Tag: berita itmi

  • Soroti Skema Umrah Rekrut Anggota, Ketua Bidang II PP ITMI: Jangan Tergiur Harga Murah

    Cimahi, itmi.or.id – Ketua Bidang Pendidikan dan Dakwah (Bidang II) Pengurus Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PP ITMI) Ust. H. Heppi Septian, S.Ag. mengingatkan masyarakat, khususnya keluarga besar ITMI, agar berhati-hati terhadap tawaran program umrah yang mensyaratkan peserta merekrut orang lain untuk mendapatkan keuntungan atau kesempatan berangkat lebih cepat.

    Ust. Heppi menyoroti kejelasan transaksi dalam skema tersebut. Menurut dia, transaksi semestinya memiliki akad, persyaratan, dan pihak-pihak yang terlibat secara jelas sehingga peserta memahami apa yang sebenarnya menjadi hak dan kewajibannya.

    “Itu termasuk ke dalam transaksi jual beli yang tidak transparan. Artinya, kita melakukan A, melakukan B, melakukan ini, tidak jelas, melibatkan terlalu banyak pihak. Ya kan? Kalau bertransaksi teh kan kudu jelas. Melakukan syarat ini, syarat itu,” kata Ust. Heppi, Kamis, 27/8.

    Pernyataan itu disampaikan menyikapi informasi mengenai program umrah berjenjang yang mekanismenya antara lain mengharuskan seorang peserta mengajak sejumlah orang untuk bergabung.

    Dalam skema yang dibicarakan, peserta disebut dapat memperoleh kesempatan berangkat lebih dahulu setelah berhasil merekrut sejumlah anggota, misalnya 10 orang. Sementara peserta yang berada di bawahnya tetap harus memenuhi ketentuan program untuk memperoleh keberangkatan.

    Ust. Heppi Soroti Risiko Mengajak 10 Orang

    Selain mempertanyakan transparansi transaksi, Ust. Heppi menyoroti adanya unsur perekrutan berjenjang. Ia menilai peserta perlu berhitung jauh sebelum mengajak keluarga, teman, maupun orang lain untuk bergabung.

    Sebab, risiko tidak selalu berhenti pada uang yang dikeluarkan sendiri.

    “Itu juga kan kayanya termasuk multi level marketing, ya. Itu jangan-jangan kita terjerat nantinya. Kita mengajak 10 orang, itu yang 10 orang itu kan nantinya nyalahinnya ke kita itu teh,” ujarnya.

    Menurut Ust. Heppi, orang yang menjadi perekrut berada pada posisi yang rawan apabila kemudian muncul persoalan pada penyelenggara.

    Mereka yang direkrut kemungkinan tidak langsung berhadapan dengan pihak yang berada di tingkat atas. Orang pertama yang dicari justru dapat merupakan orang yang sebelumnya mengajak mereka bergabung.

    “Ketika di atasnya bermasalah, kita yang jadi sasaran nanti amukan orang-orang yang kita ajak,” kata Ust. Heppi.

    Karena itu, ia mengingatkan agar hubungan pertemanan dan kepercayaan tidak serta-merta digunakan untuk mengajak orang lain masuk ke sebuah program yang mekanismenya sendiri belum dipahami secara utuh.

    Ust. Heppi juga meminta masyarakat tidak menjadikan harga murah sebagai satu-satunya pertimbangan ketika memilih program perjalanan ibadah.

    Menurut dia, tawaran biaya yang terlihat menguntungkan tetap harus diperiksa bersama dengan mekanisme transaksi dan kepastian layanan yang akan diterima peserta.

    “Jangan tergiur dengan harga-harga yang murah. Itu sangat berbahaya. Kalaman lah ku simkuring,” katanya.

    Dengan ungkapan Sunda tersebut, Ust. Heppi menyampaikan bahwa dirinya memiliki pengalaman yang membuatnya memahami risiko persoalan semacam itu.

    Ia kemudian mengaitkan ketidakjelasan transaksi dengan persoalan gharar dalam muamalah.

    “Jadi itu transaksi jual beli yang gharar itu. Sebaiknya tidak diteruskanlah,” ujar Heppi.

