Tag: berita

  • ITMI Akan Mewajibkan Penggunaan KTAI Dalam Setiap Kegiatan Organisasi Mulai Agustus Mendatang

    CIMAHI, itmi.or.id – Pengurus Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PP ITMI) akan mulai memberlakukan kewajiban penggunaan Kartu Tanda Anggota ITMI (KTAI) dalam setiap kegiatan resmi organisasi mulai Agustus 2026.

    Kebijakan tersebut akan dituangkan dalam surat edaran yang saat ini tengah disiapkan oleh pengurus pusat.

    Hal itu disampaikan Sekretaris Umum PP ITMI Heri Mujianto, S.H.I., M.Pd., kepada Tim Media Officer saat ditemui sebelum Kajian Bulanan PP ITMI di Sekretariat PP ITMI, Cimahi, Jawa Barat, Ahad (26/7/2026).

    “Insyaa Allah sedang kita ramu itu edarannya. Jadi kegiatan rapat, bahkan kajian, perlu ada KTAI. Apalagi kegiatan seperti musyawarah wilayah, musyawarah daerah, dan lain-lain. Nanti insyaa Allah awal Agustus keluar edarannya,” ujar Heri.

    Menurut Heri, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat tertib administrasi organisasi sekaligus memastikan seluruh peserta kegiatan merupakan anggota yang telah terdata secara resmi.

    Penerapan KTAI nantinya akan berlaku pada berbagai kegiatan organisasi, mulai dari rapat, kajian bulanan, pelatihan, hingga forum-forum permusyawaratan seperti Musyawarah Wilayah (Muswil) dan Musyawarah Daerah (Musda).

    KTAI Telah Disempurnakan

    Program KTAI sebenarnya telah diluncurkan dan diresmikan oleh PP ITMI pada 27 Mei 2026 yang lalu.

    Namun, setelah peluncuran, pengurus pusat menerima berbagai masukan dari pengurus wilayah maupun pengurus daerah terkait desain maupun aspek teknis pelaksanaannya.

    Masukan tersebut kemudian dibahas dan ditindaklanjuti melalui proses penyempurnaan yang dilakukan pada akhir Juni 2026.

    Heri mengatakan, hingga saat ini tidak ada lagi masukan baru yang diterima sehingga penyempurnaan KTAI dinilai telah selesai.

    “Insyaa Allah masukan juga tidak ada lagi yang masuk ke kita sampai hari ini. Jadi ya sudah finalkan saja,” katanya.

    Dengan rampungnya proses penyempurnaan tersebut, PP ITMI kini bersiap menerapkan penggunaan KTAI secara lebih luas dalam seluruh aktivitas organisasi.

    Wilayah yang Belum Memiliki Administrator Tetap Dapat Menyesuaikan

    Meski akan mulai diberlakukan secara nasional, Heri memastikan penerapan kebijakan tersebut tetap memperhatikan kesiapan pengurus di daerah.

    Bagi pengurus wilayah maupun pengurus daerah yang hingga kini belum memiliki administrator KTAI, PP ITMI memberikan kesempatan untuk melakukan penyesuaian.
    “Untuk wilayah atau daerah yang belum ada administrator, nggak apa-apa menyusul saja,” ujarnya.

    Menurutnya, kebijakan tersebut tidak dimaksudkan untuk mempersulit daerah, melainkan mendorong seluruh kepengurusan agar secara bertahap membangun sistem administrasi keanggotaan yang lebih tertib dan terintegrasi.

    Pendaftaran Melalui Pengurus Daerah

    Bagi masyarakat atau calon anggota yang ingin memiliki KTAI, proses pendaftaran dilakukan melalui pengurus daerah ITMI sesuai domisili masing-masing.

    Calon anggota nantinya diminta melengkapi persyaratan administrasi yang telah ditetapkan oleh organisasi. Setelah seluruh persyaratan dinyatakan lengkap, pengurus daerah akan mengajukan data tersebut melalui platform SIARGA sebagai sistem administrasi keanggotaan ITMI.

    Melalui mekanisme tersebut, proses pendataan anggota diharapkan berlangsung lebih terstruktur sekaligus menghasilkan basis data keanggotaan yang akurat dan terintegrasi secara nasional.

    PP ITMI berharap penerapan KTAI sebagai identitas resmi anggota tidak hanya memperkuat administrasi organisasi, tetapi juga mendukung berbagai program pelayanan, pendataan, dan pengembangan organisasi pada masa mendatang.

