Tag: ikatan tunanetra muslim indonesia

  • Hakikat Kurban: Ibadah Ketaatan dan Keikhlasan kepada Allah

    Editor: Media Officer

    Muqadimah

    Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kepada-Nya kita memuji, memohon pertolongan, dan memohon ampunan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, penutup para nabi, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kepada kita nikmat iman, kesehatan, kesempatan, dan kekuatan sehingga dapat menghadiri majelis Jumat untuk memperbaharui ketakwaan kepada-Nya. Seorang muslim hendaknya menjadikan seluruh gerak hidupnya sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya:

    Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

    Ayat ini menegaskan bahwa seluruh aktivitas seorang mukmin harus dilandasi niat ibadah dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Kurban: Ibadah Sejak Awal Manusia

    Di antara bentuk ibadah yang telah ada sejak awal sejarah manusia adalah ibadah kurban. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan kisah dua putra Nabi Adam ‘Alaihissalam dalam Surah Al-Ma’idah, ketika keduanya mempersembahkan kurban kepada Allah. Salah satu kurban diterima, sedangkan yang lainnya ditolak.

    Kisah ini menunjukkan bahwa sejak dahulu manusia telah diajarkan untuk menyerahkan sebagian hartanya sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Pada masa itu, bentuk kurban belum terbatas pada hewan sembelihan sebagaimana yang kita kenal sekarang. Ada yang mempersembahkan hasil pertanian dan ada pula yang mempersembahkan hewan ternak. Semuanya disebut sebagai kurban.
    Dalam perkembangan syariat umat manusia, bentuk-bentuk pengorbanan harta kemudian memiliki istilah yang berbeda. Ada yang disebut sedekah, infak, dan ada pula yang secara khusus disebut mansak.

    Makna Mansak dalam Al-Qur’an

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 34 bahwa bagi setiap umat telah ditetapkan mansak atau tata cara ibadah tertentu.
    Kata mansak dalam Al-Qur’an mengandung makna syariat atau bentuk ibadah yang khas pada setiap umat dan zaman para nabi. Setiap nabi memiliki aturan ibadah yang berbeda sesuai ketetapan Allah pada masanya. Salat pada zaman Nabi Ibrahim tidak sama dengan salat pada zaman Nabi Musa, begitu pula berbeda dengan syariat pada masa Nabi Isa dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

    Kesempurnaan syariat itu kemudian ditetapkan pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Setelah beliau, tidak ada lagi syariat baru. Karena itu, segala bentuk ibadah yang dibuat-buat dan tidak memiliki dasar dari Rasulullah termasuk perkara yang tertolak.
    Dalam konteks ibadah kurban, mansak bermakna ibadah penyembelihan yang dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Kurban berbeda dengan zakat atau infak. Ketiganya sama-sama mengeluarkan harta, tetapi kurban memiliki kekhususan berupa penyembelihan hewan ternak sebagai bagian dari ibadah.

    Perbedaan Kurban Umat Terdahulu dan Umat Nabi Muhammad

    Pada umat sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, hewan kurban yang dipersembahkan tidak boleh dimakan oleh orang yang berkurban. Bahkan dalam sebagian syariat terdahulu, tanda diterimanya kurban adalah ketika kurban tersebut habis dilahap api.
    Berbeda dengan syariat Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Allah justru memerintahkan agar orang yang berkurban ikut memakan sebagian dari hewan kurbannya. Allah berfirman:

    Makanlah sebagian darinya dan berilah makan kepada orang yang membutuhkan.

    Ini menunjukkan bahwa syariat Islam adalah syariat yang penuh rahmat dan keseimbangan.
    Namun demikian, Islam juga mengajarkan adab distribusi kurban. Daging kurban hendaknya diprioritaskan kepada orang-orang yang membutuhkan, terutama mereka yang menjaga kehormatan diri dan tidak meminta-minta. Mereka inilah yang sering kali luput dari perhatian karena tidak tampak meminta bantuan.
    Karena itu, panitia kurban dan masyarakat perlu mengenali lingkungan sekitarnya agar distribusi kurban benar-benar sampai kepada yang membutuhkan.

    Tiga Bentuk Sembelihan Ibadah

    Dalam Islam terdapat tiga bentuk sembelihan yang bernilai ibadah:

    1. Hadyu, yaitu sembelihan bagi jamaah haji.
    2. Udhiyah, yaitu kurban yang dilakukan pada Hari Raya Iduladha bagi yang tidak berhaji.
    3. Akikah, yaitu sembelihan sebagai ungkapan syukur atas kelahiran anak.

    Selain itu, penyembelihan biasa untuk konsumsi sehari-hari hukumnya halal dan mubah selama dilakukan sesuai syariat.