    Pernyataan tersebut merupakan pandangan Ust. Heppi terhadap mekanisme program berdasarkan informasi yang diterimanya. Penilaian terhadap suatu program secara menyeluruh tetap memerlukan pemeriksaan terhadap akad, perjanjian, sumber dan aliran dana, serta ketentuan tertulis yang berlaku.

    Bagi Ust. Heppi, kehati-hatian menjadi penting terlebih ketika program menyangkut dana masyarakat dan ibadah ke Tanah Suci. Tawaran harga murah atau kesempatan berangkat lebih cepat tidak semestinya membuat calon jamaah mengabaikan kejelasan transaksi yang mereka sepakati.

  • APQBI Kejar Pengakuan Negara bagi Pengajar Al-Qur’an Braille, SKKNI dan BNSP Jadi Target Berikutnya

    APQBI Kejar Pengakuan Negara bagi Pengajar Al-Qur’an Braille, SKKNI dan BNSP Jadi Target Berikutnya

    Cimahi, Itmi.or.id – Asosiasi Pengajar Qur’an Braille Indonesia (APQBI) terus mendorong agar kompetensi pengajar Al-Qur’an Braille mendapatkan pengakuan formal dari negara.

    Setelah melalui proses standardisasi yang berjalan selama beberapa tahun, pengembangan menuju Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan pengakuan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) menjadi agenda yang akan diperjuangkan berikutnya.

    Hal tersebut disampaikan Ketua APQBI Ust. Yayat Ruhyat, S.Pd. saat menutup Uji Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille Gelombang III di Sekretariat Pimpinan Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PP ITMI), Kota Cimahi, Jawa Barat, Ahad (16/8/2026).

    “Kita insyaa Allah terus berusaha agar para pengajar Qur’an Braille dapat pengakuan oleh negara. Dari sektor formal, ke depannya insyaa Allah SKKNI, BNSP kita upayakan. Semoga membuahkan hasil sebagaimana yang kita inginkan,” kata Ust. Yayat.

    Upaya tersebut menjadi kelanjutan dari perjalanan panjang peningkatan kualitas pengajar Al-Qur’an Braille. Bagi APQBI, kemampuan mengajar yang telah tumbuh di berbagai daerah perlu diperkuat dengan standardisasi sekaligus pengakuan terhadap kompetensi para pengajarnya.

    Tiga Hari Dinilai Belum Cukup

    Uji kompetensi gelombang ketiga berlangsung selama tiga hari. Para peserta menjalani rangkaian kegiatan sejak pretest, pembekalan, hingga praktik kerja lapangan di SLBN-A Citeureup, Cimahi.

    Yayat mengakui waktu tiga hari belum cukup untuk mendalami seluruh pengetahuan dan keterampilan dalam pengajaran Al-Qur’an Braille.

    “Tiga hari, sebetulnya tidak cukup ya. Tetapi mudah-mudahan dapat terus ditingkatkan ke depannya ilmunya,” ujarnya.

    Karena itu, peserta diharapkan tidak berhenti belajar setelah kegiatan berakhir. Pengetahuan yang diperoleh selama uji kompetensi juga diharapkan dapat memberikan dampak ketika mereka kembali ke lingkungan masing-masing.

    “Semoga kita dapat berkontribusi terhadap lingkungan, keluarga, masyarakat, sehingga inklusif,” kata Yayat.

    Dari Rencana Hotel hingga “Cuma Rencana”

    Di tengah laporan penutupan, Ust. Yayat turut berbicara mengenai penyelenggaraan kegiatan. Ia mengapresiasi seluruh pihak yang telah bekerja selama rangkaian uji kompetensi.

    Mulai dari penyelenggara, fasilitator, hingga Al-Hawari disebut ikut berjibaku menyukseskan kegiatan.

    “Terima kasih dari semuanya yang telah berjibaku, penyelenggara, fasilitator, hingga Al-Hawari. Tanpa kerja sama yang baik, semuanya tidak akan berjalan dengan lancar,” ujarnya.

    Ust. Yayat mengatakan panitia sejak awal ingin memberikan pelayanan terbaik kepada peserta dan tamu yang datang dari berbagai daerah.

    Namun, ia tidak menutupi keterbatasan yang dihadapi penyelenggara.