  • Kajian Kemuslimahan PP ITMI Padukan Taqwa dan Tataboga, Dorong Muslimah Berdaya Melalui Chicken Garlic

    Kajian Kemuslimahan PP ITMI Padukan Taqwa dan Tataboga, Dorong Muslimah Berdaya Melalui Chicken Garlic

    Cimahi, Itmi.or.id – Pimpinan Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PP ITMI) kembali menggelar Kajian Kemuslimahan sebagai ruang pembinaan spiritual sekaligus pemberdayaan keterampilan bagi muslimah tunanetra.

    Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 25 Juli 2026 bertepatan dengan 11 Shafar 1448 Hijriah ini mengusung tema “Taqwa dan Ikhtiar, Kolaborasi Menjemput Cinta”.

    Bertempat di Sekretariat PP ITMI, Kota Cimahi, Jawa Barat, kegiatan diprakarsai oleh Bidang III PP ITMI melalui Departemen Potensi Muslimah dan Departemen Pemberdayaan Ekonomi dan Ketenagakerjaan.

    Dua penggeraknya, Synthia Cempaka Dewi dan Dra. Lisa Agustarini, hadir langsung dari Jakarta untuk memimpin rangkaian kegiatan.

    Berbeda dari kajian pada umumnya, kali ini peserta tidak hanya memperoleh penguatan nilai-nilai keislaman, tetapi juga dibekali keterampilan praktis di bidang tata boga yang diharapkan dapat menjadi peluang usaha rumahan bagi para muslimah ITMI.

    Diawali Muroja’ah Bersama

    Rangkaian acara dibuka dengan muroja’ah Al-Qur’an yang dipandu oleh Rastini, S.Pd.I, Pengurus Wilayah ITMI Jawa Barat, melalui Zoom dari Kabupaten Cirebon.

    Suasana khidmat mengawali kegiatan sebelum peserta memasuki sesi utama yang menggabungkan nilai ketakwaan dengan semangat berikhtiar melalui keterampilan memasak.

    Sesi utama dipandu oleh Synthia Cempaka Dewi selaku moderator dengan menghadirkan Dra. Lisa Agustarini sebagai pemateri.

    Dalam kesempatan tersebut, Lisa membagikan pengalaman sekaligus memperagakan pembuatan Chicken Garlic, menu olahan ayam berbumbu bawang putih yang dikenal memiliki cita rasa gurih, aroma bawang yang kuat, serta tekstur ayam yang tetap lembut.

    Hidangan ini umumnya menggunakan daging ayam yang dimarinasi dengan bawang putih, lada, garam, dan bumbu pilihan sebelum dimasak hingga matang.

    Di berbagai negara, garlic chicken berkembang dalam beragam variasi, baik digoreng, dipanggang, maupun dimasak dengan saus bawang putih.

    Di lingkungan usaha kuliner yang dikelola Lisa Agustarini, Chicken Garlic menjadi salah satu menu andalan yang memiliki nilai jual dan relatif mudah diproduksi menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh.

    Sementara itu, proses memasak dalam praktik tataboga diperagakan langsung oleh Ibu Istiqamah sebagai koki, sehingga peserta dapat menyimak dengan baik.

    Lisa mengaku optimistis para muslimah ITMI tidak akan mengalami kesulitan mengikuti praktik tersebut.

    “Insyaa Allah kemampuan masak-memasak ini saya yakin bunda-bunda muslimah ITMI sudah jadi koki hebat untuk anak-anak dan suaminya. Jadi, ketika saya pandu membuat Chicken Garlic ini saya yakin bunda-bunda semua sudah dapat mengikutinya, apalagi yang sudah terbiasa memasak,” ujarnya.

    Taqwa Harus Melahirkan Ikhtiar

    Menurut Synthia Cempaka Dewi, kajian kemuslimahan tidak cukup berhenti pada penguatan spiritual semata. Nilai ketakwaan juga perlu diwujudkan melalui ikhtiar nyata yang mampu memberikan manfaat bagi keluarga maupun perekonomian.

    Karena itu, materi tataboga dipilih sebagai bentuk implementasi tema besar yang diangkat pada kegiatan tersebut.

    “Bunda-bunda semua, mari kita jadikan kegiatan pembelajaran tataboga ini sebagai sarana kita untuk ikhtiar setelah taqwa. Ikhtiarnya dengan berniaga, menjual Chicken Garlic ini ya,” kata Synthia kepada para peserta.

    Pesan tersebut mendapat sambutan hangat dari peserta, baik yang mengikuti kegiatan secara langsung maupun daring.

    Sebagaimana kegiatan PP ITMI lainnya, kajian ini diselenggarakan secara hybrid. Selain diikuti peserta yang hadir di sekretariat, kegiatan juga disiarkan melalui Zoom Meeting, YouTube PP ITMI, dan Radio Suara ITMI (RSI) sehingga dapat diikuti oleh muslimah ITMI dari berbagai daerah di Indonesia.

