Tag: android

  • Mengenal Visionauta, Aplikasi AI untuk Tunanetra yang Kini Hadir dalam Bahasa Indonesia

    Mengenal Visionauta, Aplikasi AI untuk Tunanetra yang Kini Hadir dalam Bahasa Indonesia

    Tangkapan layar beranda Aplikasi Visionauta, dengan menampilkan berbagai menu

    Itmi.or.id – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kembali menghadirkan pilihan teknologi bantu bagi penyandang tunanetra.

    Kali ini datang dari Brasil melalui sebuah aplikasi bernama Visionauta.

    Visionauta merupakan aplikasi aksesibilitas untuk penyandang tunanetra dan low vision yang memanfaatkan kamera ponsel dan kecerdasan buatan untuk membantu pengguna memperoleh berbagai informasi visual di sekitarnya.

    Aplikasi ini dikembangkan oleh Jonathan Santos, seorang insinyur perangkat lunak tunanetra yang berspesialisasi dalam kecerdasan buatan. Berdasarkan keterangan pengembang, Jonathan pernah bekerja di Google dan Samsung. Ia juga merupakan peneliti dan kandidat doktor Teknik Komputer di Universidade Presbiteriana Mackenzie, Brasil.

    Visionauta tersedia untuk perangkat Android dan iPhone. Aplikasi ini dapat digunakan secara gratis, dengan sejumlah fitur tambahan yang ditawarkan melalui Visionauta Plus.

    Bagi pengguna tunanetra di Indonesia, Visionauta kini menjadi semakin menarik untuk dicoba. Sebab, Bahasa Indonesia resmi menjadi salah satu dari 16 bahasa yang didukung aplikasi tersebut.

    Dukungan Bahasa Indonesia bukan sekadar terjemahan menu. Pengembang menyebut bahasa tersebut juga dapat digunakan untuk perintah suara, pembacaan teks, hingga jawaban yang diberikan oleh AI.

    AI yang Bisa Diajak Bicara Sambil Melihat Lewat Kamera

    Salah satu fitur utama Visionauta adalah Percakapan Real-Time.

    Sederhananya, pengguna dapat mengarahkan kamera ponsel ke lingkungan sekitar, kemudian berbicara dan bertanya kepada AI mengenai apa yang sedang dilihat kamera. Jawaban diberikan melalui suara dan percakapan dapat terus berlangsung tanpa harus mengambil foto baru untuk setiap pertanyaan.

    Misalnya, seorang pengguna tunanetra dapat mengarahkan kamera ke sebuah meja dan bertanya benda apa saja yang berada di atasnya. Pengguna juga dapat meminta aplikasi membaca tulisan pada papan, mengenali sebuah produk, mengetahui warna pakaian, membaca tanggal kedaluwarsa, hingga memperoleh gambaran mengenai kondisi ruangan.

    Pengembang, dalam hal ini Jonathan mengatakan konsep tersebut membuat Visionauta berbeda dari aplikasi yang hanya mengandalkan proses mengambil foto kemudian menunggu hasil analisis.

    “Percakapan Real-Time mengubah apa itu Visionauta. Ia bukan lagi aplikasi tempat Anda mengambil foto lalu menunggu jawaban: ia adalah percakapan berkelanjutan dengan seseorang yang melihat untuk Anda dan selalu ada, entah untuk mendeskripsikan jalan, menemukan apotek terdekat, merekam video, atau membaca partitur yang akan Anda mainkan,” kata Jonathan dalam keterangan tertulis, 10 September 2026.

    Bisa Bantu Tunanetra Mengambil Foto dan Video

    Menariknya, kamera Visionauta tidak hanya digunakan untuk mengenali objek.

    Aplikasi tersebut juga memiliki asisten foto yang dirancang membantu pengguna tunanetra mengambil gambar dengan pembingkaian yang tepat. AI akan memberikan arahan mengenai posisi kamera. Ketika pembingkaian dianggap sudah sesuai, aplikasi memberikan hitung mundur kemudian mengambil foto.

