Kategori: Artikel

  • Dari Ucapan Anak, Ipan Hidayatulloh Mantapkan Niat Berhaji

    Photo 1, Ipan Hidayatulloh Saat berada di Kota Suci Makah
    Photo 2, Ipan Hidayatulloh Saat Berada Di Kota Suci Makah

    Makkah, itmi.or.id — Di tengah jutaan jamaah dari berbagai penjuru dunia yang mulai memadati Tanah Suci, ada satu kisah yang diam-diam menyimpan perjalanan panjang tentang doa, ikhtiar, dan harapan. Kisah seorang jama’ah tunanetra asal Indonesia.

    Ia adalah Ipan Hidayatulloh, M.Pd., pengurus Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) yang tahun ini akhirnya dapat menunaikan ibadah haji setelah melalui proses yang tidak singkat.

    Bagi Ipan, berhaji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Makkah. Ada proses bertahun-tahun yang ia lalui sebagai seorang tunanetra, mulai dari menata niat, menabung perlahan, menghadapi antrean panjang, hingga mencari akses informasi mengenai layanan bagi jamaah disabilitas.

    Di sela persiapannya menjelang puncak ibadah haji, Ipan membagikan kisah tersebut saat diwawancarai dari Makkah, Arab Saudi, Ahad (16/5/2026) via sambungan telepon.

    Menariknya, niat besar itu justru tumbuh dari sebuah momen sederhana bersama anak-anaknya.

    “Waktu itu anak-anak saya masih TK dan ikut kegiatan manasik haji,” ujar Ipan membuka cerita.

    Saat itu, kedua anaknya meminta agar uang kegiatan manasik disimpan saja untuk tabungan haji orangtuanya.

    “Anak-anak bilang, uangnya disimpan saja buat tabungan abah sama ummi naik haji,” katanya.

    Ucapan polos tersebut ternyata membekas cukup dalam di benaknya.

    “Disitu saya merenung. Waduh iya ya, anak-anak saya saja bisa mikirin sampai sejauh itu,” ucapnya.

    Sejak sekitar tahun 2014 hingga 2015, ia mulai menyisihkan penghasilan sedikit demi sedikit untuk mewujudkan keinginan berhaji. Pada 2019, ia resmi mendaftarkan diri sebagai calon jamaah haji. Namun perjalanan itu ternyata belum selesai.

    Sebagai penyandang tunanetra, Ipan mengaku sempat menghadapi kebingungan terkait akses program percepatan haji bagi disabilitas. Ia menyebut program tersebut sebenarnya ada, namun belum tersosialisasikan dengan baik kepada masyarakat.

    “Padahal program ini sangat membantu teman-teman disabilitas,” ujarnya.

    Ia bahkan sempat berkomunikasi dengan Komisi Nasional Disabilitas untuk mencari kepastian informasi terkait program tersebut. Hingga akhirnya, melalui bantuan sejumlah pihak dan relasi yang dimiliki, dirinya dapat memperoleh kesempatan mengikuti program percepatan haji.

    “Alhamdulillah akhirnya saya bisa berangkat,” katanya.

    Saat ini, Ipan menjalankan ibadah haji bersama istrinya. Selama berada di Arab Saudi, ia mengaku cukup terbantu dengan pelayanan yang diberikan kepada jamaah disabilitas.

    “Mulai dari akomodasi, transportasi, sampai mobilisasi sangat membantu,” tuturnya.

    Meski demikian, ia juga memberikan catatan bagi penyandang disabilitas yang bercita-cita menunaikan ibadah haji agar mempersiapkan kemampuan bahasa asing sejak dini.

    “Kalau bisa memahami bahasa disini, pelayanan dan komunikasi akan lebih mudah,” katanya.

    Selain aktif sebagai pengurus ITMI, Ipan juga dikenal sebagai seorang pendidik. Ia tercatat sebagai guru PNS di SMP Negeri 2 Wado, Sumedang sejak tahun 2010.

    Pria kelahiran Bandung, 4 April 1980 itu juga termasuk salah satu tokoh awal yang ikut membangun ITMI di Kota Bandung sejak 1999. Dalam perjalanan organisasinya, ia pernah menjadi Ketua PD ITMI Kota Bandung dan kini menjabat Ketua Bidang III Pengurus Pusat ITMI yang membidangi pemberdayaan dan kemuslimahan.

