Assalamu'alaykum Ikhwah Fillah,


Komplek Cijerah II, Blok I KSB 5 Sukaasih RT. 01 RW. 31, Kel. Melong Kec. Cimahi Selatan, Cimahi 40534 Telepon 022 6000 173

IKATAN TUNANETRA MUSLIM INDONESIA

Sekilas Tentang ITMI

IKATAN TUNANETRA MUSLIM INDONESIA, Yang selanjutnya disingkat menjadi
ITMI, adalah organisasi kemasyarakatan
Tunanetra berskala nasional yang mengusung visi
Izul Islam Wal Muslimin Wal Ma'fufin (Kemuliaan Agama Islam, Kaum Muslimin dan Kaum Tunanetra).

Sejarah Singkat ITMI

Atas prakarsa Yayasan Himpunan Tunanetra Islam dan Kelompok Tunanetra Islam Bandung, maka diselenggarakanlah sebuah pertemuan yang diberi nama
Musyawarah Nasional Tunanetra Islam (MUNASTI) di Lembang Kabupaten Bandung Barat pada tanggal 23-25 Muharam 1420 Hijriyah,
atau 9-11 Mei 1999 Masehi.
Dalam suasana yang dinamis, demokratis dan kekeluargaan yang dilandasi semangat Ukhuwah Islamiyah,
MUNASTI tersebut melahirkan sebuah Organisasi Tunanetra Muslim di Indonesia dengan nama Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI).

Cerita Abdul Manan Ikut Uji Kompetensi Al-Qur’an Braille: Capek, Ngantuk, Senang, sampai Deg-degan

Bagikan Kepada Yang Lain

Cimahi, Itmi.or.id – Capek, mengantuk, senang, hingga berdebar-debar. Begitulah Abdul Manan, (49) peserta asal Semarang, Jawa Tengah, menggambarkan pengalamannya selama mengikuti Uji Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille Gelombang III di Kota Cimahi, Jawa Barat.

Kesan itu disampaikan Abdul Manan pada penutupan kegiatan di Sekretariat pengurus pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PP ITMI), Ahad (16/8/2026).

Didapuk mewakili peserta untuk menyampaikan kesan dan pesan, Abdul Manan sejak awal mengaku sebenarnya belum sempat berembuk dengan peserta lain mengenai apa yang harus disampaikannya.

“Saya mewakili, walau sebenarnya belum pernah rembuk apa kesan pesan saya. Tapi saya mencoba, semoga tidak ada pertentangan,” kata Abdul Manan.

Ia kemudian menggambarkan tiga hari kegiatan dengan satu istilah sederhana: nano-nano.

“Saya merasa di sini campur aduk. Capek, ngantuk, senang, juga debar-debar. Ya macam-macam lah, nano-nano.”

Rasa lelah itu sudah dimulai bahkan sebelum kegiatan berlangsung. Abdul Manan harus menempuh perjalanan darat dari Semarang menuju Cimahi menggunakan bus.

Ia berangkat malam hari dan baru tiba pada pagi hari. Setibanya di Sekretariat PP ITMI, ia langsung mengikuti rangkaian kegiatan.

Baca juga:  ITMI Luncurkan Website dan Cetak Perdana KTAI, Pendataan Anggota Tembus 2212 Orang

“Capeknya itu naik bus dari Semarang, dari malam ke pagi. Pagi sampai ITMI, langsung mulai kegiatan,” tuturnya.

Rutinitas tidurnya juga harus berubah. Jika biasanya ia dapat beristirahat pada siang hari, padatnya agenda membuat kebiasaan tersebut untuk sementara harus ditinggalkan.

“Ngantuknya, ya, saya biasa tidur siang, di sini enggak bisa,” selorohnya.

Namun, perjalanan panjang dan rasa kantuk terbayar oleh kesempatan bertemu dengan sesama pengajar Al-Qur’an Braille dari berbagai daerah.