    Konsep serupa diterapkan pada fitur perekaman video. Pengguna dapat meminta melalui suara untuk mulai merekam, sementara asisten membantu mengarahkan pembingkaian.

    Perekaman dapat dijeda, dilanjutkan, diselesaikan, atau dibatalkan melalui kontrol yang aksesibel. Video kemudian tersimpan dan dapat ditonton maupun dibagikan.

    Dari Menemukan Apotek hingga Membaca Partitur Musik

    Kemampuan Visionauta tidak berhenti pada pengenalan benda.

    Menurut pengembang, selama Percakapan Real-Time pengguna juga dapat meminta informasi mengenai lokasi dan lingkungan sekitar. Aplikasi dapat memberikan informasi seperti alamat saat ini, jalan, tengara, apotek, toko roti, maupun halte bus terdekat dengan memanfaatkan informasi peta secara real-time.

    Visionauta juga dapat melakukan pencarian informasi melalui internet ketika pengguna sedang bercakap dengan AI.

    Ada pula fitur yang cukup unik bagi musisi tunanetra. Visionauta diklaim mampu mengenali partitur musik cetak melalui kamera.

    Pengguna cukup mengarahkan kamera pada partitur. Aplikasi kemudian mengenali notasi, membacakan informasi musik, serta memainkan musik tersebut melalui perangkat. Hasilnya juga dapat dibuat menjadi berkas MusicXML dan MIDI.

    Bagi musisi tunanetra, fitur semacam ini berpotensi menjadi alternatif untuk mengakses partitur cetak yang sebelumnya memerlukan bantuan orang lain atau ketersediaan partitur dalam format Braille.

    Visionauta Magic, Bekerja Bersama TalkBack

    Khusus pengguna Android, Visionauta juga menawarkan Visionauta Magic melalui layanan berlangganan Visionauta Plus.

    Fitur ini dirancang bekerja bersama pembaca layar seperti TalkBack. Salah satu kegunaannya adalah membantu ketika pengguna menemukan gambar, ikon, atau elemen pada aplikasi yang tidak memiliki label aksesibilitas.

    Ketika fokus pembaca layar berada pada elemen tersebut, Visionauta Magic dapat menganalisisnya dan memberikan deskripsi kepada pengguna.

    Kemampuan lainnya bahkan memungkinkan pengguna meminta AI menjalankan tugas tertentu di ponsel.

    Misalnya, pengguna dapat mengatakan, “Buka WhatsApp dan kirim pesan ke Ana.”

    Menurut pengembang, Visionauta tidak langsung menjalankan perintah tersebut. AI terlebih dahulu menyusun rencana tindakan dan membacakannya kepada pengguna. Setelah pengguna memberikan persetujuan, barulah tindakan dijalankan sembari setiap tahap dinarasikan. Pengguna juga dapat menghentikan proses kapan saja.

    Tetap Punya Fitur yang Bisa Digunakan Offline

    Di luar fitur AI tersebut, Visionauta memiliki sejumlah alat untuk aktivitas sehari-hari yang sebagian besar dapat digunakan tanpa koneksi internet.

    Salah satunya pembaca teks offline. Pengguna dapat mengarahkan kamera ke dokumen, kemasan, surat, maupun papan pengumuman untuk mendengarkan teks yang terdapat di dalamnya.

    Ada pula fitur pencari benda. Pengguna dapat menyebut benda yang ingin ditemukan, kemudian kamera memindai lingkungan dan memberikan petunjuk melalui suara serta getaran ketika benda ditemukan.

    Visionauta menyediakan pengenalan sejumlah mata uang, kaca pembesar elektronik dengan beberapa pilihan kontras bagi pengguna low vision, serta senter dengan pengingat getaran.

    Aplikasi ini juga menyediakan suara yang dapat digunakan bersama TalkBack pada Android maupun VoiceOver di iPhone dan, setelah diunduh, dapat bekerja secara offline.

    Bahasa Indonesia Jadi Salah Satu Bahasa Baru

    Dalam pembaruan terbarunya, Visionauta tersedia dalam 16 bahasa, yakni Portugis, Inggris, Spanyol, Prancis, Korea, Jerman, Jepang, Italia, Arab, Rusia, Mandarin Sederhana, Hindi, Bengali, Vietnam, Turki, dan Indonesia.