    Menjelang puncak ibadah haji, Ipan mengaku bersyukur dapat sampai di Tanah Suci setelah melewati perjalanan panjang yang penuh proses.

    Ia pun menitipkan doa dan harapan bagi tunanetra muslim di Indonesia agar suatu hari dapat menyempurnakan rukun Islam kelima.

    “Jangan lupa niat dan sempurnakan ikhtiarnya,” ujar Ipan.

    Menurutnya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berharap.

    “Karena kita disabilitas, coba perkuat relasi. Siapa tahu Allah mudahkan jalannya seperti yang saya alami,” katanya.

  • Hakikat Kurban: Ibadah Ketaatan dan Keikhlasan kepada Allah

    Editor: Media Officer

    Muqadimah

    Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kepada-Nya kita memuji, memohon pertolongan, dan memohon ampunan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, penutup para nabi, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kepada kita nikmat iman, kesehatan, kesempatan, dan kekuatan sehingga dapat menghadiri majelis Jumat untuk memperbaharui ketakwaan kepada-Nya. Seorang muslim hendaknya menjadikan seluruh gerak hidupnya sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya:

    Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

    Ayat ini menegaskan bahwa seluruh aktivitas seorang mukmin harus dilandasi niat ibadah dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Kurban: Ibadah Sejak Awal Manusia

    Di antara bentuk ibadah yang telah ada sejak awal sejarah manusia adalah ibadah kurban. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan kisah dua putra Nabi Adam ‘Alaihissalam dalam Surah Al-Ma’idah, ketika keduanya mempersembahkan kurban kepada Allah. Salah satu kurban diterima, sedangkan yang lainnya ditolak.

    Kisah ini menunjukkan bahwa sejak dahulu manusia telah diajarkan untuk menyerahkan sebagian hartanya sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Pada masa itu, bentuk kurban belum terbatas pada hewan sembelihan sebagaimana yang kita kenal sekarang. Ada yang mempersembahkan hasil pertanian dan ada pula yang mempersembahkan hewan ternak. Semuanya disebut sebagai kurban.
    Dalam perkembangan syariat umat manusia, bentuk-bentuk pengorbanan harta kemudian memiliki istilah yang berbeda. Ada yang disebut sedekah, infak, dan ada pula yang secara khusus disebut mansak.

    Makna Mansak dalam Al-Qur’an

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 34 bahwa bagi setiap umat telah ditetapkan mansak atau tata cara ibadah tertentu.
    Kata mansak dalam Al-Qur’an mengandung makna syariat atau bentuk ibadah yang khas pada setiap umat dan zaman para nabi. Setiap nabi memiliki aturan ibadah yang berbeda sesuai ketetapan Allah pada masanya. Salat pada zaman Nabi Ibrahim tidak sama dengan salat pada zaman Nabi Musa, begitu pula berbeda dengan syariat pada masa Nabi Isa dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

    Kesempurnaan syariat itu kemudian ditetapkan pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Setelah beliau, tidak ada lagi syariat baru. Karena itu, segala bentuk ibadah yang dibuat-buat dan tidak memiliki dasar dari Rasulullah termasuk perkara yang tertolak.
    Dalam konteks ibadah kurban, mansak bermakna ibadah penyembelihan yang dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Kurban berbeda dengan zakat atau infak. Ketiganya sama-sama mengeluarkan harta, tetapi kurban memiliki kekhususan berupa penyembelihan hewan ternak sebagai bagian dari ibadah.

    Perbedaan Kurban Umat Terdahulu dan Umat Nabi Muhammad

    Pada umat sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, hewan kurban yang dipersembahkan tidak boleh dimakan oleh orang yang berkurban. Bahkan dalam sebagian syariat terdahulu, tanda diterimanya kurban adalah ketika kurban tersebut habis dilahap api.
    Berbeda dengan syariat Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Allah justru memerintahkan agar orang yang berkurban ikut memakan sebagian dari hewan kurbannya. Allah berfirman:

    Makanlah sebagian darinya dan berilah makan kepada orang yang membutuhkan.