    Turut hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Bidang III PP ITMI, di antaranya Ust. H. Ipan Hidayatulloh, S.Pd., M.Pd. Ia menyampaikan harapan agar kajian kemuslimahan tidak hanya menjadi ruang silaturahmi, tetapi juga mampu melahirkan keterampilan yang bernilai ekonomi.

    Menurutnya, perpaduan antara pembinaan keislaman dan pemberdayaan ekonomi merupakan langkah positif dalam memperkuat peran muslimah ITMI, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

    Menikmati Hasil Ikhtiar Bersama

    Setelah seluruh proses memasak selesai, kegiatan ditutup dengan mencicipi Chicken Garlic yang telah dimasak oleh Ibu Istiqamah.

    Suasana akrab dan penuh kekeluargaan mewarnai penutupan acara, sekaligus menjadi bukti bahwa sebuah kajian dapat menghadirkan manfaat yang menyentuh aspek spiritual maupun keterampilan hidup.

    Melalui kegiatan ini, PP ITMI berharap muslimah tidak hanya semakin kokoh dalam ketakwaan, tetapi juga memiliki keberanian untuk berikhtiar melalui berbagai potensi yang dimiliki.

    Sebab, ketakwaan yang diwujudkan dalam usaha yang halal dan produktif merupakan salah satu bentuk ikhtiar terbaik dalam meraih keberkahan hidup.

  • Perkuat Sinergi, PP ITMI dan PW ITMI Jawa Barat Siap Hadirkan Program Unggulan Bagi Muslimah

    Cimahi, Itmi.or.id – Bidang III Pengurus Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia bersama Pengurus Wilayah ITMI Jawa Barat menggelar rapat koordinasi untuk membahas sejumlah program pemberdayaan muslimah hingga akhir 2026.

    Rapat berlangsung pada Sabtu, 11 Safar 1448 Hijriah atau 25 Juli 2026, secara luring di Sekretariat PP ITMI, Cimahi, Jawa Barat.

    Hadir dalam rapat tersebut Ketua Bidang III PP ITMI H. Ipan Hidayatulloh, S.Pd., M.Pd., Ketua Departemen Potensi Muslimah Synthia Cempaka Dewi, Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi Dra. Lisa Agustarini, serta jajaran PW ITMI Jawa Barat, yaitu Titin Rustini, Aan Rohanah, S.Pd., dan Hani.

    Rapat ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan kerja sama PP ITMI dan PW ITMI Jawa Barat yang diselenggarakan secara daring pada 28 Juni 2026. Pertemuan sebelumnya dihadiri Aan Rohanah, S.Pd., Yuniarti, S.Pd., Synthia Cempaka Dewi, Titin Rustini, dan Dra. Lisa Agustarini.

    Mabit Muslimah Direncanakan Digelar di Masjid ITMI

    Salah satu agenda utama yang dibahas adalah rencana pelaksanaan malam bina iman dan takwa atau mabit bagi muslimah ITMI. Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung paling lambat pada Oktober 2026 dan bertempat di Masjid ITMI.

    Hal itu juga didorong oleh Ketua Bidang III Ust.H. Ipan Hidayatulloh, S.Pd, M.Pd. “Jangan khawatir lah kalo di masjid ITMI. In Syaa Allah sarananya bisa kita siapkan. Nanti kita komunikasikan dengan DKM Ustadz Asep Kosasih”.

    Mabit akan menyasar anggota muslimah ITMI di wilayah Bandung Raya dan daerah lain di Jawa Barat. Sebelumnya, kegiatan serupa lebih banyak menjangkau anggota ITMI di kawasan Jakarta Raya.

    Melalui kegiatan di Jawa Barat, Bidang III PP ITMI mulai memperluas jangkauan program pemberdayaan muslimah ke wilayah-wilayah lain.

    “Sekarang kita mau coba ke Bandung. Sambil pelan-pelan kita juga coba merapat ke PW-PW yang lain,” demikian salah satu pembahasan dalam rapat tersebut.

    Kegiatan mabit diinisiasi oleh Bidang III PP ITMI bersama PW ITMI Jawa Barat. Rencana pelaksanaannya juga telah disampaikan kepada Ketua Umum PP ITMI.

    Dalam kegiatan tersebut, panitia berencana menghadirkan Yayasan Adzikra sebagai pemateri, khususnya untuk memberikan pembelajaran mengenai bercocok tanam dengan sistem hidroponik.

    Materi hidroponik diharapkan tidak hanya menambah wawasan peserta, tetapi juga memberikan keterampilan yang dapat diterapkan di lingkungan rumah maupun dikembangkan menjadi kegiatan produktif.