    Jonathan mengatakan kehadiran Hindi, Bengali, Vietnam, Turki, dan Indonesia berkaitan dengan keinginannya agar teknologi bantu tidak hanya mudah diakses oleh masyarakat yang menggunakan Bahasa Inggris.

    “Membawa aplikasi ini ke bahasa Hindi, Bengali, Vietnam, Turki, dan Indonesia adalah keputusan tentang keadilan, bukan tentang pasar. Teknologi bantu selalu tiba lebih dulu dalam bahasa Inggris, dan mereka yang tidak bisa berbahasa Inggris menunggu bertahun-tahun. Kini lebih dari satu miliar orang dapat bercakap dengan Visionauta dalam bahasa mereka sendiri,” ujar Jonathan.

    Visionauta sendiri berawal dari proyek Jonathan ketika menempuh studi magister Teknik Komputer. Ia menyebut Profesor Ismar Frango dan Profesor Nizam Omar dari Universidade Presbiteriana Mackenzie sebagai dua sosok yang mendorongnya mengembangkan proyek akademik tersebut menjadi alat yang dapat digunakan komunitas.

    Kini, dengan hadirnya Bahasa Indonesia, pengguna tunanetra di Tanah Air memiliki satu lagi pilihan aplikasi berbasis AI yang dapat dicoba untuk membantu mengakses informasi visual melalui telepon pintar.

    Visionauta tersedia melalui App Store untuk iPhone dan Google Play Store untuk Android.

    Download Visionauta

    Download Visionauta di App Store untuk pengguna iOS Download Visionauta di PlayStore untuk pengguna Android

    Sumber Press Release

    https://www.tensorial.com.br/visionauta/press-release/ https://www.tensorial.com.br/visionauta/press-release/visionauta-media-
  • Ketika Keamanan Bertemu Kemandirian: Apa Arti Perubahan Android bagi Pengguna Tunanetra?

    Itmi.or.id, Kebijakan baru Android tentang verifikasi developer tidak serta-merta menghapus sideloading.

    Namun bagi pengguna tunanetra, persoalannya lebih dalam: apakah kebebasan memilih dan memasang teknologi asistif tetap dapat dilakukan secara mandiri?

    Android selama bertahun-tahun dikenal sebagai sistem operasi ponsel yang relatif terbuka. Pengguna tidak hanya dapat memperoleh aplikasi melalui Google Play, tetapi juga melalui toko aplikasi lain, situs pengembang, repositori open-source, maupun berkas APK yang dipasang secara langsung.

    Bagi sebagian pengguna, kebebasan tersebut mungkin hanya dipandang sebagai pilihan teknis.

    Bagi tunanetra, kebebasan itu terkadang mempunyai arti yang jauh lebih besar.
    Ada pengguna yang membutuhkan pembaca layar alternatif. Ada yang menggunakan aplikasi OCR tertentu karena lebih mudah diakses. Ada pula aplikasi pembaca dokumen, Braille, navigasi, Al-Qur’an, kecerdasan buatan, dan berbagai utilitas aksesibilitas yang dikembangkan oleh komunitas kecil atau developer independen.

    Karena itu, kebijakan baru Google mengenai Android Developer Verification patut mendapat perhatian komunitas tunanetra.

    Namun persoalan ini perlu dibicarakan secara jernih. Tidak dengan kepanikan, tetapi juga tidak dengan menganggapnya sebagai perubahan kecil yang tidak mempunyai konsekuensi.

    Apa sebenarnya yang akan berubah?

    Indonesia termasuk empat negara pertama, bersama Brasil, Singapura, dan Thailand, yang menjadi lokasi penerapan awal sistem verifikasi developer Android.

    Mulai 30 September 2026, Android akan mulai memverifikasi instalasi aplikasi dari sejumlah toko aplikasi yang berpartisipasi, yaitu Google Play, HONOR App Market, OPPO App Market, Galaxy Store, Palm Store, V-Appstore, dan Xiaomi GetApps, pada perangkat Android bersertifikasi. (Android Developers)

    Namun ada informasi penting yang perlu diluruskan.

