Penulis: Media Officer

  • Dari Sumatera Utara untuk ITMI, Seruan Membangun Masjid Tuai Ragam Opini

    Sumut, itmi.or.id, Wacana pembangunan masjid di lingkungan Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) menjadi perhatian dalam diskusi internal pengurus yang berlangsung di grup Forum Komunikasi Pengurus Pusat, Pengurus Wilayah, dan Pengurus Daerah (FK PP, PW Dan PD) pada Sabtu, 16-05-2026.

    Diskusi tersebut bermula dari ajakan Ketua PW ITMI Provinsi Sumatera Utara, Nofal Ahmad Rozaqul Yaqin Caniago, yang mengajak seluruh elemen organisasi untuk mulai memikirkan pembangunan masjid di setiap wilayah yang memiliki basis anggota cukup besar.

    Dalam pesannya, Nofal menilai masjid memiliki peran strategis dalam perjuangan umat Islam, termasuk sebagai pusat pembinaan, dakwah, pendidikan, hingga penguatan organisasi.
    “Jihad yang paling strategis adalah mendirikan masjid dan memakmurkannya,” tulisnya dalam pesan yang dibagikan di grup komunikasi internal organisasi.

    Ia juga mengungkapkan bahwa gagasan pembangunan masjid sebenarnya telah diperjuangkan sejak lama melalui pembentukan panitia pengadaan tanah dan pembangunan masjid pada tahun 2016. Namun hingga kini, upaya tersebut masih berada pada tahap penggalangan dana.

    Selain mengajak membangun masjid, Nofal turut menyampaikan sejumlah catatan evaluasi organisasi, mulai dari kondisi sekretariat daerah yang masih menumpang, pendataan anggota yang belum maksimal, hingga perlunya penguatan pembinaan wilayah dan daerah.

    Pengurus Soroti Skala Prioritas Organisasi

    Ajakan tersebut kemudian mendapat beragam tanggapan dari para pengurus di berbagai daerah.
    Sekretaris Daerah PD ITMI Jakarta Utara, Sulaiman, menyampaikan apresiasinya terhadap semangat pembangunan masjid tersebut. Namun menurutnya, organisasi juga perlu melihat kondisi dan kemampuan yang dimiliki saat ini.

    Ia menilai banyak daerah masih menghadapi persoalan mendasar terkait fasilitas organisasi.
    “Punya sekretariat saja sudah syukur,” ujarnya dalam diskusi tersebut. 16/05/2026.

    Sulaiman menambahkan bahwa pembangunan masjid tentu membutuhkan biaya besar dan kesiapan yang matang, sehingga perlu dipertimbangkan secara realistis sesuai kemampuan masing-masing wilayah.
    Penguatan SDM Dinilai Lebih Mendesak
    Tanggapan lebih mendalam disampaikan Ketua PD ITMI Kabupaten Sukoharjo sekaligus pengurus PW ITMI Jawa Tengah, Heri Suryanto.

    Dalam pandangannya, memakmurkan masjid tidak selalu harus dimulai dengan membangun fisik bangunan baru, tetapi dapat diwujudkan melalui penguatan kualitas sumber daya manusia dan keterlibatan aktif anggota ITMI di tengah masyarakat.
    Ia mengutip Surah At-Taubah ayat 18 tentang pentingnya memakmurkan masjid melalui iman, ibadah, dakwah, dan pembinaan umat.

    Menurut Heri, di banyak daerah masjid sudah tersedia hampir di setiap lingkungan masyarakat. Karena itu, yang lebih penting saat ini ialah menghadirkan kader-kader tunanetra muslim yang mampu aktif dan berkontribusi di masjid sekitar.
    “Bisa menjadi imam, mengajar Al-Qur’an, mengisi pengajian, aktif di kegiatan masjid, dan menjadi teladan di masyarakat juga merupakan bentuk perjuangan yang besar,” tulisnya pada Sabtu, 16/05/2026.

    Ia juga menilai penguatan sekretariat, pembinaan kader, ekonomi anggota, serta pengembangan organisasi masih menjadi kebutuhan prioritas di berbagai daerah.
    Pandangan tersebut turut mendapat respons positif dari Sekretaris Umum ITMI Heri Mujianto, S.H.I., M.Pd., yang mengamini pentingnya penguatan kualitas sumber daya manusia dan pembinaan organisasi secara bertahap sesuai kondisi daerah masing-masing.

