Tag: disabilitas

  • Kajian Bulanan PP ITMI Bahas Haji Ramah Disabilitas, Ketua Umum Sampaikan Berbagai Perkembangan Organisasi

    Kajian Bulanan PP ITMI Bahas Haji Ramah Disabilitas, Ketua Umum Sampaikan Berbagai Perkembangan Organisasi

    Cimahi, Itmi.or.id – Pengurus Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia menyelenggarakan kajian bulanan bertema

    “Haji Ramah Disabilitas”

    pada Ahad, 13 Safar 1448 Hijriah atau 26 Juli 2026.

    Kajian yang berlangsung di Sekretariat PP ITMI, Cimahi, Jawa Barat, menghadirkan Ust. Dr. H. Ihsan Faisal, Kepala Daerah Kerja Makkah pada penyelenggaraan ibadah haji musim 1447 Hijriah, sebagai pemateri.

    Materi disampaikan secara daring melalui Zoom. Kajian juga dapat diikuti melalui YouTube PP ITMI dan Radio Suara ITMI.

    Sejumlah jajaran pengurus hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Ketua Umum PP ITMI Ust. H. Yogi Madsuni, Sekretaris Umum Heri Mujianto, S.H.I., M.Pd, Ketua Bidang II Ust. H. Heppi Septian, S.Ag., Ketua Bidang III Ust. H. Ipan Hidayatulloh, S.Pd., M.Pd., ., Staff media informasi, publikasi, riset dan teknologi Dwi Citolaksono, Ketua Departemen Dakwah H. Sahrir Laude Sika, S.Ag, serta pengurus dan anggota ITMI lainnya.

    Dari jajaran Majelis Syura, hadir pula Ust. Aidin dan Ust. Sumardi, S.Pd.I.

    Ketua Umum Sapa Pengurus dan Majelis Syura

    Mengawali sambutannya, Ketua Umum PP ITMI Ust. H. Yogi Madsuni menyapa jajaran pengurus dan peserta yang hadir secara langsung maupun daring.

    Ia secara khusus menyinggung konsistensi anggota Majelis Syura yang hampir selalu hadir dalam berbagai kegiatan PP ITMI. Dengan gaya santai yang mengundang senyum peserta, ia memuji kehadiran Ust. Aidin dan Ust. Sumardi.

    “Nah, kalau beliau-beliau dari Majelis Syura ini selalu hadir, tidak pernah always,” ujarnya berseloroh.

    Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian yang mencairkan suasana. Gaya humor Ketua Umum membuat sambutan terasa akrab tanpa mengurangi kekhidmatan kajian.

    Ia kemudian menyampaikan terima kasih kepada Bidang II PP ITMI, khususnya Departemen Dakwah, yang secara rutin menyelenggarakan majelis ilmu setiap bulan pada pekan keempat.

    Menurutnya, kegiatan menuntut ilmu harus terus dilakukan sepanjang kehidupan.

    “Karena memang kita menuntut ilmu ini wajib, ya. Dari buaian sampai ke liang lahat. Atau kalau orang Sunda bilang, ini mohon maaf, ya, timimiti diais, dugikeun ka dipais,” katanya.

    Ungkapan Sunda tersebut menggambarkan proses kehidupan sejak seseorang masih dimandikan ketika bayi hingga akhirnya dimandikan saat meninggal dunia.

    Majelis Ilmu Menjadi Ruang Berusaha

    Ketua Umum mengatakan, penyelenggaraan kajian tidak hanya menghadirkan keberkahan melalui ilmu dan silaturahmi. Kegiatan tersebut juga membuka ruang bagi anggota untuk menjalankan usaha.

    “Alhamdulillah, ini juga suatu keberkahan. Di majelis ini ada sarana bermaisyah. Ada yang berdagang kopi, berdagang makanan,” tuturnya.

    Ia kemudian menyebut Ust. Aidin, Wakil Ketua Majelis Syura PP ITMI, yang turut berjualan kopi robusta mentah dari Aceh.

    Kehadiran produk anggota dalam kegiatan organisasi menunjukkan bahwa majelis dapat menjadi tempat bertemunya pembinaan keagamaan, silaturahmi, dan kegiatan ekonomi.