    Tanggal 30 September 2026 bukan tanggal ketika Android menghentikan pemasangan APK secara langsung.

    Dokumentasi resmi Google yang diperbarui pada Juli 2026 menyatakan bahwa apabila aplikasi dipasang secara langsung oleh pengguna atau didistribusikan melalui toko lain yang belum termasuk dalam tahap awal tersebut, persyaratan verifikasi baru belum diberlakukan pada tahap September.

    Pengalaman instalasi langsung belum berubah pada saat itu. (Android Developers)
    Google berencana memperluas sistem tersebut secara global pada 2027 dan seterusnya untuk aplikasi pada perangkat Android bersertifikasi.

    Jadi mengatakan bahwa “Android akan menutup sideloading pada September 2026” adalah tidak tepat. Tetapi mengatakan bahwa tidak ada perubahan penting juga tidak tepat.

    Yang sedang berubah adalah cara Android membangun kepercayaan terhadap aplikasi dan developer yang mendistribusikannya.

    Mengapa Google menerapkan kebijakan ini?

    Alasan utama yang dikemukakan Google adalah keamanan.

    Aplikasi Android yang dipasang dari luar toko resmi memang dapat digunakan dalam berbagai modus kejahatan digital. Korban dapat menerima pesan, telepon, atau tautan tertentu, kemudian diarahkan untuk memasang APK berbahaya.

    Bahaya menjadi lebih besar ketika aplikasi tersebut kemudian meminta izin yang sangat sensitif. Salah satunya adalah Accessibility Service.

    Izin aksesibilitas memungkinkan aplikasi tertentu membaca isi layar dan melakukan interaksi dengan aplikasi atas nama pengguna. Kemampuan yang sangat membantu bagi teknologi asistif ini juga dapat disalahgunakan oleh aplikasi jahat apabila jatuh ke tangan yang salah.

    Karena itu, Google berusaha membuat developer lebih dapat dipertanggungjawabkan dan mempersulit pelaku kejahatan untuk terus mendistribusikan aplikasi dengan identitas anonim.

    Dari sudut keamanan, tujuan ini perlu dihargai.

    Pengguna tunanetra juga berhak mendapatkan perlindungan dari penipuan, malware, pencurian data, dan manipulasi digital.

    Persoalannya bukan apakah keamanan diperlukan. Pertanyaannya adalah:
    bisakah keamanan ditingkatkan tanpa mengurangi kemandirian penyandang disabilitas?

    Sideloading ternyata tidak benar-benar dihapus Google masih menyediakan jalan untuk memasang aplikasi yang berasal dari developer yang belum terverifikasi.

    Jalur tersebut disebut Advanced Flow.

    Menurut dokumentasi resmi Android, Advanced Flow merupakan pengaturan satu kali bagi pengguna yang memahami risiko dan tetap ingin memasang aplikasi dari developer yang tidak terverifikasi. Pengguna juga masih dapat memasang aplikasi melalui Android Debug Bridge atau ADB. (Android Developers)

    Advanced Flow mulai diluncurkan secara global pada Agustus 2026.

    Tetapi prosesnya bukan sekadar menekan tombol “Izinkan”. Google menjelaskan beberapa tahap, antara lain:

    • mengaktifkan Developer Mode;
    • mengonfirmasi bahwa pengguna tidak sedang diarahkan atau dipaksa oleh pihak lain;
    • melakukan restart perangkat dan autentikasi ulang;
    • menunggu masa perlindungan selama satu hari;
    • kemudian melakukan verifikasi kembali menggunakan PIN atau autentikasi biometrik. (Android Developers)

    Masa tunggu 24 jam tersebut sengaja dibuat sebagai perlindungan terhadap social engineering atau penipuan ketika korban sedang dipandu secara langsung oleh penipu. (Android Developers)

    Dari perspektif keamanan, logikanya dapat dipahami. Namun bagi pengguna tunanetra muncul pertanyaan lain.
    “Masih bisa dipasang” belum tentu berarti “dapat diakses”

    Inilah bagian yang menurut kami penting untuk diperhatikan. Bagi pengguna awas yang terbiasa dengan pengaturan Android, melewati beberapa menu tambahan mungkin hanya terasa merepotkan.