“Senangnya saya bisa ketemu dengan teman-teman yang biasanya enggak bisa ketemu, hanya di online,” katanya.

Pertemuan itu juga membuka kesempatan untuk mengenal peserta yang sebelumnya belum pernah ditemui sekaligus bertukar pengalaman.

“Yang lainnya di sini yang belum kenal bisa kenalan dan saling berbagi,” ujarnya.

Ada satu perasaan lain yang menyertai Abdul Manan selama kegiatan: berdebar-debar.

Berbeda dengan pertemuan biasa, kali ini ia datang untuk menjalani uji kompetensi. Kemampuan yang selama ini digunakan dalam pengajaran harus diuji.

“Debar-debarnya saya di sini diuji, grogi juga. Apalagi saya enggak terbiasa nulis Braille, sudah enggak terbiasa, disuruh nulis RPP lagi,” katanya.

Baca juga:  Breaking News, Ketua Majelis Syura ITMI Dilarikan ke Rumah Sakit

Menulis Braille menjadi tantangan tersendiri. Abdul Manan mengaku sudah tidak terbiasa melakukannya sehingga tugas penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) membuatnya sempat kebingungan.

Ia bersyukur para pengajar memahami kondisi yang dialaminya.

“Alhamdulillah dari pengajarnya maklum, tahu saya pusing dan kebingungan,” ujarnya.

Pengalaman selama uji kompetensi justru mengubah cara pandangnya terhadap salah satu kemampuan dasar yang selama ini mulai jarang digunakannya.

Sebelum mengikuti kegiatan, Abdul Manan menganggap kemampuan menulis Braille tidak terlalu penting baginya. Namun, ketika mengikuti rangkaian uji kompetensi, ia menyadari kemampuan tersebut tetap diperlukan seorang pengajar Al-Qur’an Braille.

“Saya sendiri merasa menulis Braille menurut saya enggak penting, tapi di sini saya jadi merasa perlu. Saya nulis selembar aja sudah capek,” katanya.

Kesadaran tersebut menjadi salah satu hal yang ia bawa pulang dari Cimahi. Uji kompetensi, menurut dia, tidak sekadar menguji kemampuan yang sudah dikuasai, tetapi juga memperlihatkan bagian-bagian yang perlu kembali dilatih.

Baca juga:  APQBI Kejar Pengakuan Negara bagi Pengajar Al-Qur'an Braille, SKKNI dan BNSP Jadi Target Berikutnya

Pengakuan Pengajar Juga Membutuhkan Kompetensi

Abdul Manan berharap uji kompetensi seperti ini terus diselenggarakan. Menurutnya, peningkatan kemampuan menjadi penting di tengah perjuangan APQBI agar pengajar Al-Qur’an Braille mendapatkan pengakuan yang lebih kuat.

“Pesan saya, kalau bisa ukom ini sangat diperlukan, jadi terus terselenggara,” ujarnya.

Ia memahami perjuangan memperoleh pengakuan tersebut juga membawa konsekuensi bagi para pengajar. Jika ingin kompetensinya mendapat pengakuan formal, mereka harus siap memenuhi persyaratan yang ditentukan.

“Apalagi APQBI ingin memperjuangkan kita sebagai pengajar. Sedangkan pemerintah sendiri punya prasyarat. Prasyaratnya yang utama ya administrasinya itu, kemudian yang kedua ya kitanya juga kompetensinya naik,” kata Abdul Manan.

Bagi Abdul Manan, pengalaman tiga hari di Cimahi akhirnya bukan hanya tentang rasa lelah setelah perjalanan semalaman dari Semarang atau grogi menghadapi pengujian.

Pertemuan dengan sesama pengajar, kesempatan berbagi pengalaman, hingga kembali dipaksa berhadapan dengan keterampilan Braille yang mulai jarang digunakannya menjadi bagian dari proses belajar.