    Pendataan Anggota Terus Berjalan

    Dalam sambutannya, Ust. H. Yogi Madsuni juga mengapresiasi kerja jajaran pengurus pusat dalam menjalankan program pendataan anggota ITMI.

    Ia melihat proses pendataan terus bergerak dan perlu dilanjutkan agar seluruh anggota ITMI di berbagai daerah dapat tercatat serta teregistrasi dengan baik.

    “Saya lihat progres pendataan anggota terus bergerak. Kita akan data terus untuk mencatat semua anggota ITMI agar teregistrasi semuanya,” ujarnya.

    Pendataan tersebut diharapkan menghasilkan bank data organisasi yang autentik dan lebih lengkap.

    “Sehingga ITMI pada masa jihad ini punya bank data yang autentik. Datanya tidak hanya by name, tetapi lengkap, by name, by address. Semua tentunya berkat kerja keras semuanya,” lanjutnya.

    Ketua Umum juga mengapresiasi kegiatan di tingkat pengurus wilayah dan pengurus daerah yang terus berlangsung.

    Menurutnya, hampir setiap hari terdapat kegiatan ITMI di berbagai wilayah. Aktivitas tersebut merupakan bagian dari syiar Islam yang perlu dijaga dan terus dikembangkan.

    Anak Anggota ITMI Dapat Mengikuti Program PETIK

    Ketua Umum turut menyampaikan kerja sama PP ITMI dengan Yayasan Baitul Maal PLN dalam penyelenggaraan PETIK atau Pesantren Teknologi Informasi dan Komunikasi.

    Program tersebut memadukan pendidikan teknologi dengan pembinaan agama. Pada pagi hari, peserta mengikuti pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi, sedangkan pada sore hari mereka mengikuti kegiatan tahfiz Al-Qur’an.

    PETIK menyediakan berbagai jurusan dan diperuntukkan bagi kalangan duafa serta lulusan SMA yang belum dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena keterbatasan biaya.

    Dalam konteks ITMI, anggota dapat mengirimkan anaknya yang baru lulus SMA untuk mengikuti program tersebut.

    “Itu ada berbagai jurusan. Diperuntukkan bagi kaum duafa dan anggota ITMI yang anaknya baru lulus SMA. Khawatir kalau kuliah memang cicisnya (Uangnya) tidak ada,” jelas Ketua Umum.

    Program ini diharapkan menjadi salah satu alternatif pendidikan dan pembekalan keterampilan bagi anak-anak anggota ITMI agar memiliki peluang yang lebih baik dalam melanjutkan kehidupan setelah lulus sekolah.

    Pojok Pijat Dikembangkan di Sejumlah Daerah

    Selain program pendidikan, PP ITMI juga terus mengembangkan kerja sama dalam bidang pemberdayaan ekonomi melalui layanan pijat.

    Ketua Umum menyebutkan bahwa di Sumatera Utara telah tersedia massage corner di kantor YBM. Di Sumatera Selatan, kerja sama telah dilakukan dengan Pupuk Sriwijaya untuk menghadirkan pojok pijat dan layanan herbal.

    Sementara itu, di Jakarta, kerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana telah menghadirkan pojok pijat di kantor BNPB lantai 16.

    “Mudah-mudahan langkah ini menjadi langkah-langkah yang positif, In Syaa Allah di wilayah-wilayah lain kita akan upayakan memperoleh hal yang sama ya”, katanya.

    Program tersebut menjadi bagian dari upaya organisasi membuka akses pekerjaan dan peluang usaha bagi anggota ITMI.

    Perjuangan Haji Ramah Disabilitas Terus Dilakukan

    Ketua Umum menegaskan bahwa perjuangan ITMI belum berhenti. Salah satu bidang yang terus diperjuangkan adalah penyelenggaraan ibadah haji yang ramah bagi penyandang disabilitas.

    Dengan kembali menggunakan gaya humor yang ringan, ia meminta doa agar ikhtiar tersebut mendapatkan kemudahan.

    “Tinggal perjuangan dari sektor haji ramah disabilitas. Duitnya insyaa Allah ada, tapi masih di tangan Allah,” ujarnya.