    Bagi seorang tunanetra, seluruh proses tersebut harus dapat dilakukan menggunakan pembaca layar. Setiap tombol harus mempunyai label.

    Setiap dialog keamanan harus dapat dibaca. Urutan fokus harus benar. Pesan setelah restart harus dapat ditemukan.

    Autentikasi dan seluruh proses konfirmasi harus dapat dilakukan tanpa bantuan orang lain.
    Dengan demikian, persoalan aksesibilitas tidak cukup dijawab hanya dengan mengatakan:
    “fiturnya tetap tersedia.”

    Pertanyaan sebenarnya adalah: “apakah fitur tersebut dapat digunakan secara mandiri oleh tunanetra?”

    Ketersediaan dan aksesibilitas bukanlah hal yang sama. Ada persoalan lain yang sebenarnya sudah ada sejak Android 13

    Sebelum kebijakan Developer Verification muncul, Android sebenarnya telah memiliki perlindungan tambahan terhadap aplikasi hasil sideload.

    Pada Android 13 dan versi yang lebih baru terdapat mekanisme yang dikenal sebagai Restricted Settings atau Setelan Terbatas.

    Google menjelaskan bahwa aplikasi tertentu yang dipasang dari luar dapat dibatasi ketika hendak memperoleh izin sensitif.

    Yang menarik, Google sendiri secara eksplisit menyebut bahwa aplikasi yang dirancang untuk mendukung penyandang disabilitas dapat membutuhkan izin aksesibilitas. Dengan izin tersebut, aplikasi dapat membaca konten layar dan berinteraksi dengan aplikasi atas nama pengguna.

    Untuk aplikasi tertentu, pengguna terlebih dahulu harus membuka informasi aplikasi dan memilih:
    “Izinkan setelan terbatas.” Barulah izin aksesibilitas dapat diberikan.

    Sekarang bayangkan alur ketika seorang tunanetra hendak memasang pembaca layar atau teknologi asistif alternatif yang tidak berasal dari jalur distribusi biasa.

    Pengguna mungkin harus mengunduh APK. Kemudian melewati mekanisme instalasi. Kemudian mengizinkan Setelan Terbatas.

    Kemudian membuka pengaturan Aksesibilitas. Barulah layanan aksesibilitas dapat diaktifkan.

    Kalau seluruh proses tersebut dapat dibaca dengan TalkBack, mungkin masalahnya dapat diatasi.

    Tetapi bagaimana jika screen reader yang sedang digunakan justru bermasalah? Bagaimana jika aplikasi yang hendak dipasang adalah screen reader yang diperlukan agar pengguna dapat membaca layar dengan lebih baik?

    Di sinilah muncul sebuah paradoks:

    jangan sampai seseorang membutuhkan bantuan orang awas hanya untuk mengaktifkan teknologi yang seharusnya membuatnya mandiri.

    Tidak semua aplikasi tunanetra mempunyai tingkat risiko yang sama Kita juga perlu menghindari kesimpulan bahwa seluruh aplikasi yang digunakan tunanetra akan bermasalah.

    Aplikasi yang tersedia melalui Google Play dan berasal dari developer yang telah terverifikasi kemungkinan besar tidak mengalami perubahan berarti dalam pengalaman instalasinya.

    Google menyatakan bahwa lebih dari 99 persen aplikasi di Google Play telah terdaftar dalam sistem verifikasi. (Android Developers)

    Karena itu, pengguna tidak perlu panik dan mengira TalkBack atau seluruh aplikasi aksesibilitas di Play Store akan tiba-tiba tidak dapat digunakan.

    Perhatian lebih besar justru perlu diberikan kepada:

    • aplikasi aksesibilitas kecil yang didistribusikan langsung sebagai APK;
    • aplikasi open-source;
    • aplikasi yang dikembangkan komunitas;
    • teknologi asistif eksperimental;
    • aplikasi lama yang sudah tidak aktif dikembangkan;
    • serta aplikasi yang developernya memilih untuk tidak melakukan registrasi.