    Dinamika Pemikiran yang Tetap Hangat

    Meski menghadirkan beragam pandangan, diskusi tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
    Perbedaan pendapat yang muncul justru memperlihatkan adanya ruang dialog dan evaluasi yang sehat di tubuh organisasi.

    Sebagian pengurus memandang pembangunan masjid sebagai simbol penting penguatan identitas perjuangan umat, sementara sebagian lainnya menilai penguatan kaderisasi, sekretariat, dan pemberdayaan anggota masih menjadi kebutuhan yang lebih mendesak untuk saat ini.
    Diskusi tersebut menjadi gambaran bahwa ITMI terus bergerak tidak hanya dalam bidang sosial dan organisasi, tetapi juga dalam membangun gagasan serta arah perjuangan tunanetra muslim di Indonesia.

  • ITMI Optimalkan SIARGA, Launching Website dan Pencetakan Perdana KTAI Segera Digelar

    ITMI Optimalkan SIARGA, Launching Website dan Pencetakan Perdana KTAI Segera Digelar

    Ilustrasi Photo
    Tangkapan layar peserta zoom
    Cimahi, itmi.or.id, Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) terus mematangkan langkah transformasi digital organisasi melalui rapat persiapan launching website resmi ITMI dan pencetakan perdana Kartu Tanda Anggota ITMI (KTAI) berbasis platform SIARGA (Sistem Informasi Registrasi Anggota), Jumat (15/05/2026) malam. Rapat yang digelar secara daring melalui Zoom tersebut diselenggarakan oleh Pengurus Pusat ITMI dan dihadiri sejumlah tokoh penting organisasi, mulai dari Ketua Umum ITMI Ust. H. Yogi Madsuni, Sekretaris Umum Heri Mujianto, S.H.I., M.Pd., Bendahara Umum Ajad Sudrajad, hingga Ketua Unit Media Informasi Publikasi, Riset & Teknologi Drs. Toto Sugihatno beserta jajaran stafnya. Turut hadir pula Ketua Bidang Pendidikan dan Dakwah Ust. H. Hepi Septian, S.Ag., perwakilan Bidang Organisasi Ust. Hidayat, serta sesepuh ITMI sekaligus mantan Ketua Umum ITMI, Ust. Yayat Ruhyat, S.Pd., yang kini menjabat Ketua Asosiasi Pengajar Qur’an Braille Indonesia (APQBI).

    Apresiasi untuk Tim Media Officer

    Rapat dibuka oleh Sekretaris Umum ITMI Heri Mujianto yang dalam pengantarnya menyampaikan apresiasi kepada tim media officer yang selama ini terus mengembangkan website dan platform SIARGA ITMI. Menurutnya, pengembangan sistem digital organisasi menjadi langkah penting dalam memperkuat tata kelola organisasi serta pelayanan terhadap anggota di berbagai daerah. Agenda kemudian dilanjutkan dengan presentasi pengembangan website dan platform SIARGA oleh Dwi Citolaksono yang menjelaskan berbagai fitur serta optimalisasi sistem yang sedang dikembangkan. Dalam pemaparannya, Cito menegaskan bahwa platform SIARGA merupakan sistem yang dikembangkan secara mandiri oleh internal ITMI.
    Alhamdulillah bapak ibu, SIARGA ini original buatan kita. Sehingga ini saya kira menjadi suatu kebanggaan buat ITMI,” ujarnya.
    Ia juga menjelaskan bahwa pengembangan terus dilakukan secara masif guna menghadirkan sistem yang lebih efektif dan memudahkan kerja organisasi. Salah satu fitur baru yang diperkenalkan ialah fitur profil wilayah dan daerah yang dapat diisi langsung oleh admin wilayah maupun daerah melalui platform SIARGA. Data tersebut nantinya dapat diunduh oleh pengurus pusat dalam bentuk file Excel untuk kebutuhan pemetaan organisasi. “Ini memudahkan bidang organisasi dalam mendeteksi mana yang belum Muswil, mana yang belum Musda, dan lain sebagainya. Ini keuntungan kalau aplikasinya bikin sendiri bapak ibu,” lanjutnya. Paparan tersebut kemudian diperkuat dengan tambahan masukan dari staf media officer lainnya seperti Pii Jali Fadli, S.Pd., Roja Mubarok, serta Ketua Unit Media Informasi Publikasi, Riset & Teknologi Drs. Toto Sugihatno.