    Pernyataan tersebut disambut hangat oleh peserta. Di balik candaan itu, terdapat harapan agar semakin banyak anggota ITMI dan penyandang disabilitas dapat menjalankan ibadah haji dengan pelayanan yang aman, aksesibel, dan bermartabat.

    Usulkan KWH Meter yang Lebih Aksesibel

    PP ITMI juga sedang mengusulkan kepada PLN agar KWH meter listrik prabayar dapat dibuat lebih aksesibel bagi penyandang tunanetra.

    Ketua Umum mengatakan, pengguna tunanetra masih menghadapi kesulitan ketika harus memasukkan angka token listrik ke dalam meteran secara mandiri.

    “Ini pada pakai pulsa listrik, kan, ya? Kadang susah, ya, pulsa listriknya. Kalau pakai KWH bingung saat menginput angkanya. Itu sedang diperjuangkan. Mohon doanya,” katanya.

    Usulan tersebut menjadi bagian dari perjuangan aksesibilitas ITMI dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga penggunaan layanan publik dan teknologi rumah tangga.

    Pemerintah Berkomitmen Wujudkan Haji Ramah Disabilitas

    Memasuki sesi utama, Ust. Dr. H. Ihsan Faisal menyampaikan materi tentang haji ramah disabilitas melalui Zoom.

    Dalam pemaparannya, ia menyampaikan bahwa pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah berkomitmen mewujudkan penyelenggaraan ibadah haji yang semakin ramah bagi penyandang disabilitas.

    Komitmen tersebut dilakukan melalui komunikasi dan kerja sama dengan Komisi Nasional Disabilitas.

    Kerja sama itu diharapkan dapat memperkuat pelayanan kepada jemaah penyandang disabilitas, mulai dari penyediaan informasi, pendampingan, fasilitas, hingga berbagai kebutuhan selama menjalankan rangkaian ibadah haji.

    Tema haji ramah disabilitas menjadi penting karena penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk menjalankan ibadah dengan aman, mandiri, dan mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhannya.

    Ditutup dengan Santap Siang dan Salat Berjamaah

    Setelah sesi materi dan rangkaian kajian selesai, kegiatan ditutup dengan santap siang bersama.

    Pengurus, anggota, serta peserta yang hadir kemudian melaksanakan Salat Zuhur secara berjamaah.

    Kajian bulanan ini tidak hanya menjadi ruang untuk memperdalam pengetahuan mengenai haji ramah disabilitas, tetapi juga menjadi kesempatan bagi PP ITMI untuk menyampaikan perkembangan organisasi, program pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pendataan anggota, serta berbagai perjuangan aksesibilitas yang sedang dilakukan.

  • Persiapan Disabilitas Memasuki Dunia Kerja

    Mendapatkan pekerjaan tentu menjadi harapan setiap orang, termasuk penyandang disabilitas. Bekal pendidikan, pengalaman organisasi, maupun berbagai pelatihan memang menjadi modal yang penting. Namun ketika memasuki dunia kerja, ada bekal lain yang tidak kalah penting, yaitu sikap dan karakter.

    Pengalaman menunjukkan bahwa kemampuan teknis saja belum tentu cukup. Cara kita membawa diri, berkomunikasi, hingga menjaga profesionalisme sering kali menjadi penilaian yang tidak kalah besar di mata perusahaan.

    Berani Memulai

    Langkah pertama yang harus dimiliki adalah keberanian. Banyak penyandang disabilitas sebenarnya memiliki kemampuan yang baik, tetapi masih dibayangi rasa minder ketika harus berhadapan dengan lingkungan kerja yang baru.

    Padahal perusahaan merekrut seseorang bukan karena belas kasihan, melainkan karena mereka melihat adanya potensi dan kompetensi. Karena itu, bangun rasa percaya diri. Keterbatasan fisik tidak boleh menjadi alasan untuk merasa lebih rendah daripada orang lain. Kita memang berbeda dalam kondisi, tetapi memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya.

    Jangan Menunggu Disuruh

    Ketika sudah diterima bekerja, jangan hanya menunggu instruksi. Jadilah pribadi yang aktif mencari tahu.

