah perantara sampainya ilmu kepada kita. Oleh karena itu, para ulama terdahulu sangat menjaga adab terhadap guru mereka.

Mereka tidak memotong pembicaraan gurunya, tidak mengangkat suara di hadapannya, tidak tergesa-gesa menyanggah, bahkan merasa malu apabila duduk dengan sikap yang tidak sopan ketika belajar.

Menghormati guru bukan berarti mengkultuskannya. Seorang guru tetaplah manusia yang dapat melakukan kesalahan. Namun, penghormatan terhadap guru merupakan bentuk penghormatan kepada ilmu yang dibawanya.

Menjaga Niat dalam Menuntut Ilmu

Adab juga dimulai dari niat.

Baca juga:  Persiapan Disabilitas Memasuki Dunia Kerja

Mengapa seseorang belajar agama? Apakah untuk mencari ridha Allah atau sekadar ingin dianggap pintar?

Niat yang benar akan melahirkan kerendahan hati. Sebaliknya, niat yang keliru akan menjadikan ilmu sebagai alat untuk mencari popularitas, pengikut, kedudukan, atau pujian manusia.

Karena itu, para ulama selalu mengingatkan agar niat terus diperbaiki. Menuntut ilmu adalah ibadah. Sebagaimana ibadah lainnya, ia harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah.

Buah dari Adab

Orang yang menjaga adab akan lebih mudah menerima nasihat. Ia tidak malu mengakui kesalahan, tidak gengsi bertanya ketika belum memahami sesuatu, dan tidak merasa dirinya paling benar.

Sebaliknya, orang yang kehilangan adab biasanya sulit menerima kebenaran apabila datang dari orang lain. Ia lebih sibuk mempertahankan pendapat daripada mencari mana yang paling benar.

Inilah sebabnya adab sering disebut sebagai wadah bagi ilmu. Semakin baik wadahnya, semakin baik pula ilmu yang tersimpan di dalamnya.

Ilmu yang disertai adab akan melahirkan akhlak yang baik. Sebaliknya, pengetahuan yang tidak disertai kerendahan hati dapat menjerumuskan seseorang kepada kesombongan.

Mulailah dari Hal-Hal Sederhana

Adab bukan sesuatu yang hanya dibahas di dalam kitab-kitab klasik. Ia harus tampak dalam kehidupan sehari-hari.

Mengucapkan salam ketika datang ke majelis, mendengarkan ketika orang lain berbicara, tidak memotong penjelasan guru, menjaga lisan di media sosial, menghargai perbedaan pendapat dalam masalah ijtihad, serta mengamalkan ilmu yang telah dipelajari merupakan bagian dari adab seorang Muslim.

Sering kali seseorang ingin mengetahui pembahasan yang tinggi dan rumit, tetapi melupakan adab yang paling dasar. Padahal, keberkahan ilmu justru dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan istiqamah.
Membaca Al-Qur’an, mempelajari hadis, dan mendengarkan penjelasan para ulama perlu dibarengi dengan kesediaan untuk memperbaiki akhlak.

Baca juga:  Keutamaan Doa dalam Islam: Jangan Pernah Putus Harap kepada Allah

Sebab, ukuran keberhasilan dalam belajar bukan hanya banyaknya pengetahuan, tetapi juga perubahan sikap setelah memperoleh ilmu.

Jangan Sampai Ilmu Menjauhkan Kita dari Akhlak

Semakin banyak ilmu yang dimiliki, semestinya semakin lembut pula perkataan seseorang. Semakin luas pengetahuannya tentang Al-Qur’an dan hadis, seharusnya semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah.

Apabila bertambahnya pengetahuan justru membuat seseorang mudah menghina, merendahkan, dan menganggap dirinya paling benar, berarti ada yang perlu diperbaiki dalam cara ia menuntut ilmu.

Adab akan menjaga seseorang agar tidak menggunakan ilmu untuk menyerang orang lain. Akhlak yang baik juga membuat ilmu terasa menyejukkan, bukan menakutkan atau menjauhkan orang dari agama.

Penutup

Di zaman ketika informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik, adab justru menjadi sesuatu yang semakin mahal nilainya.

Banyak orang mampu mengutip ayat Al-Qur’an dan hadis, tetapi belum tentu mampu mengendalikan lisan, menjaga hati, atau menghormati guru.