    Kategori inilah yang perlu dipantau lebih serius menjelang penerapan yang lebih luas pada 2027.

    Mengapa aplikasi lama juga penting bagi tunanetra?

    Bagi kebanyakan orang, menggunakan versi terbaru aplikasi mungkin dianggap sebagai hal yang selalu ideal.

    Namun pengalaman pengguna tidak selalu demikian.

    Ada kalanya pembaruan aplikasi justru menyebabkan perubahan antarmuka yang kurang aksesibel. Tombol yang sebelumnya mempunyai label dapat berubah. Navigasi yang sebelumnya mudah dapat menjadi lebih rumit.

    Fitur yang selama ini bekerja baik dengan pembaca layar dapat mengalami gangguan.

    Dalam situasi tertentu, pengguna tunanetra memilih mempertahankan versi lama aplikasi karena versi tersebut lebih aksesibel untuk kebutuhannya.

    Karena itu, kebebasan memasang APK lama terkadang bukan sekadar kebiasaan “mengutak-atik” Android.

    Ia dapat menjadi cara untuk mempertahankan akses terhadap teknologi yang bekerja dengan baik.
    Tentu, APK lama juga membawa risiko keamanan. Karena itu pengguna tetap harus berhati-hati terhadap sumber berkas dan reputasi developernya.

    Kebebasan dan keamanan memang harus berjalan bersama. Bagaimana dengan aplikasi open-source?

    Komunitas open-source seperti F-Droid mempunyai kritik yang lebih mendasar. Mereka khawatir Android Developer Verification akan membuat developer independen semakin bergantung pada sistem registrasi Google agar aplikasinya dapat dipasang secara normal pada perangkat Android bersertifikasi.

    F-Droid bahkan telah menerbitkan surat terbuka yang menentang kebijakan tersebut. Menurut mereka, persoalannya bukan semata apakah APK masih dapat dipasang melalui jalur tertentu, melainkan apakah distribusi perangkat lunak Android yang selama ini relatif terbuka akan semakin berada di bawah kontrol satu pihak.

    Google mempunyai pandangan berbeda. Google mengatakan bahwa sideloading tetap tersedia melalui Advanced Flow maupun ADB, dan bahkan menyediakan Limited Distribution Account bagi mahasiswa, penghobi, dan pembelajar. Akun tersebut tidak memerlukan identitas pemerintah atau biaya, tetapi distribusinya dibatasi hingga maksimal 20 perangkat tertentu.

    Kedua pandangan tersebut patut didengar. Google mempunyai kepentingan untuk meningkatkan keamanan ekosistem. Komunitas open-source mempunyai kepentingan menjaga kebebasan pengguna dan developer.

    Bagi komunitas tunanetra, pertanyaan yang perlu ditambahkan adalah:
    bagaimana kedua kepentingan tersebut memengaruhi aksesibilitas? Keamanan tidak boleh dipertentangkan dengan aksesibilitas

    Kita sebaiknya tidak terjebak dalam pilihan palsu: seolah-olah harus memilih antara keamanan atau kebebasan.

    Tunanetra membutuhkan keduanya. Kita membutuhkan perangkat yang aman dari malware dan penipuan. Tetapi kita juga membutuhkan kemampuan untuk memilih teknologi asistif yang paling sesuai.

    Kita membutuhkan perlindungan terhadap aplikasi jahat. Tetapi kita juga membutuhkan proses keamanan yang dapat digunakan secara mandiri menggunakan pembaca layar.

    Keamanan yang baik seharusnya melindungi kemandirian, bukan menggantikannya. Sementara keterbukaan yang baik seharusnya memberikan pilihan dengan informasi risiko yang jelas, bukan membiarkan pengguna tanpa perlindungan.

    Indonesia mempunyai kesempatan penting Ada satu hal yang justru dapat kita lihat sebagai peluang.
    Karena Indonesia termasuk negara pertama dalam penerapan sistem baru ini, komunitas tunanetra Indonesia mempunyai kesempatan untuk melakukan pengujian aksesibilitas lebih awal.