    Jika ada pekerjaan yang belum dipahami, bertanyalah. Jika ada kesempatan belajar, manfaatkan. Ikuti rapat, diskusi, maupun kegiatan perusahaan yang dapat menambah wawasan. Tumbuhkan rasa memiliki terhadap tempat kita bekerja.

    Perusahaan akan lebih menghargai karyawan yang memiliki inisiatif dibanding mereka yang hanya bekerja ketika diperintah.

    Kenali Lingkungan Kerja

    Hari-hari pertama bekerja sebaiknya dimanfaatkan untuk mengenal lingkungan sekitar.

    Cari tahu letak ruang kerja, musala, toilet, kantin, ruang rapat, hingga jalur yang paling mudah dilalui. Jangan sungkan bertanya kepada rekan kerja apabila ada hal yang belum diketahui.

    Orientasi yang baik akan membantu kita bekerja lebih mandiri dan meningkatkan rasa percaya diri dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

    Terus Belajar

    Dunia kerja selalu berubah. Karena itu, jangan pernah merasa cukup dengan kemampuan yang dimiliki saat ini.

    Ikuti pelatihan, pelajari teknologi baru, dan terus tingkatkan kompetensi sesuai bidang pekerjaan. Semakin banyak kemampuan yang dimiliki, semakin besar pula peluang untuk berkembang dan mendapatkan kepercayaan yang lebih besar dari perusahaan.

    Karier tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh melalui proses belajar yang tidak pernah berhenti.

    Jaga Amanah dan Profesionalisme

    Pekerjaan adalah amanah. Ketika perusahaan memberikan kepercayaan dan membayar kita atas pekerjaan yang dilakukan, maka sudah menjadi kewajiban untuk memberikan kinerja terbaik.

    Hindari kebiasaan datang terlambat, terlalu sering izin tanpa alasan yang jelas, atau bekerja sekadarnya. Jangan pula berpikir bahwa karena kita penyandang disabilitas, perusahaan pasti akan selalu memaklumi setiap kekurangan.

    Sebaliknya, tunjukkan bahwa penyandang disabilitas juga mampu bekerja secara disiplin, bertanggung jawab, dan profesional.

    Jangan sampai kita dikenal karena keterbatasan yang dimiliki, tetapi dikenang karena dedikasi dan hasil kerja yang diberikan.

    Belajar dari Pengalaman

    Selama kurang lebih delapan tahun bekerja, mulai dari dua tahun di bidang mebel hingga enam tahun di dunia perbankan, saya belajar bahwa perusahaan tidak hanya membutuhkan orang yang pintar.

    Perusahaan membutuhkan orang yang dapat dipercaya. Pengalaman itu mengajarkan bahwa penyandang disabilitas tidak perlu meminta dikasihani. Yang perlu dilakukan adalah menunjukkan kemampuan, menjaga integritas, dan membangun kredibilitas melalui pekerjaan yang nyata.

    Kepercayaan tidak datang karena status sebagai penyandang disabilitas, tetapi lahir dari konsistensi dalam bekerja.

    Penutup

    Bagi sahabat disabilitas yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja, jangan hanya fokus mencari lowongan. Persiapkan juga karakter, kedisiplinan, dan etos kerja.

    Datanglah dengan semangat untuk memberi manfaat, bukan sekadar menerima gaji.

    Jangan menjadi pribadi yang banyak menuntut sebelum mampu menunjukkan kontribusi. Laksanakan hak sekaligus tunaikan kewajiban dengan sebaik-baiknya.

    Pada akhirnya, perusahaan akan menilai kita bukan dari kondisi fisik, melainkan dari kualitas pekerjaan, tanggung jawab, dan sikap profesional yang kita tunjukkan setiap hari.

    Disabilitas bukan alasan untuk berhenti berkembang. Justru dari keterbatasan itulah kita dapat membuktikan bahwa kemampuan, integritas, dan kerja keras mampu berbicara lebih lantang daripada stigma.