    Ini menunjukkan bahwa syariat Islam adalah syariat yang penuh rahmat dan keseimbangan.
    Namun demikian, Islam juga mengajarkan adab distribusi kurban. Daging kurban hendaknya diprioritaskan kepada orang-orang yang membutuhkan, terutama mereka yang menjaga kehormatan diri dan tidak meminta-minta. Mereka inilah yang sering kali luput dari perhatian karena tidak tampak meminta bantuan.
    Karena itu, panitia kurban dan masyarakat perlu mengenali lingkungan sekitarnya agar distribusi kurban benar-benar sampai kepada yang membutuhkan.

    Tiga Bentuk Sembelihan Ibadah

    Dalam Islam terdapat tiga bentuk sembelihan yang bernilai ibadah:

    1. Hadyu, yaitu sembelihan bagi jamaah haji.
    2. Udhiyah, yaitu kurban yang dilakukan pada Hari Raya Iduladha bagi yang tidak berhaji.
    3. Akikah, yaitu sembelihan sebagai ungkapan syukur atas kelahiran anak.

    Selain itu, penyembelihan biasa untuk konsumsi sehari-hari hukumnya halal dan mubah selama dilakukan sesuai syariat.

    Yang diharamkan adalah menyembelih atas nama selain Allah, atau yang dikenal dengan istilah tumbal. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menegaskan bahwa siapa saja yang menyembelih untuk selain Allah maka ia telah melakukan dosa besar.

    Kurban dan Keikhlasan

    Dalam Surah Al-Kautsar, Allah berfirman:

    Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.

    Penekanan ayat ini bukan hanya pada salat dan kurbannya, melainkan pada kalimat “karena Tuhanmu”. Artinya, seluruh ibadah harus dilaksanakan dengan penuh keikhlasan hanya untuk Allah.
    Ibadah kurban memiliki sifat demonstratif; ia terlihat oleh manusia. Berbeda dengan puasa yang tersembunyi. Karena itu, ujian terbesar dalam ibadah kurban adalah keikhlasan. Seseorang bisa saja terjebak pada rasa bangga, riya, atau ingin dipuji karena hewan kurbannya.
    Padahal hakikat kurban bukanlah sekadar membagikan daging. Jika hanya ingin membagikan daging, tentu lebih mudah membeli daging di pasar lalu dibagikan kepada masyarakat. Akan tetapi, kurban memiliki nilai ibadah karena ada unsur penyembelihan yang dilakukan atas nama Allah.

    Di situlah letak spirit pengorbanan. Seorang muslim rela mengeluarkan hartanya demi menjalankan perintah Allah tanpa merasa sayang ataupun berat.

    Spirit Pengorbanan dalam Kehidupan

    Nilai kurban seharusnya tidak berhenti pada penyembelihan hewan semata. Semangat pengorbanan harus terus hidup dalam kehidupan seorang muslim.

    Masjid perlu dibangun dan dirawat. Anak-anak membutuhkan pendidikan. Fakir miskin memerlukan bantuan. Semua itu membutuhkan pengorbanan harta, tenaga, dan perhatian.
    Maka tanda diterimanya ibadah kurban bukan hanya selesai pada hari tasyrik, tetapi berlanjut pada semangat berbagi dan berkorban demi kemaslahatan umat.

    Penutup

    Kurban adalah simbol ketundukan, ketaatan, dan keikhlasan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia mengajarkan bahwa harta hanyalah titipan dan bahwa seorang mukmin harus siap berkorban demi meraih ridha Allah.
    Semoga Allah menerima amal ibadah kita, melimpahkan keikhlasan dalam hati, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang gemar berkorban di jalan kebaikan.

    Ya Allah, berilah kami manfaat dari ilmu yang Engkau ajarkan kepada kami, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.

  • Keutamaan Doa dalam Islam: Jangan Pernah Putus Harap kepada Allah

    www.itmi.or.id, Dalam hidup, ada masa ketika manusia merasa kuat. Semua terasa mudah dijalani. Urusan lancar, hati tenang, dan langkah terasa ringan.
    Namun ada juga masa ketika hidup terasa sempit. Pikiran penuh. Hati lelah. Masalah datang silih berganti. Bahkan kadang seseorang bingung harus bercerita kepada siapa.
    Di saat seperti itulah seorang muslim sebenarnya memiliki tempat kembali yang tidak pernah tertutup: doa.
    Islam mengajarkan bahwa berdoa bukan tanda kelemahan. Justru doa adalah tanda bahwa seorang hamba sadar dirinya membutuhkan Allah.