Karena itu, mari jangan hanya berdoa agar Allah menambah ilmu kita. Mohonlah juga agar Allah menghiasi diri kita dengan adab dan akhlak yang mulia.
Sebab, ilmu yang bermanfaat lahir dari hati yang bersih, niat yang lurus, serta akhlak yang baik.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tidak hanya bersemangat mencari ilmu, tetapi juga dimuliakan dengan adab. Semoga apa yang kita pelajari dari Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan para ulama benar-benar menjadi cahaya bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


Tentang Penulis

Avatar Dwi Citolaksono

Baca Postingan Lainnya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bersatu, Berdaya, dan Berkembang Bersama Sesama Muslim Tunanetra

Jadilah bagian dari keluarga besar Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia
organisasi perjuangan, pemberdayaan, dan persaudaraan tunanetra muslim di seluruh Indonesia.

MANFAAT MENJADI ANGGOTA ITMI

Advokasi Dan Pendampingan

Mendapat dukungan advokasi hak-hak tunanetra dalam bidang pendidikan, pekerjaan, dan layanan publik.

Kartu Tanda Anggota resmi

Peroleh kartu tanda anggota (KTA) ITMI yang diakui secara nasional sebagai identitas resmi.

Solidaritas dan ukhuwah

Bergabung menjadi Bagian dari komunitas yang saling mendukung dalam keimanan, kehidupan sosial, dan kesejahteraan.

Informasi Dan Kegiatan

Dapatkan informasi terkini seputar kegiatan, beasiswa, lowongan kerja, dan program khusus tunanetra.

Pelajari Cara Mendaftar ↗️

CARA MENDAFTAR

Pelajari cara mendaftar dan mendapatkan KTAI (Kartu Tanda Anggota ITMI) Daftar Sekarang

Visi

Izul Islam Wal Muslimin Wal Ma’fufin (Kemuliaan Agama Islam, Kaum Muslimin dan Kaum Tunanetra

Misi

Untuk mewujudkan Visi tersebut, Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) memiliki Misi sebagai berikut :

Menegakkan Syari’at Islam.
Menjalin Ukhuwah Islamiah dengan berbagai pihak berlandaskan Al–Qur’an dan As-Sunnah.
Selengkapnya

Tujuan Organisasi

Dengan berdirinya ITMI, bertujuan untuk:
Menegakkan Syariat Islam.
Memperkuat Dakwah, Ukhuwah dan Jam’iah sehingga tercapai Kemuliaan Agama Islam Tunanetra Muslim dan Umat Islam.
Menjalin Ukhuwah Islamiah dengan berbagai pihak berlandaskan Al–Qur’an dan As-Sunnah.
Selengkapnya
Struktur Jenjang Organisasi
Kiprah & Kerjasama

Dalam melakukan kiprahnya, ITMI telah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, baik Pemerintah maupun non-pemerintah, LSM, Ormas, dan sebagainya.

Untuk menjaga keberlangsungan kiprahnya dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi umat, ITMI senantiasa membuka kerjasama dengan berbagai pihak.

Diantara kiprah dan kerjasama yang telah dan selalu dilakukan ITMI adalah :

Pembebasan buta huruf Al-Quran Braille.
Pendistribusian Al-Quran Braille.
Pendistribusian buku-buku Ke-Islaman.
Selengkapnya

Program-program
Penyusunan Modul/Pedoman berkaitan dengan peningkatan kemampuan keorganisasian untuk Pengurus Pusat, Wilayah, dan Daerah.
Menyelenggarakan kegiatan pembelajaran bahasa Arab.
Menyelenggarakan kegiatan Training of Trainer Al-Quran Braille.
Menyelenggarakan pelatihan Kewirausahaan, seperti Digital/Marketing Online, kerajinan tangan membuat manik-manik, keset, massage, dll.
Selengkapnya

Dukung Program ITMI

Program dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan tunanetra muslim berjalan berkat dukungan para dermawan. Partisipasi Anda membantu membuka kesempatan yang lebih luas bagi saudara-saudara tunanetra untuk belajar, berkarya, dan mandiri.

Ikuti Kegiatan Kami

Dapatkan kabar terbaru program dan kegiatan ITMI melalui media sosial.

Kalam Mutiara