Sebuah pengalaman yang, seperti istilah yang dipilihnya sendiri, terasa “nano-nano”: capek, mengantuk, senang, sekaligus berdebar-debar.


Tentang Penulis

Avatar Media Officer

Baca Postingan Lainnya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bersatu, Berdaya, dan Berkembang Bersama Sesama Muslim Tunanetra

Jadilah bagian dari keluarga besar Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia
organisasi perjuangan, pemberdayaan, dan persaudaraan tunanetra muslim di seluruh Indonesia.

MANFAAT MENJADI ANGGOTA ITMI

Advokasi Dan Pendampingan

Mendapat dukungan advokasi hak-hak tunanetra dalam bidang pendidikan, pekerjaan, dan layanan publik.

Kartu Tanda Anggota resmi

Peroleh kartu tanda anggota (KTA) ITMI yang diakui secara nasional sebagai identitas resmi.

Solidaritas dan ukhuwah

Bergabung menjadi Bagian dari komunitas yang saling mendukung dalam keimanan, kehidupan sosial, dan kesejahteraan.

Informasi Dan Kegiatan

Dapatkan informasi terkini seputar kegiatan, beasiswa, lowongan kerja, dan program khusus tunanetra.

Pelajari Cara Mendaftar ↗️

CARA MENDAFTAR

Pelajari cara mendaftar dan mendapatkan KTAI (Kartu Tanda Anggota ITMI) Daftar Sekarang

Visi

Izul Islam Wal Muslimin Wal Ma’fufin (Kemuliaan Agama Islam, Kaum Muslimin dan Kaum Tunanetra

Misi

Untuk mewujudkan Visi tersebut, Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) memiliki Misi sebagai berikut :

Menegakkan Syari’at Islam.
Menjalin Ukhuwah Islamiah dengan berbagai pihak berlandaskan Al–Qur’an dan As-Sunnah.
Selengkapnya

Tujuan Organisasi

Dengan berdirinya ITMI, bertujuan untuk:
Menegakkan Syariat Islam.
Memperkuat Dakwah, Ukhuwah dan Jam’iah sehingga tercapai Kemuliaan Agama Islam Tunanetra Muslim dan Umat Islam.
Menjalin Ukhuwah Islamiah dengan berbagai pihak berlandaskan Al–Qur’an dan As-Sunnah.
Selengkapnya
Struktur Jenjang Organisasi
Kiprah & Kerjasama

Dalam melakukan kiprahnya, ITMI telah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, baik Pemerintah maupun non-pemerintah, LSM, Ormas, dan sebagainya.

Untuk menjaga keberlangsungan kiprahnya dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi umat, ITMI senantiasa membuka kerjasama dengan berbagai pihak.

Diantara kiprah dan kerjasama yang telah dan selalu dilakukan ITMI adalah :

Pembebasan buta huruf Al-Quran Braille.
Pendistribusian Al-Quran Braille.
Pendistribusian buku-buku Ke-Islaman.
Selengkapnya

Program-program
Penyusunan Modul/Pedoman berkaitan dengan peningkatan kemampuan keorganisasian untuk Pengurus Pusat, Wilayah, dan Daerah.
Menyelenggarakan kegiatan pembelajaran bahasa Arab.
Menyelenggarakan kegiatan Training of Trainer Al-Quran Braille.
Menyelenggarakan pelatihan Kewirausahaan, seperti Digital/Marketing Online, kerajinan tangan membuat manik-manik, keset, massage, dll.
Selengkapnya

Dukung Program ITMI

Program dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan tunanetra muslim berjalan berkat dukungan para dermawan. Partisipasi Anda membantu membuka kesempatan yang lebih luas bagi saudara-saudara tunanetra untuk belajar, berkarya, dan mandiri.

Ikuti Kegiatan Kami

Dapatkan kabar terbaru program dan kegiatan ITMI melalui media sosial.

Kalam Mutiara