    Allah Menyukai Hamba yang Berdoa

    Sebagian orang merasa sungkan untuk banyak meminta kepada Allah. Ada yang berpikir:

    Masalahku terlalu kecil.”

    Atau mungkin aku terlalu banyak dosa.

    Padahal Allah justru menyukai hamba yang datang dan memohon kepada-Nya.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa.

    (HR. Tirmidzi)

    Berbeda dengan manusia yang kadang bosan mendengar permintaan terus-menerus, Allah justru murka kepada hamba yang enggan berdoa.
    Karena doa adalah bentuk penghambaan.
    Tanda bahwa hati masih bergantung kepada-Nya.
    Tidak Ada Doa yang Sia-Sia
    Kadang seseorang berkata:

    Aku sudah berdoa lama, tapi belum dikabulkan.

    Padahal dalam Islam, doa tidak pernah benar-benar sia-sia.

    Bisa jadi Allah langsung mengabulkannya.
    Bisa jadi Allah menundanya karena waktu terbaiknya belum tiba.
    Atau bisa jadi Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.

    Ada hal yang hari ini kita anggap baik, padahal belum tentu baik menurut Allah.

    Dan ada pula hal yang kita kecewakan hari ini, ternyata justru menyelamatkan kita di kemudian hari.
    Karena itu doa bukan hanya tentang meminta, tetapi juga tentang belajar percaya kepada ketetapan Allah.

    Berdoalah dalam Segala Keadaan

    Sering kali manusia baru ingat berdoa ketika sedang susah.
    Padahal hubungan dengan Allah seharusnya tidak dibangun hanya saat air mata jatuh.

    Berdoalah ketika bahagia.
    Berdoalah ketika sehat.
    Berdoalah ketika lapang.

    Karena bisa jadi nikmat yang kita miliki hari ini juga datang dari doa-doa yang pernah dipanjatkan sebelumnya.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    Barang siapa ingin doanya dikabulkan saat sulit dan sempit, maka perbanyaklah berdoa saat lapang.

    (HR. Tirmidzi)

    Tidak Perlu Kata-Kata yang Rumit

    Ada orang yang merasa tidak pandai berdoa. Takut doanya kurang bagus atau tidak fasih.

    Padahal Allah tidak melihat indahnya susunan kalimat, tetapi melihat kejujuran hati hamba-Nya.

    Kadang doa paling sederhana justru paling tulus:

    Ya Allah, kuatkan aku.
    Ya Allah, mudahkan urusanku.
    Ya Allah, jangan tinggalkan aku sendiri.

    Allah Maha Mendengar bahkan sebelum air mata jatuh.

    Doa Adalah Kekuatan Seorang Mukmin

    Ada banyak hal dalam hidup yang tidak bisa dikendalikan manusia.
    Kita tidak bisa memastikan umur.
    Tidak bisa memastikan rezeki.
    Tidak bisa memastikan hati manusia tetap sama.

    Tetapi seorang muslim selalu memiliki kekuatan yang tidak dimiliki semua orang: ia bisa berdoa kapan saja kepada Rabb-nya.
    Dan sering kali, yang membuat seseorang mampu bertahan bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena ia yakin Allah mendengar doanya.

    Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah

    Seberat apa pun masalah yang sedang dihadapi, jangan sampai hati berhenti berharap kepada Allah.

    Karena selama seseorang masih mau berdoa, sebenarnya ia belum benar-benar kalah.
    Mungkin jalannya belum terlihat.
    Mungkin jawabannya belum datang.
    Tetapi Allah tidak pernah meninggalkan hamba yang terus mengetuk pintu-Nya.

    Penutup

    Berdoa adalah ibadah yang sangat dekat dengan kehidupan seorang muslim. Tidak membutuhkan tempat khusus. Tidak harus menunggu sempurna. Tidak harus menunggu hidup tenang terlebih dahulu.

    Cukup hadirkan hati, lalu berbicaralah kepada Allah. Maka jangan lelah berdoa Jangan malu meminta kepada Allah. Dan jangan merasa sendirian menghadapi hidup.
    Karena ada Rabb yang selalu mendengar, bahkan ketika doa itu hanya terucap lirih di dalam hati.