    Rapat juga membahas pelaksanaan kajian kemuslimahan secara berkala setiap dua bulan sekali, dengan menghadirkan tema-tema kehidupan Muslimah. Kajian akan mengangkat tema-tema yang lebih khusus dan dekat dengan kehidupan muslimah.

    Tema yang direncanakan antara lain pengasuhan anak atau parenting, kecantikan dan perawatan tubuh, kemampuan berbicara di depan umum, serta berbagai materi lain yang mendukung pengembangan potensi muslimah.

    Ketua Departemen Potensi Muslimah Synthia Cempaka Dewi menyampaikan kesiapan pengurus pusat untuk hadir secara berkala di Cimahi.

    “Insyaa Allah, per dua bulan sekali kita akan datang ke Cimahi,” kata Synthia.

    Tema-tema lain masih akan dibahas dalam pertemuan berikutnya. Untuk sementara, rapat memusatkan pembahasan pada program yang akan diselenggarakan hingga akhir 2026.

    Totok Wajah Direncanakan pada September

    Pada September 2026, kajian kemuslimahan direncanakan mengangkat tema kecantikan dan perawatan tubuh. Salah satu materi yang akan diberikan adalah praktik totok wajah.

    Pemilihan tema tersebut didasarkan pada masukan dari sejumlah pihak agar kegiatan kemuslimahan tidak hanya membahas persoalan keagamaan secara umum, tetapi juga menyentuh kebutuhan dan keterampilan praktis perempuan.

    Melalui pembelajaran perawatan tubuh, peserta diharapkan memperoleh pengetahuan yang dapat digunakan untuk merawat diri maupun dikembangkan sebagai keterampilan jasa.

    Untuk November 2026, rapat merencanakan materi public speaking dengan fokus pada kemampuan berbicara sebagai konten kreator.

    Usulan tersebut disampaikan oleh Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi PP ITMI, Dra. Lisa Agustarini. Menurutnya, keterampilan membuat konten dapat menjadi salah satu jalan untuk membantu anggota muslimah ITMI memasarkan jasa yang mereka miliki, termasuk layanan pijat.

    “Sekarang kan katanya usaha pijat lagi sepi ya. Saya kira bisa mereka ini diajarkan menjadi konten kreator untuk memasarkan klinik pijat mereka masing-masing,” ujar Lisa.

    Melalui materi tersebut, peserta direncanakan mempelajari cara berbicara di depan kamera, menyusun informasi yang ringkas, serta membuat pembukaan konten yang dapat menarik perhatian penonton atau dikenal sebagai hook.

    Pembahasan mengenai efisiensi informasi juga dinilai penting agar pesan yang disampaikan tidak bertele-tele dan dapat dipahami dengan cepat oleh calon pelanggan.

    Harapannya, anggota muslimah ITMI dapat memanfaatkan TikTok dan platform digital lainnya untuk memperkenalkan klinik pijat, produk, maupun jasa yang mereka kelola.

    Dengan kemampuan komunikasi yang lebih baik, peserta tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga mampu menggunakannya sebagai sarana promosi dan pengembangan usaha.

    Rencanakan Pembelajaran Orientasi Pasar

    Selain program kajian dan mabit, rapat juga mencanangkan kegiatan pembelajaran mengenai orientasi pasar.

    Dalam program tersebut, para muslimah akan diajak mengunjungi dan mempelajari secara langsung berbagai jenis pasar. Kunjungan dapat dilakukan ke pasar tradisional, pasar modern, maupun tempat lain yang dinilai relevan.

    Synthia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya berbentuk penyampaian materi di dalam ruangan. Para peserta juga dapat berjalan-jalan dan berbelanja sambil mempelajari kondisi pasar secara langsung.

    Pembelajaran orientasi pasar diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan konsumen, harga produk, cara pemasaran, serta peluang usaha yang dapat dikembangkan oleh muslimah ITMI.

    Perkuat Kolaborasi Pusat dan Wilayah

    Rangkaian program yang dibahas dalam rapat menjadi bagian dari upaya Bidang III PP ITMI dan PW ITMI Jawa Barat untuk memperkuat pembinaan serta pemberdayaan muslimah.

    Kolaborasi antara pengurus pusat dan wilayah diharapkan dapat menghasilkan kegiatan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberikan manfaat nyata dalam bidang keagamaan, keterampilan, ekonomi, dan komunikasi.

    Melalui mabit, kajian tematik, pembelajaran public speaking, keterampilan perawatan tubuh, hidroponik, dan orientasi pasar, muslimah ITMI diharapkan semakin percaya diri dalam mengembangkan potensi diri serta berperan aktif di lingkungan keluarga, organisasi, dan masyarakat.