    Yang diharamkan adalah menyembelih atas nama selain Allah, atau yang dikenal dengan istilah tumbal. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menegaskan bahwa siapa saja yang menyembelih untuk selain Allah maka ia telah melakukan dosa besar.

    Kurban dan Keikhlasan

    Dalam Surah Al-Kautsar, Allah berfirman:

    Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.

    Penekanan ayat ini bukan hanya pada salat dan kurbannya, melainkan pada kalimat “karena Tuhanmu”. Artinya, seluruh ibadah harus dilaksanakan dengan penuh keikhlasan hanya untuk Allah.
    Ibadah kurban memiliki sifat demonstratif; ia terlihat oleh manusia. Berbeda dengan puasa yang tersembunyi. Karena itu, ujian terbesar dalam ibadah kurban adalah keikhlasan. Seseorang bisa saja terjebak pada rasa bangga, riya, atau ingin dipuji karena hewan kurbannya.
    Padahal hakikat kurban bukanlah sekadar membagikan daging. Jika hanya ingin membagikan daging, tentu lebih mudah membeli daging di pasar lalu dibagikan kepada masyarakat. Akan tetapi, kurban memiliki nilai ibadah karena ada unsur penyembelihan yang dilakukan atas nama Allah.

    Di situlah letak spirit pengorbanan. Seorang muslim rela mengeluarkan hartanya demi menjalankan perintah Allah tanpa merasa sayang ataupun berat.

    Spirit Pengorbanan dalam Kehidupan

    Nilai kurban seharusnya tidak berhenti pada penyembelihan hewan semata. Semangat pengorbanan harus terus hidup dalam kehidupan seorang muslim.

    Masjid perlu dibangun dan dirawat. Anak-anak membutuhkan pendidikan. Fakir miskin memerlukan bantuan. Semua itu membutuhkan pengorbanan harta, tenaga, dan perhatian.
    Maka tanda diterimanya ibadah kurban bukan hanya selesai pada hari tasyrik, tetapi berlanjut pada semangat berbagi dan berkorban demi kemaslahatan umat.

    Penutup

    Kurban adalah simbol ketundukan, ketaatan, dan keikhlasan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia mengajarkan bahwa harta hanyalah titipan dan bahwa seorang mukmin harus siap berkorban demi meraih ridha Allah.
    Semoga Allah menerima amal ibadah kita, melimpahkan keikhlasan dalam hati, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang gemar berkorban di jalan kebaikan.

    Ya Allah, berilah kami manfaat dari ilmu yang Engkau ajarkan kepada kami, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.

  • Keutamaan Doa dalam Islam: Jangan Pernah Putus Harap kepada Allah

    www.itmi.or.id, Dalam hidup, ada masa ketika manusia merasa kuat. Semua terasa mudah dijalani. Urusan lancar, hati tenang, dan langkah terasa ringan.
    Namun ada juga masa ketika hidup terasa sempit. Pikiran penuh. Hati lelah. Masalah datang silih berganti. Bahkan kadang seseorang bingung harus bercerita kepada siapa.
    Di saat seperti itulah seorang muslim sebenarnya memiliki tempat kembali yang tidak pernah tertutup: doa.
    Islam mengajarkan bahwa berdoa bukan tanda kelemahan. Justru doa adalah tanda bahwa seorang hamba sadar dirinya membutuhkan Allah.

    Allah Menyukai Hamba yang Berdoa

    Sebagian orang merasa sungkan untuk banyak meminta kepada Allah. Ada yang berpikir:

    Masalahku terlalu kecil.”

    Atau mungkin aku terlalu banyak dosa.

    Padahal Allah justru menyukai hamba yang datang dan memohon kepada-Nya.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa.

    (HR. Tirmidzi)

    Berbeda dengan manusia yang kadang bosan mendengar permintaan terus-menerus, Allah justru murka kepada hamba yang enggan berdoa.
    Karena doa adalah bentuk penghambaan.
    Tanda bahwa hati masih bergantung kepada-Nya.
    Tidak Ada Doa yang Sia-Sia
    Kadang seseorang berkata:

    Aku sudah berdoa lama, tapi belum dikabulkan.

    Padahal dalam Islam, doa tidak pernah benar-benar sia-sia.

    Bisa jadi Allah langsung mengabulkannya.
    Bisa jadi Allah menundanya karena waktu terbaiknya belum tiba.
    Atau bisa jadi Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.

    Ada hal yang hari ini kita anggap baik, padahal belum tentu baik menurut Allah.

