Tag: ukhuwah

  • Debat Maulid Memanas di Grup Kajian ITMI, Sekum Tutup Sementara Ruang Diskusi

    Cimahi, Itmi.or.id – Perbedaan pandangan mengenai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Grup Kajian ITMI Nasional berubah menjadi perdebatan yang dinilai mulai mengganggu ukhuwah.

    Sekretaris Umum PP ITMI Heri Mujianto, S.H.I., M.Pd. akhirnya meminta anggota menghentikan perdebatan dan menutup grup untuk sementara waktu.

    Dalam pesan yang disampaikan kepada anggota, Heri mengatakan ia melihat dua pandangan yang sama-sama tumbuh di lingkungan ITMI.

    Sebagian anggota memperingati Maulid Nabi sebagai bentuk cinta, syukur, dan sarana mengingat keteladanan Rasulullah. Sebagian lain memilih tidak memperingatinya karena pertimbangan pemahaman dan dalil yang mereka yakini.

    Bagi Heri, perbedaan itu sendiri bukan persoalan.

    Masalah muncul ketika perbedaan berubah menjadi saling menyalahkan, merendahkan, dan merasa pendapat sendiri paling benar.

    “Saya tidak ingin masuk ke dalam wilayah menentukan siapa yang paling benar dalam perbedaan ini. Saya juga tidak ingin memihak kepada kelompok yang memperingati ataupun yang tidak memperingati,” kata Heri, Selasa, 25/8.

    Ia mempersilakan masing-masing pihak tetap memegang pandangan yang diyakini. Namun, ia meminta setiap anggota bertanggung jawab terhadap cara menyampaikan pendapat.

    “Ada satu hal yang harus kita jaga bersama: lisan, sikap, dan ukhuwah kita,” ujarnya.

    Perbedaan Tak Boleh Menghapus Persaudaraan

    Heri mengutip Surah Al-Hujurat ayat 10 tentang persaudaraan sesama orang beriman.

    Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa perbedaan pendapat tidak mengubah hubungan dasar antarsesama Muslim.

    “Sebelum kita berbeda pendapat, kita adalah saudara. Dan setelah kita berbeda pendapat, kita tetap saudara.”

    Ia juga mengingatkan Surah Al-Anfal ayat 46 yang berisi larangan berselisih karena dapat melemahkan kekuatan umat.

    Bagi Heri, persoalan Maulid tidak semestinya berkembang menjadi pertarungan untuk menentukan siapa yang paling saleh atau paling benar.

    Kritik terhadap Perdebatan di WhatsApp

    Dalam pesannya, Heri juga menyoroti cara anggota berkomunikasi di grup WhatsApp.

    Ia mengutip hadis mengenai seorang Muslim yang menjaga orang lain dari lisan dan tangannya. Menurut dia, konteks lisan di era digital juga mencakup tulisan di ruang percakapan.

    “Hari ini, ‘lisan’ kita tidak hanya berupa ucapan. Tulisan di grup WhatsApp pun dapat melukai hati saudara kita.”

    Ia mengingatkan bahwa sebuah pesan bisa diketik dalam hitungan detik, tetapi dampaknya dapat tinggal lebih lama.

    “Kadang-kadang kita menulis sesuatu hanya dalam beberapa detik, tetapi bekasnya di hati saudara kita bisa bertahan sangat lama.”

    Heri kemudian meminta anggota tidak merasa setiap perbedaan harus selalu ditanggapi.

    “Tidak semua perbedaan harus dimenangkan. Tidak semua pendapat harus dijawab. Tidak semua tulisan yang tidak kita setujui harus dibalas saat itu juga.”

    ITMI Punya Agenda yang Lebih Besar

    Heri juga mengingatkan bahwa ITMI dibentuk bukan untuk menjadi arena pertarungan pendapat.

    Menurutnya, organisasi masih memiliki pekerjaan yang lebih besar, mulai dari pembinaan tunanetra Muslim, penyediaan akses Al-Qur’an Braille, pendidikan, dakwah, pemberdayaan, advokasi, hingga kemandirian anggota.

    “Kita dipertemukan dalam ITMI bukan untuk mencari lawan. Kita berkumpul karena ada perjuangan yang jauh lebih besar.”

    Ia menyayangkan apabila energi organisasi justru habis dalam perdebatan internal.

    “Sayang sekali apabila energi besar yang seharusnya kita gunakan untuk perjuangan itu habis hanya untuk saling berdebat di antara sesama saudara.”

    Grup Ditutup Sementara

    Karena situasi dinilai sudah tidak sehat, Heri memutuskan menutup Grup Kajian ITMI Nasional untuk sementara.

    Ia menegaskan keputusan tersebut bukan bentuk pembungkaman dan bukan pula kemenangan salah satu kubu.

    “Untuk sementara, grup akan saya tutup agar kita semua memiliki ruang untuk menenangkan hati dan bermuhasabah.”

    Menurut Heri, jeda diperlukan agar anggota dapat kembali melihat satu sama lain sebagai saudara, bukan sebagai lawan debat.

    “Ini bukan untuk membungkam siapa pun, bukan pula untuk memenangkan salah satu pihak. Ini semata-mata ikhtiar agar kita dapat kembali melihat satu sama lain sebagai saudara.”

    Akhlak Rasulullah Jadi Titik Temu

    Di tengah perbedaan soal Maulid, Heri menawarkan satu titik temu.

    Apa pun sikap seseorang terhadap peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, akhlak Rasulullah tetap harus menjadi teladan bersama.

    “Apa pun cara kita memandang peringatan kelahiran beliau, mari kita sepakat pada satu hal: akhlak Rasulullah harus hadir dalam diri kita.”

    Ia menyebut kasih sayang, kesabaran, kelembutan, kemampuan mempersatukan umat, dan penghormatan kepada sesama sebagai nilai yang perlu lebih dikedepankan.

    Heri menutup pesannya dengan seruan agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.

    “Mari berbeda tanpa bermusuhan. Mari berpendapat tanpa merendahkan. Mari berpegang pada keyakinan masing-masing tanpa memutuskan persaudaraan.”

    Menurutnya, ITMI membutuhkan seluruh anggotanya, termasuk mereka yang memiliki pandangan berbeda dalam persoalan keagamaan.

    “Yuk, mari kita jaga rumah besar ini bersama-sama. Semangat ukhuwah, guys!” pungkasnya.