    Beberapa pertanyaan konkret perlu diuji:

    1. Apakah Advanced Flow dapat digunakan sepenuhnya dengan TalkBack?
    2. Apakah semua tombol dan dialog mempunyai label yang dapat dibaca screen reader?
    3. Bagaimana aksesibilitas proses setelah perangkat restart?
    4. Apakah menu “Izinkan setelan terbatas” mudah ditemukan?
    5. Apakah pengguna dapat mengaktifkan aplikasi aksesibilitas hasil sideload tanpa bantuan orang awas?
    6. Apakah seluruh instruksi tersedia dalam Bahasa Indonesia yang jelas?
    7. Bagaimana pengalaman pengguna tunanetra yang hanya mempunyai ponsel dan tidak mempunyai komputer untuk menggunakan ADB?

    Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dijawab melalui pengalaman nyata. Kalau ditemukan hambatan,

    • dokumentasikan.
    • Sebutkan jenis perangkat.
    • Versi Android.
    • Versi TalkBack.
    • Tahap yang tidak dapat diakses.
    • Pesan yang muncul.
    • Dan apakah pengguna akhirnya membutuhkan bantuan orang lain.

    Data konkret semacam itu jauh lebih kuat daripada sekadar mengatakan bahwa sebuah kebijakan “tidak aksesibel”.

    Apa yang dapat dilakukan komunitas tunanetra? Ada beberapa langkah yang dapat mulai dilakukan.

    Pertama, jangan panik dan jangan menyebarkan informasi bahwa APK akan langsung diblokir pada 30 September 2026, karena informasi resmi tidak mengatakan demikian.

    Kedua, mulai petakan aplikasi apa saja yang banyak digunakan tunanetra Indonesia dan diperoleh di luar Google Play.

    Ketiga, identifikasi aplikasi yang menggunakan Accessibility Service dan aplikasi yang sangat penting bagi kemandirian pengguna.

    Keempat, lakukan pengujian Advanced Flow dan Restricted Settings dengan TalkBack pada berbagai merek ponsel.

    Kelima, dokumentasikan setiap hambatan aksesibilitas.

    Dan keenam, apabila ditemukan persoalan sistematis, komunitas dan organisasi penyandang disabilitas dapat menyampaikannya secara resmi kepada Google, produsen perangkat, pemerintah, maupun lembaga terkait.

    Dengan begitu, suara tunanetra tidak berhenti pada kekhawatiran.
    Ia berubah menjadi masukan berbasis bukti.

    Bukan saatnya panik, tetapi bukan pula saatnya diam

    Perubahan Android ini belum berarti bahwa pengguna tunanetra akan kehilangan aplikasi-aplikasi mereka.

    Tidak ada dasar untuk mengatakan bahwa pada 30 September 2026 seluruh APK akan berhenti dapat dipasang. Tetapi perubahan tersebut juga terlalu penting untuk diabaikan. Pada 2027, Google berencana memperluas sistem verifikasi secara global pada perangkat Android bersertifikasi. Bagaimana implementasinya berkembang, bagaimana produsen perangkat menerapkannya, dan bagaimana pengalaman pengguna disabilitas di lapangan perlu terus dipantau. (Android Developers)

    Bagi pengguna tunanetra, pertanyaan akhirnya bukan sekadar:
    “Apakah Android masih mengizinkan sideloading?”

    Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah seorang tunanetra tetap dapat memilih, memasang, mengaktifkan, dan menggunakan teknologi yang dibutuhkannya secara aman dan mandiri?”

    Jika jawabannya tetap ya, maka keamanan dan keterbukaan dapat berjalan beriringan.

    Jika jawabannya mulai menjadi tidak, persoalannya bukan lagi sekadar kebijakan instalasi aplikasi.

    Ia telah menjadi persoalan aksesibilitas, pilihan, dan kemandirian penyandang disabilitas.

    Dan tiga hal itu terlalu penting untuk dianggap sebagai urusan teknis kecil.