    Dan ada pula hal yang kita kecewakan hari ini, ternyata justru menyelamatkan kita di kemudian hari.
    Karena itu doa bukan hanya tentang meminta, tetapi juga tentang belajar percaya kepada ketetapan Allah.

    Berdoalah dalam Segala Keadaan

    Sering kali manusia baru ingat berdoa ketika sedang susah.
    Padahal hubungan dengan Allah seharusnya tidak dibangun hanya saat air mata jatuh.

    Berdoalah ketika bahagia.
    Berdoalah ketika sehat.
    Berdoalah ketika lapang.

    Karena bisa jadi nikmat yang kita miliki hari ini juga datang dari doa-doa yang pernah dipanjatkan sebelumnya.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    Barang siapa ingin doanya dikabulkan saat sulit dan sempit, maka perbanyaklah berdoa saat lapang.

    (HR. Tirmidzi)

    Tidak Perlu Kata-Kata yang Rumit

    Ada orang yang merasa tidak pandai berdoa. Takut doanya kurang bagus atau tidak fasih.

    Padahal Allah tidak melihat indahnya susunan kalimat, tetapi melihat kejujuran hati hamba-Nya.

    Kadang doa paling sederhana justru paling tulus:

    Ya Allah, kuatkan aku.
    Ya Allah, mudahkan urusanku.
    Ya Allah, jangan tinggalkan aku sendiri.

    Allah Maha Mendengar bahkan sebelum air mata jatuh.

    Doa Adalah Kekuatan Seorang Mukmin

    Ada banyak hal dalam hidup yang tidak bisa dikendalikan manusia.
    Kita tidak bisa memastikan umur.
    Tidak bisa memastikan rezeki.
    Tidak bisa memastikan hati manusia tetap sama.

    Tetapi seorang muslim selalu memiliki kekuatan yang tidak dimiliki semua orang: ia bisa berdoa kapan saja kepada Rabb-nya.
    Dan sering kali, yang membuat seseorang mampu bertahan bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena ia yakin Allah mendengar doanya.

    Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah

    Seberat apa pun masalah yang sedang dihadapi, jangan sampai hati berhenti berharap kepada Allah.

    Karena selama seseorang masih mau berdoa, sebenarnya ia belum benar-benar kalah.
    Mungkin jalannya belum terlihat.
    Mungkin jawabannya belum datang.
    Tetapi Allah tidak pernah meninggalkan hamba yang terus mengetuk pintu-Nya.

    Penutup

    Berdoa adalah ibadah yang sangat dekat dengan kehidupan seorang muslim. Tidak membutuhkan tempat khusus. Tidak harus menunggu sempurna. Tidak harus menunggu hidup tenang terlebih dahulu.

    Cukup hadirkan hati, lalu berbicaralah kepada Allah. Maka jangan lelah berdoa Jangan malu meminta kepada Allah. Dan jangan merasa sendirian menghadapi hidup.
    Karena ada Rabb yang selalu mendengar, bahkan ketika doa itu hanya terucap lirih di dalam hati.

  • Mengenal Ulil Albab: Manusia yang Tidak Hanya Pintar, Tapi Juga Bertakwa

    www.itmi.or.id, Di zaman hari ini, ukuran kecerdasan sering kali hanya berhenti pada angka. Siapa yang nilai akademiknya tinggi dianggap hebat. Siapa yang fasih berbicara dianggap cerdas. Siapa yang punya jabatan, pengaruh, atau gelar panjang dianggap berhasil.

    Padahal dalam Islam, ada satu istilah yang jauh lebih tinggi daripada sekadar “orang pintar”. Al-Qur’an menyebut mereka dengan nama Ulil Albab.

    Istilah ini bukan sekadar pujian intelektual. Ia adalah kedudukan manusia yang menggunakan akal, hati, dan ketakwaannya secara bersamaan.

    Apa Arti Ulil Albab?

    Secara bahasa, Ulil Albab berasal dari dua kata:

    • Ulu yang berarti “pemilik”
    • Albab jamak dari lubb, yang berarti inti akal, akal yang bersih, atau pemikiran yang jernih.

    Maka Ulil Albab dapat dimaknai sebagai orang-orang yang memiliki akal sehat yang bersih, dalam, dan bercahaya.

    Bukan hanya cerdas berpikir, tetapi juga benar dalam memandang kehidupan.

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebut Ulil Albab dalam banyak ayat Al-Qur’an. Salah satunya dalam Surah Ali ‘Imran ayat 190-191:

    Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, maupun berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi…

    Ayat ini menarik. Karena ternyata ciri Ulil Albab bukan hanya berpikir, tetapi juga berdzikir.

