Tag: disabilitas

  • Persiapan Disabilitas Memasuki Dunia Kerja

    Mendapatkan pekerjaan tentu menjadi harapan setiap orang, termasuk penyandang disabilitas. Bekal pendidikan, pengalaman organisasi, maupun berbagai pelatihan memang menjadi modal yang penting. Namun ketika memasuki dunia kerja, ada bekal lain yang tidak kalah penting, yaitu sikap dan karakter.

    Pengalaman menunjukkan bahwa kemampuan teknis saja belum tentu cukup. Cara kita membawa diri, berkomunikasi, hingga menjaga profesionalisme sering kali menjadi penilaian yang tidak kalah besar di mata perusahaan.

    Berani Memulai

    Langkah pertama yang harus dimiliki adalah keberanian. Banyak penyandang disabilitas sebenarnya memiliki kemampuan yang baik, tetapi masih dibayangi rasa minder ketika harus berhadapan dengan lingkungan kerja yang baru.

    Padahal perusahaan merekrut seseorang bukan karena belas kasihan, melainkan karena mereka melihat adanya potensi dan kompetensi. Karena itu, bangun rasa percaya diri. Keterbatasan fisik tidak boleh menjadi alasan untuk merasa lebih rendah daripada orang lain. Kita memang berbeda dalam kondisi, tetapi memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya.

    Jangan Menunggu Disuruh

    Ketika sudah diterima bekerja, jangan hanya menunggu instruksi. Jadilah pribadi yang aktif mencari tahu.

    Jika ada pekerjaan yang belum dipahami, bertanyalah. Jika ada kesempatan belajar, manfaatkan. Ikuti rapat, diskusi, maupun kegiatan perusahaan yang dapat menambah wawasan. Tumbuhkan rasa memiliki terhadap tempat kita bekerja.

    Perusahaan akan lebih menghargai karyawan yang memiliki inisiatif dibanding mereka yang hanya bekerja ketika diperintah.

    Kenali Lingkungan Kerja

    Hari-hari pertama bekerja sebaiknya dimanfaatkan untuk mengenal lingkungan sekitar.

    Cari tahu letak ruang kerja, musala, toilet, kantin, ruang rapat, hingga jalur yang paling mudah dilalui. Jangan sungkan bertanya kepada rekan kerja apabila ada hal yang belum diketahui.

    Orientasi yang baik akan membantu kita bekerja lebih mandiri dan meningkatkan rasa percaya diri dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

    Terus Belajar

    Dunia kerja selalu berubah. Karena itu, jangan pernah merasa cukup dengan kemampuan yang dimiliki saat ini.

    Ikuti pelatihan, pelajari teknologi baru, dan terus tingkatkan kompetensi sesuai bidang pekerjaan. Semakin banyak kemampuan yang dimiliki, semakin besar pula peluang untuk berkembang dan mendapatkan kepercayaan yang lebih besar dari perusahaan.

    Karier tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh melalui proses belajar yang tidak pernah berhenti.

    Jaga Amanah dan Profesionalisme

    Pekerjaan adalah amanah. Ketika perusahaan memberikan kepercayaan dan membayar kita atas pekerjaan yang dilakukan, maka sudah menjadi kewajiban untuk memberikan kinerja terbaik.

    Hindari kebiasaan datang terlambat, terlalu sering izin tanpa alasan yang jelas, atau bekerja sekadarnya. Jangan pula berpikir bahwa karena kita penyandang disabilitas, perusahaan pasti akan selalu memaklumi setiap kekurangan.

    Sebaliknya, tunjukkan bahwa penyandang disabilitas juga mampu bekerja secara disiplin, bertanggung jawab, dan profesional.

    Jangan sampai kita dikenal karena keterbatasan yang dimiliki, tetapi dikenang karena dedikasi dan hasil kerja yang diberikan.

    Belajar dari Pengalaman

    Selama kurang lebih delapan tahun bekerja, mulai dari dua tahun di bidang mebel hingga enam tahun di dunia perbankan, saya belajar bahwa perusahaan tidak hanya membutuhkan orang yang pintar.

    Perusahaan membutuhkan orang yang dapat dipercaya. Pengalaman itu mengajarkan bahwa penyandang disabilitas tidak perlu meminta dikasihani. Yang perlu dilakukan adalah menunjukkan kemampuan, menjaga integritas, dan membangun kredibilitas melalui pekerjaan yang nyata.

    Kepercayaan tidak datang karena status sebagai penyandang disabilitas, tetapi lahir dari konsistensi dalam bekerja.

    Penutup

    Bagi sahabat disabilitas yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja, jangan hanya fokus mencari lowongan. Persiapkan juga karakter, kedisiplinan, dan etos kerja.

    Datanglah dengan semangat untuk memberi manfaat, bukan sekadar menerima gaji.

    Jangan menjadi pribadi yang banyak menuntut sebelum mampu menunjukkan kontribusi. Laksanakan hak sekaligus tunaikan kewajiban dengan sebaik-baiknya.