    Pengurus Dorong Partisipasi Digital Organisasi

    Dalam rapat tersebut, sejumlah peserta salah satunya Syntia Cempaka Dewi Ketua Departemen Potensi Muslimah, juga menyampaikan keinginan untuk ikut berkontribusi dalam pengembangan media digital ITMI, baik melalui penulisan artikel di website maupun keterlibatan dalam konten video pada akun TikTok resmi ITMI yang baru diluncurkan. Hal tersebut menunjukkan antusiasme pengurus dalam mendukung transformasi digital organisasi agar semakin dikenal masyarakat luas.

    Launching Disepakati Digelar 27 Mei 2026

    Salah satu agenda penting dalam rapat tersebut adalah penentuan waktu launching website ITMI sekaligus pencetakan perdana KTAI berbasis SIARGA. Setelah melalui diskusi bersama, peserta rapat sepakat menetapkan launching akan dilaksanakan pada 10 Dzulhijjah 1447 H / 27 Mei 2026 M, di kantor Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia (Fatmawati, Jakarta). Keputusan tersebut kemudian disahkan langsung oleh Ketua Umum ITMI Ust. H. Yogi Madsuni. Sebelum mengesahkan keputusan, Ketua Umum turut menyampaikan evaluasi terkait perkembangan organisasi di sejumlah wilayah yang dinilai masih belum optimal dalam melakukan penginputan anggota ke platform SIARGA. Beberapa wilayah juga disebutnya belum menunjukkan keaktifan organisasi dalam beberapa waktu terakhir. “Gimana ya, mereka gak aktif juga saya gimana juga gak bisa datang begitu saja ‘hey, kenapa gak aktif nih?’ Kan nggak bisa begitu ya. Ya, kita tunggu lah paling tidak sebulan ke depan ya Pak Dayat,” ujar Ketua Umum kepada Ketua Departemen Pembinaan Wilayah dan Daerah, Ust. Hidayat. Sementara itu, Sekretaris Umum ITMI turut menambahkan bahwa launching tersebut diharapkan dapat disaksikan lebih luas oleh anggota, khususnya di wilayah Jakarta Raya. “Ya, sesekali mereka menyaksikan acara pusat, jangan Bandung mulu,” ujar Heri Mujianto disambut suasana hangat peserta rapat. Ia juga menyebut bahwa kebutuhan terhadap pencetakan KTAI sudah mulai banyak ditanyakan anggota. “Kita juga nampaknya harus sesegera mungkin ya pak, karena waktu saya pulang dari masjid beberapa waktu yang lalu setelah Tadarus Nasional ITMI, anggota banyak yang nanya kapan bisa dicetak,” imbuhnya.

    Langkah Menuju Penguatan Administrasi dan Pelayanan Anggota

    Rapat yang berlangsung lebih dari dua jam tersebut menjadi bagian penting dari langkah ITMI dalam memperkuat sistem administrasi organisasi berbasis digital. Melalui website resmi dan platform SIARGA, ITMI berharap pendataan anggota dapat berjalan lebih tertib, terintegrasi, dan profesional. Selain itu, keberadaan sistem tersebut diharapkan dapat membuka akses anggota terhadap berbagai program pemberdayaan, pelatihan, maupun peluang kerja yang bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah. Dengan semangat kolaborasi dan transformasi digital yang terus berkembang, ITMI optimistis dapat memperluas peran organisasi sekaligus memperkuat pelayanan kepada tunanetra muslim di Indonesia.
  • Keutamaan Doa dalam Islam: Jangan Pernah Putus Harap kepada Allah

    www.itmi.or.id, Dalam hidup, ada masa ketika manusia merasa kuat. Semua terasa mudah dijalani. Urusan lancar, hati tenang, dan langkah terasa ringan.
    Namun ada juga masa ketika hidup terasa sempit. Pikiran penuh. Hati lelah. Masalah datang silih berganti. Bahkan kadang seseorang bingung harus bercerita kepada siapa.
    Di saat seperti itulah seorang muslim sebenarnya memiliki tempat kembali yang tidak pernah tertutup: doa.
    Islam mengajarkan bahwa berdoa bukan tanda kelemahan. Justru doa adalah tanda bahwa seorang hamba sadar dirinya membutuhkan Allah.

