Itmi.or.id – Keterbatasan aksesibilitas pada sejumlah aplikasi Islami mendorong Fauzan, S.Kom., seorang programmer tunanetra asal Kabupaten Kampar, Riau, mengembangkan Islamic Pedia, aplikasi Android yang menghadirkan beragam fitur penunjang ibadah dengan perhatian khusus terhadap aksesibilitas pembaca layar.
Islamic Pedia tidak dibuat khusus untuk tunanetra. Fauzan sejak awal mengembangkannya sebagai aplikasi yang dapat digunakan umat Muslim secara umum.
Namun, pengalamannya sebagai pengguna pembaca layar membuat aspek aksesibilitas menjadi salah satu perhatian utama.
“Dari awal aplikasi ini sebenarnya tidak saya rancang khusus untuk tunanetra, melainkan untuk semua kalangan umat Muslim tanpa terkecuali. Bagi saya kemudahan beribadah itu adalah hak bagi seluruh umat Islam tanpa terkecuali, baik yang awas maupun tunanetra yang menggunakan pembaca layar,” kata Fauzan.
Berawal dari Keresahan Pengguna Pembaca Layar
Gagasan Islamic Pedia bermula ketika Fauzan mengembangkan add-on untuk pembaca layar NVDA di Windows. Karena penggunaannya terbatas pada komputer dengan NVDA, ia kemudian membawa gagasan tersebut ke perangkat Android agar dapat menjangkau lebih banyak pengguna.
Sebagai tunanetra, Fauzan juga menemukan persoalan ketika menggunakan berbagai aplikasi Islami yang tersedia. Salah satu fitur yang menurut pengalamannya masih sulit diakses secara penuh dengan pembaca layar adalah kompas kiblat.
“Alasan utama kenapa saya ingin membuat aplikasi ini adalah karena sejauh yang saya temui, begitu banyak aplikasi Islami yang bertebaran di Google Play Store, belum ada satu pun yang 100 persen akses dengan pembaca layar, terutama fitur kompas kiblat,” ungkapnya.
Dari pengalaman itulah Islamic Pedia dikembangkan dengan aksesibilitas sebagai salah satu fondasinya.
Kompas Kiblat Dipandu Suara dan Getaran
Kompas kiblat menjadi salah satu fitur unggulan Islamic Pedia. Alih-alih hanya mengandalkan penunjuk arah secara visual, fitur tersebut memberikan informasi melalui suara dan getaran.
Saat sensor kiblat diaktifkan, aplikasi dapat menyebutkan posisi derajat perangkat. Pengguna kemudian dapat mengarahkan ponsel ke kanan atau kiri hingga memperoleh arah yang tepat.
Ketika perangkat telah menghadap arah kiblat, aplikasi memberikan suara beep. Pengguna juga dapat mengaktifkan text-to-speech (TTS) untuk memperoleh panduan suara serta menggunakan getaran sebagai umpan balik.
“Saya mengembangkan aplikasi ini berdasarkan keresahan diri sendiri, serta juga keresahan tunanetra lainnya,” ujar Fauzan.
Dari Jadwal Salat hingga Al-Qur’an
Islamic Pedia tidak berhenti pada fitur kompas kiblat. Aplikasi tersebut dilengkapi jadwal salat dan imsakiyah sesuai lokasi pengguna, notifikasi azan, pencarian masjid terdekat, kalkulator zakat, serta ensiklopedia Islam.
Tersedia pula fitur Al-Qur’an yang memuat teks Arab, Latin, terjemahan standar Kementerian Agama RI, serta sejumlah referensi tafsir, termasuk Tafsir al-Jalalain. Pengguna juga dapat mendengarkan murotal serta memanfaatkan tasbih digital untuk membantu aktivitas zikir.
Islamic Pedia turut menyediakan tampilan kode Braille standar Kementerian Agama RI yang dapat diaktifkan melalui pengaturan. Fitur tersebut ditujukan terutama agar pengguna awas dapat mengenal kode Braille yang digunakan tunanetra dalam membaca Al-Qur’an. Kode tersebut masih bersifat visual karena pembaca layar Android saat ini belum mendukung pembacaan kode Braille tersebut secara langsung.
Aplikasi juga menghadirkan konten yang berubah mengikuti waktu dan hari. Terdapat doa yang menyesuaikan pagi, siang, sore, dan malam, serta kalimat mutiara dengan tema harian seperti tadabbur, hadis, hikmah, doa, Jumat Berkah, Asmaul Husna, dan muhasabah.
Diuji Bersama Komunitas Tunanetra
Aksesibilitas Islamic Pedia tidak hanya diterapkan pada kompas kiblat. Fauzan memberikan semantik pada berbagai elemen aplikasi agar dapat dikenali pembaca layar.
Pengujian antara lain dilakukan menggunakan TalkBack serta Jieshuo atau Commentary Screen Reader. Islamic Pedia juga menyediakan pengaturan kontras bagi pengguna low vision.
Fauzan mengembangkan aplikasi tersebut menggunakan framework Flutter. Sementara dalam proses pengujian dan debugging, ia melibatkan teman-teman serta komunitas tunanetra.
Pada salah satu tahap pengembangan, sekitar 30 orang dilibatkan sebagai penguji. Mayoritas merupakan penyandang tunanetra, meski terdapat pula pengguna non-tunanetra dan penyandang disabilitas lainnya.
Masukan dari para penguji digunakan untuk menemukan bug, persoalan kompatibilitas perangkat, hingga memperbaiki pengalaman penggunaan aplikasi.
Fauzan juga menghadapi tantangan tersendiri dalam menyelaraskan aksesibilitas dengan tampilan visual. Sebagai tunanetra total, ia membutuhkan masukan pengguna awas untuk mengevaluasi kerapian dan estetika antarmuka, sementara pengguna tunanetra membantu menguji aksesibilitasnya.
Ingin Bangun Ekosistem Islami dalam Satu Genggaman
Pengembangan Islamic Pedia kini dipersiapkan untuk berjalan lebih terstruktur. Pada 4 September 2026, Fauzan mendirikan PT Kemenangan Digital Indonesia, sebuah Perseroan Perorangan yang selanjutnya akan menaungi pengembangan Islamic Pedia.
Ke depan, Fauzan ingin memperluas Islamic Pedia hingga mencakup kebutuhan pendidikan, pengetahuan keislaman, informasi, media dakwah, serta berbagai alat penunjang ibadah.
“Pokoknya semua ekosistem Islami dalam satu genggaman,” katanya.
Untuk saat ini, Islamic Pedia masih berfokus pada Android. Pengembangan versi iOS belum dilakukan karena pertimbangan biaya akun pengembang Apple, tetapi peluang pengembangan ke platform tersebut tetap terbuka apabila mendapat dukungan.
Fauzan juga membuka kesempatan bagi pihak lain yang ingin berkontribusi dalam pengembangan Islamic Pedia.
Islamic Pedia tersedia gratis di Google Play Store dengan nama “Islamic Pedia, Muslim App”. Pada saat press release disusun, aplikasi tersebut telah mencatat lebih dari 100 unduhan.
Download Islamic Pedia di PlayStore