  • Talkshow dan Istighotsah Nasional Haji Inklusif 2026, Serukan Pelayanan Ramah Disabilitas, Lansia Dan Kaum Perempuan

    Dokumentasi Photo

    Jakarta, Itmi.or.id — Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti pelaksanaan “Talkshow dan Istighotsah Nasional Haji Inklusif 2026” yang digelar secara daring pada Jumat (22/5/2026). Kegiatan yang diinisiasi Komisi Nasional Disabilitas bersama Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia serta AMPHURI tersebut menjadi ruang refleksi nasional tentang pentingnya penyelenggaraan ibadah haji yang inklusif, ramah lansia, perempuan, dan penyandang disabilitas.

    Kegiatan ini turut dilatarbelakangi keprihatinan atas hilangnya seorang jamaah haji lansia asal Jakarta, M. Firdaus Akhlan, yang dikabarkan belum ditemukan setelah sepekan berada di Kota Mekkah. Melalui istighotsah nasional tersebut, ribuan peserta diajak bersama-sama memanjatkan doa demi keselamatan jamaah haji Indonesia, para petugas haji, serta keberkahan bagi bangsa Indonesia.

    Acara dibuka oleh Ipan Hidayatulloh, M.Pd, selaku pembawa acara. Menariknya, Ipan merupakan penyandang disabilitas netra sekaligus jamaah haji asal Indonesia yang saat ini tengah berada di Tanah Suci.

    Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan keynote speech dari Menteri Haji dan Umrah RI, KH. M. Irfan Yusuf, yang menegaskan komitmen pemerintah dalam menghadirkan layanan haji yang lebih inklusif dan berkeadilan bagi seluruh jamaah.

    Sesi talkshow dipandu oleh Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas RI, Deka Kurniawan, dengan menghadirkan sejumlah tokoh nasional, di antaranya Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah RI, Dr. Puji Raharjo, Anggota Tim Pengawas Haji DPR RI 2026, Dr. Hj. Netty Prasetiyani, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK RI, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, Pengasuh Pondok Pesantren Daarut Tauhiid sekaligus pembimbing KBIHU Darut Tauhiid, KH. Abdullah Gymnastiar, serta Ketua Umum AMPHURI, Firman M. Nur.

    Selain menghadirkan pejabat kementerian dan tokoh nasional, kegiatan tersebut juga diikuti Komisioner Komisi Nasional Disabilitas RI Siswadi sebagai bagian dari penguatan agenda Haji Inklusif 2026.

    Dalam pemaparannya, Deputi Kemenko PMK RI Woro Srihastuti Sulistyaningrum menegaskan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama dalam menjalankan kehidupan beragama dan beribadah.

    “Penyandang disabilitas memiliki hak dalam beragama dan beribadah secara layak dan setara,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Umum AMPHURI Firman M. Nur menyoroti pentingnya pendampingan bagi jamaah haji disabilitas.

    “Jemaah haji disabilitas itu punya hak untuk diberikan pendamping,” katanya.

    Nuansa spiritual semakin terasa saat sesi istighotsah dimulai. Wirid dan doa bersama dipimpin Ketua PPDI Kalimantan Selatan sekaligus Wakil Mudir Pondok Pesantren Darul Hijrah Putri Martapura, Dr. M. Anshari, setelah sebelumnya diisi tausiyah dan munajat oleh Pengasuh Pondok Pesantren Daarut Tauhiid, KH. Abdullah Gymnastiar.

    Dalam tausiyahnya, Aa Gym mengingatkan agar perjuangan menghadirkan pelayanan inklusif bagi penyandang disabilitas tidak didorong kepentingan duniawi maupun pencitraan semata.

    “Apa yang kita upayakan hari ini untuk memuliakan disabilitas, semoga bukan untuk mencari ketenaran, mencari kesohoran, ataupun penilaian makhluk,” tutur Aa Gym.

    Kegiatan tersebut juga mendapat perhatian dari Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia. Ketua Umum ITMI, Ust. H. Yogi Madsuni, sebelumnya mengimbau seluruh jajaran pengurus ITMI di tingkat pusat untuk turut mengikuti kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan penyelenggaraan haji inklusif di Indonesia.

    Melalui kegiatan ini, pemerintah, organisasi masyarakat, dan komunitas disabilitas berharap penyelenggaraan ibadah haji ke depan semakin mampu menghadirkan pelayanan yang aksesibel, manusiawi, dan bebas stigma bagi seluruh jamaah tanpa terkecuali.

    Kontributor: D. Citolaksono