    Allah Menyukai Hamba yang Berdoa

    Sebagian orang merasa sungkan untuk banyak meminta kepada Allah. Ada yang berpikir:

    Masalahku terlalu kecil.”

    Atau mungkin aku terlalu banyak dosa.

    Padahal Allah justru menyukai hamba yang datang dan memohon kepada-Nya.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa.

    (HR. Tirmidzi)

    Berbeda dengan manusia yang kadang bosan mendengar permintaan terus-menerus, Allah justru murka kepada hamba yang enggan berdoa.
    Karena doa adalah bentuk penghambaan.
    Tanda bahwa hati masih bergantung kepada-Nya.
    Tidak Ada Doa yang Sia-Sia
    Kadang seseorang berkata:

    Aku sudah berdoa lama, tapi belum dikabulkan.

    Padahal dalam Islam, doa tidak pernah benar-benar sia-sia.

    Bisa jadi Allah langsung mengabulkannya.
    Bisa jadi Allah menundanya karena waktu terbaiknya belum tiba.
    Atau bisa jadi Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.

    Ada hal yang hari ini kita anggap baik, padahal belum tentu baik menurut Allah.

    Dan ada pula hal yang kita kecewakan hari ini, ternyata justru menyelamatkan kita di kemudian hari.
    Karena itu doa bukan hanya tentang meminta, tetapi juga tentang belajar percaya kepada ketetapan Allah.

    Berdoalah dalam Segala Keadaan

    Sering kali manusia baru ingat berdoa ketika sedang susah.
    Padahal hubungan dengan Allah seharusnya tidak dibangun hanya saat air mata jatuh.

    Berdoalah ketika bahagia.
    Berdoalah ketika sehat.
    Berdoalah ketika lapang.

    Karena bisa jadi nikmat yang kita miliki hari ini juga datang dari doa-doa yang pernah dipanjatkan sebelumnya.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    Barang siapa ingin doanya dikabulkan saat sulit dan sempit, maka perbanyaklah berdoa saat lapang.

    (HR. Tirmidzi)

    Tidak Perlu Kata-Kata yang Rumit

    Ada orang yang merasa tidak pandai berdoa. Takut doanya kurang bagus atau tidak fasih.

    Padahal Allah tidak melihat indahnya susunan kalimat, tetapi melihat kejujuran hati hamba-Nya.

    Kadang doa paling sederhana justru paling tulus:

    Ya Allah, kuatkan aku.
    Ya Allah, mudahkan urusanku.
    Ya Allah, jangan tinggalkan aku sendiri.

    Allah Maha Mendengar bahkan sebelum air mata jatuh.

    Doa Adalah Kekuatan Seorang Mukmin

    Ada banyak hal dalam hidup yang tidak bisa dikendalikan manusia.
    Kita tidak bisa memastikan umur.
    Tidak bisa memastikan rezeki.
    Tidak bisa memastikan hati manusia tetap sama.

    Tetapi seorang muslim selalu memiliki kekuatan yang tidak dimiliki semua orang: ia bisa berdoa kapan saja kepada Rabb-nya.
    Dan sering kali, yang membuat seseorang mampu bertahan bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena ia yakin Allah mendengar doanya.

    Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah

    Seberat apa pun masalah yang sedang dihadapi, jangan sampai hati berhenti berharap kepada Allah.

    Karena selama seseorang masih mau berdoa, sebenarnya ia belum benar-benar kalah.
    Mungkin jalannya belum terlihat.
    Mungkin jawabannya belum datang.
    Tetapi Allah tidak pernah meninggalkan hamba yang terus mengetuk pintu-Nya.

    Penutup

    Berdoa adalah ibadah yang sangat dekat dengan kehidupan seorang muslim. Tidak membutuhkan tempat khusus. Tidak harus menunggu sempurna. Tidak harus menunggu hidup tenang terlebih dahulu.

    Cukup hadirkan hati, lalu berbicaralah kepada Allah. Maka jangan lelah berdoa Jangan malu meminta kepada Allah. Dan jangan merasa sendirian menghadapi hidup.
    Karena ada Rabb yang selalu mendengar, bahkan ketika doa itu hanya terucap lirih di dalam hati.