    Pada akhirnya, perusahaan akan menilai kita bukan dari kondisi fisik, melainkan dari kualitas pekerjaan, tanggung jawab, dan sikap profesional yang kita tunjukkan setiap hari.

    Disabilitas bukan alasan untuk berhenti berkembang. Justru dari keterbatasan itulah kita dapat membuktikan bahwa kemampuan, integritas, dan kerja keras mampu berbicara lebih lantang daripada stigma.

  • Talkshow dan Istighotsah Nasional Haji Inklusif 2026, Serukan Pelayanan Ramah Disabilitas, Lansia Dan Kaum Perempuan

    Dokumentasi Photo

    Jakarta, Itmi.or.id — Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti pelaksanaan “Talkshow dan Istighotsah Nasional Haji Inklusif 2026” yang digelar secara daring pada Jumat (22/5/2026). Kegiatan yang diinisiasi Komisi Nasional Disabilitas bersama Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia serta AMPHURI tersebut menjadi ruang refleksi nasional tentang pentingnya penyelenggaraan ibadah haji yang inklusif, ramah lansia, perempuan, dan penyandang disabilitas.

    Kegiatan ini turut dilatarbelakangi keprihatinan atas hilangnya seorang jamaah haji lansia asal Jakarta, M. Firdaus Akhlan, yang dikabarkan belum ditemukan setelah sepekan berada di Kota Mekkah. Melalui istighotsah nasional tersebut, ribuan peserta diajak bersama-sama memanjatkan doa demi keselamatan jamaah haji Indonesia, para petugas haji, serta keberkahan bagi bangsa Indonesia.

    Acara dibuka oleh Ipan Hidayatulloh, M.Pd, selaku pembawa acara. Menariknya, Ipan merupakan penyandang disabilitas netra sekaligus jamaah haji asal Indonesia yang saat ini tengah berada di Tanah Suci.

    Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan keynote speech dari Menteri Haji dan Umrah RI, KH. M. Irfan Yusuf, yang menegaskan komitmen pemerintah dalam menghadirkan layanan haji yang lebih inklusif dan berkeadilan bagi seluruh jamaah.

    Sesi talkshow dipandu oleh Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas RI, Deka Kurniawan, dengan menghadirkan sejumlah tokoh nasional, di antaranya Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah RI, Dr. Puji Raharjo, Anggota Tim Pengawas Haji DPR RI 2026, Dr. Hj. Netty Prasetiyani, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK RI, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, Pengasuh Pondok Pesantren Daarut Tauhiid sekaligus pembimbing KBIHU Darut Tauhiid, KH. Abdullah Gymnastiar, serta Ketua Umum AMPHURI, Firman M. Nur.

    Selain menghadirkan pejabat kementerian dan tokoh nasional, kegiatan tersebut juga diikuti Komisioner Komisi Nasional Disabilitas RI Siswadi sebagai bagian dari penguatan agenda Haji Inklusif 2026.

    Dalam pemaparannya, Deputi Kemenko PMK RI Woro Srihastuti Sulistyaningrum menegaskan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama dalam menjalankan kehidupan beragama dan beribadah.

    “Penyandang disabilitas memiliki hak dalam beragama dan beribadah secara layak dan setara,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Umum AMPHURI Firman M. Nur menyoroti pentingnya pendampingan bagi jamaah haji disabilitas.

    “Jemaah haji disabilitas itu punya hak untuk diberikan pendamping,” katanya.

    Nuansa spiritual semakin terasa saat sesi istighotsah dimulai. Wirid dan doa bersama dipimpin Ketua PPDI Kalimantan Selatan sekaligus Wakil Mudir Pondok Pesantren Darul Hijrah Putri Martapura, Dr. M. Anshari, setelah sebelumnya diisi tausiyah dan munajat oleh Pengasuh Pondok Pesantren Daarut Tauhiid, KH. Abdullah Gymnastiar.

    Dalam tausiyahnya, Aa Gym mengingatkan agar perjuangan menghadirkan pelayanan inklusif bagi penyandang disabilitas tidak didorong kepentingan duniawi maupun pencitraan semata.

    “Apa yang kita upayakan hari ini untuk memuliakan disabilitas, semoga bukan untuk mencari ketenaran, mencari kesohoran, ataupun penilaian makhluk,” tutur Aa Gym.

    Kegiatan tersebut juga mendapat perhatian dari Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia. Ketua Umum ITMI, Ust. H. Yogi Madsuni, sebelumnya mengimbau seluruh jajaran pengurus ITMI di tingkat pusat untuk turut mengikuti kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan penyelenggaraan haji inklusif di Indonesia.

    Melalui kegiatan ini, pemerintah, organisasi masyarakat, dan komunitas disabilitas berharap penyelenggaraan ibadah haji ke depan semakin mampu menghadirkan pelayanan yang aksesibel, manusiawi, dan bebas stigma bagi seluruh jamaah tanpa terkecuali.

    Kontributor: D. Citolaksono