Ditulis oleh
Kategori
Islam memandang keluarga sebagai pondasi utama kehidupan masyarakat. Karena itu, syariat memberikan aturan yang jelas tentang tanggung jawab setiap anggota keluarga, terutama peran seorang suami sebagai pemimpin rumah tangga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya. [An-Nisa/4: 34]
Kata qawwam berasal dari akar kata yang berarti berdiri tegak, menjaga, mengurus, dan melaksanakan sesuatu dengan sungguh-sungguh hingga sempurna. Suami adalah qawwaam sebagai kepala keluarga, suami bertanggung jawab untuk melindungi, mengayomi, mengurusi, dan mengupayakan kemaslahatan keluarga.
Seorang suami bukan hanya kepala rumah tangga secara administratif, melainkan pemikul amanah besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tanggung jawab seorang suami bukan hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi juga terhadap istri dan anak-anaknya. Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ٦ Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [at-Tahrim/66: 6]
Inilah hakikat kepemimpinan dalam Islam. Seorang suami bertanggung jawab menjaga keluarganya agar tetap berada di jalan Allah dan selamat dari api neraka.
Ketika seorang suami memahami dirinya sebagai qawwam, maka ia tidak akan bersikap semena-mena terhadap istri dan anak-anaknya.
Ia sadar bahwa keluarga bukanlah miliknya, melainkan amanah dari Allah. Karena itu, kepemimpinan dalam Islam bukan alat untuk menindas, melainkan sarana untuk melayani, membimbing, dan menjaga.
Seorang suami yang memahami amanahnya akan berusaha untuk
Ia memahami bahwa keselamatan keluarganya sangat bergantung pada kesungguhan dirinya dalam menjalankan amanah tersebut.
Allah menjelaskan sebab laki-laki menjadi qawwam; “Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.” [An-Nisa/4: 34].
Kelebihan yang Allah berikan kepada laki-laki bukanlah alasan untuk sombong atau merasa lebih tinggi. Justru kelebihan itu adalah amanah dan tanggung jawab.
Pada umumnya, laki-laki memiliki kemampuan menghadapi berbagai persoalan secara bersamaan, terutama dalam urusan-urusan publik dan tanggung jawab sosial. Namun semua kelebihan itu bukan untuk membanggakan diri. Karena itulah ayat ini ditutup dengan pengingat tentang sifat Allah: “Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
Pesannya sangat jelas: jangan sampai kelebihan yang diberikan Allah melahirkan kesombongan. Sebab kesombongan justru merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah Allah.
Allah melanjutkan firman-Nya: “Dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” [An-Nisa/4: 34]
Ayat ini menegaskan bahwa salah satu bentuk tanggung jawab seorang suami adalah memberikan nafkah kepada keluarganya. Nafkah bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi bagian dari ibadah dan pengorbanan seorang laki-laki demi keluarganya.
Menariknya, Al-Qur’an menggunakan kata “min amwalihim” — sebagian dari harta mereka. Ini menunjukkan bahwa seorang suami harus memiliki kesungguhan dalam bekerja dan mencari rezeki agar kebutuhan keluarganya tercukupi dengan layak.
Karena itu, seorang suami tidak boleh bermalas-malasan dalam mencari nafkah. Ia harus berikhtiar sekuat tenaga demi menjaga kehormatan dan kesejahteraan keluarganya.
Banyak orang bersemangat bersedekah kepada orang lain, tetapi lupa memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa nafkah kepada keluarga termasuk sedekah yang paling utama. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
أَفْضَلُ الدِّينَارِ دِينَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ “Dinar yang paling utama adalah dinar yang dibelanjakan seseorang untuk keluarganya.” (HR. Muslim)
Bahkan setiap makanan yang diberikan seorang suami kepada istrinya bernilai pahala di sisi Allah. Karena itu, memenuhi kebutuhan keluarga tidak boleh dianggap sebagai beban semata. Ia adalah amal saleh yang bernilai sedekah.
Keluarga yang baik bukan hanya keluarga yang tercukupi kebutuhan materinya, tetapi juga yang tumbuh dalam semangat berbagi.
Seorang suami hendaknya mendidik istrinya untuk gemar bersedekah. Ketika seorang istri menggunakan sebagian harta keluarga untuk membantu orang tua, saudara, tetangga, atau orang yang membutuhkan, maka suami pun ikut mendapatkan pahala selama ia meridhainya. Dengan demikian, rumah tangga menjadi ladang amal yang penuh keberkahan.
Menjadi Qawwam bukan sekadar menjadi pengambil keputusan dalam rumah tangga. Lebih dari itu, seorang suami harus menjadi:
Kepemimpinan dalam Islam dibangun di atas amanah, kasih sayang, dan tanggung jawab, bukan kekuasaan dan kesewenang-wenangan.
Semakin besar amanah yang Allah berikan kepada seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya di hadapan Allah kelak.
Ayat tentang qawwam mengajarkan bahwa kepemimpinan seorang laki-laki dalam keluarga adalah amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan ketakwaan.
Keutamaan yang Allah berikan kepada laki-laki bukanlah alasan untuk berlaku sombong, melainkan dorongan untuk lebih sungguh-sungguh menjaga keluarga, memenuhi nafkah, serta membimbing istri dan anak-anak menuju ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga Allah menjadikan para suami sebagai pemimpin keluarga yang amanah, lembut dalam membimbing, kuat dalam menjaga, dan ikhlas dalam berkorban demi keluarganya.
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *
Komentar *
Nama *
Email *
Situs Web
Simpan nama, email, dan situs web saya pada peramban ini untuk komentar saya berikutnya.
Izul Islam Wal Muslimin Wal Ma’fufin (Kemuliaan Agama Islam, Kaum Muslimin dan Kaum Tunanetra
Untuk mewujudkan Visi tersebut, Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) memiliki Misi sebagai berikut :
Dalam melakukan kiprahnya, ITMI telah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, baik Pemerintah maupun non-pemerintah, LSM, Ormas, dan sebagainya.
Untuk menjaga keberlangsungan kiprahnya dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi umat, ITMI senantiasa membuka kerjasama dengan berbagai pihak.
Diantara kiprah dan kerjasama yang telah dan selalu dilakukan ITMI adalah :
Program dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan tunanetra muslim berjalan berkat dukungan para dermawan. Partisipasi Anda membantu membuka kesempatan yang lebih luas bagi saudara-saudara tunanetra untuk belajar, berkarya, dan mandiri.
Dapatkan kabar terbaru program dan kegiatan ITMI melalui media sosial.