    Ulil Albab Bukan Sekadar Orang Berilmu

    Ada banyak orang berilmu, tapi ilmunya membuatnya sombong. Ada yang semakin tinggi pendidikannya, semakin memandang rendah orang lain.

    Ada yang cerdas, tetapi licik. Pintar mencari celah, namun miskin adab.
    Ada juga yang cemerlang karirnya, sehingga lantas mencela sesamanya yang masih berada di bawahnya.

    Islam tidak menempatkan kecerdasan seperti itu sebagai kemuliaan tertinggi.
    Ulil Albab adalah mereka yang ilmunya membuatnya semakin takut kepada Allah, semakin rendah hati, dan semakin sadar bahwa hidup ini bukan hanya soal dunia.

    Ia berpikir, tetapi tidak liar.

    Ia kritis, tetapi tetap tunduk kepada wahyu.

    Ia cerdas, tetapi tidak kehilangan nurani.

    Karena itu, Ulil Albab bukan manusia yang hanya kuat otaknya, melainkan juga kuat ruhnya.

    Ciri-Ciri Ulil Albab dalam Kehidupan

    Kalau diperhatikan dari ayat-ayat Alqur’an , ada beberapa karakter utama Ulil Albab.

    1. Gemar Berpikir dan Merenung
    2. Ulil Albab tidak menjalani hidup secara asal lewat. Ia terbiasa bertafakkur.

      Melihat hujan, ia tidak hanya melihat air turun.

      Melihat malam, ia tidak hanya melihat gelap.

      Melihat kehidupan, ia tidak hanya sibuk menjalani rutinitas.

      Ia bertanya:

      “Apa hikmah di balik semua ini?”

      Karena itu orang yang dekat dengan Al-Qur’an biasanya memiliki kedalaman berpikir yang berbeda. Hidupnya tidak dangkal.

    3. Dekat dengan Dzikir dan Ibadah
    4. Ulil Albab itu, tidak memisahkan akal dengan iman.

      Hari ini kita sering melihat seolah agama dan intelektualitas dipisahkan. Seakan kalau terlalu religius dianggap kurang ilmiah. Padahal dalam Islam, justru semakin benar ilmu seseorang, semakin ia sadar betapa kecil dirinya di hadapan Allah.

      Ulil Albab menjadikan pikirannya tunduk kepada kebenaran, bukan tunduk kepada hawa nafsu.

    5. Mampu Mengambil Pelajaran dari Kehidupan
    6. Banyak manusia melihat kejadian, tetapi sedikit yang mengambil ibrah.
      Ulil Albab mampu belajar dari sejarah, musibah, kesalahan, bahkan dari kematian.

      Ketika melihat dunia semakin rusak, ia tidak hanya mengeluh di media sosial. Ia berpikir apa yang bisa diperbaiki dari dirinya dan lingkungannya.

    7. Tidak Mudah Tertipu Gemerlap Dunia

    Orang yang hanya memakai logika dunia biasanya mudah silau oleh popularitas, uang, dan pujian manusia.
    Tetapi Ulil Albab sadar bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.

    Ia tahu:
    jabatan bisa hilang,

    popularitas bisa jatuh,

    dan manusia bisa berubah.

    Karena itu, orientasinya tidak berhenti pada dunia, tetapi juga akhirat.

    Ulil Albab di Era Modern

    Hari ini dunia sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Teknologi berkembang cepat. Informasi tersebar di mana-mana. Gelar akademik semakin banyak.

    Tetapi manusia yang bijak justru terasa langka.

    Banyak orang cerdas secara digital, tetapi lemah secara spiritual.

    Mudah tersinggung.

    Mudah menghina.

    Mudah merasa paling benar.

    Mudah kehilangan arah hidup.

    Karena itu konsep Ulil Albab menjadi sangat relevan hari ini.

    Islam tidak hanya ingin melahirkan manusia yang mampu membuat teknologi, tetapi juga manusia yang tahu untuk apa teknologi digunakan.

    Tidak hanya mampu berbicara, tetapi juga tahu kapan harus diam.

    Tidak hanya mampu memimpin, tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah.

    Menjadi Ulil Albab

    Menjadi Ulil Albab bukan berarti harus menjadi ulama besar atau profesor.

    Ia dimulai dari kebiasaan sederhana:

    mau belajar,

    mau berpikir,

    mau menerima nasihat,

    dan mau mendekat kepada Allah.

    Karena sesungguhnya kerusakan terbesar bukan terjadi saat manusia kehilangan ilmu, tetapi saat manusia kehilangan hati yang hidup.

    Dan Ulil Albab adalah mereka yang menjaga keduanya:

    akalnya hidup,

    dan hatinya juga hidup.