    “Kami berharap sebagai penyelenggara, kepada tamu agar dapat diberikan pelayanan yang baik, ditata dan dijamu. Tetapi ya beginilah kemampuan kami,” katanya.

    Ia lantas mengungkap rencana awal penyelenggaraan yang rupanya belum dapat diwujudkan.

    “Semula kan rencananya mau di hotel, dan uang transportasi diberikan. Tapi kan cuma rencana.”

    Pernyataan itu mencairkan suasana penutupan. Ust. Yayat berharap keterbatasan tersebut tidak mengurangi nilai perjuangan para peserta yang telah mengikuti kegiatan hingga selesai.

    “Semoga menjadi catatan amal kebaikan untuk bapak ibu,” ujarnya.

    “Matanya Bisa Masuk Surga”

    Ust. Yayat kembali menyelipkan humor ketika berbicara mengenai kontribusi peserta setelah kembali ke masyarakat.

    Menurut dia, pengetahuan yang diperoleh harus diarahkan agar memberikan manfaat, bukan sekadar menjadi bekal pribadi.

    “Kita sudah dijamin matanya bisa masuk surga. Tinggal yang lain-lainnya harus kita arahkan agar tidak kabawa sakaba-kaba, tidak asal meraba,” kata Ust. Yayat.

    Ungkapan “kabawa sakaba-kaba” dalam bahasa Sunda kurang lebih menggambarkan keadaan terbawa ke mana-mana tanpa arah. Ust. Yayat menggunakannya sebagai permainan kata dengan kondisi tunanetra yang mengandalkan perabaan.

    Di balik gurauan tersebut, ia menekankan pentingnya arah yang jelas dalam pengembangan kompetensi para pengajar.

    Pengakuan Kompetensi Jadi Perjuangan Berikutnya

    Dorongan menuju pengakuan formal tidak muncul setelah uji kompetensi gelombang ketiga saja.

    Pada pembukaan kegiatan, Ust. Yayat sebelumnya menjelaskan bahwa APQBI telah berkomunikasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Agama. Tujuannya agar pengajar Al-Qur’an Braille yang selama ini bekerja di tengah masyarakat memiliki posisi dan kompetensi yang semakin jelas.

    APQBI ingin pengakuan terhadap para pengajar tidak berhenti pada komunitas tempat mereka mengabdi.

    Uji kompetensi menjadi salah satu bagian dari proses tersebut. Namun, sebagaimana disampaikan Yayat, pekerjaan berikutnya adalah membawa standardisasi pengajar Al-Qur’an Braille semakin dekat dengan sistem pengakuan kompetensi secara nasional.

    Jika upaya menuju SKKNI dan BNSP tersebut dapat diwujudkan, APQBI berharap kompetensi para pengajar Al-Qur’an Braille memiliki pijakan yang semakin kuat.

    Dengan demikian, perjuangan yang dibawa pulang dari Cimahi bukan hanya bagaimana peserta semakin terampil mengajar Al-Qur’an Braille, tetapi juga bagaimana profesi dan kompetensi mereka kelak memperoleh pengakuan yang layak dari negara.

  • Uji Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille Gelombang III Ditutup, Peserta Diminta Tak Berhenti Mengajar

    Uji Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille Gelombang III Ditutup, Peserta Diminta Tak Berhenti Mengajar

    Cimahi, Itmi.or.id – Uji Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille Gelombang III resmi ditutup di Sekretariat Pimpinan Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PP ITMI), Kota Cimahi, Jawa Barat, Ahad (16/8/2026).

    Penutupan dihadiri Direktur LSP Pengajar Al-Qur’an Braille Indonesia Ust. Ahmad Solihin, S.T.H.I., Ketua Asosiasi Pengajar Qur’an Braille Indonesia (APQBI) Ust. Yayat Ruhyat, S.Pd., Ketua Bidang Pendidikan dan Dakwah PP ITMI Ust. H. Heppi Septian, S.Ag., serta seluruh peserta.

    Berakhirnya kegiatan selama tiga hari itu bukan menjadi akhir perjalanan para pengajar. Direktur LSP Pengajar Al-Qur’an Braille Indonesia Ust. Ahmad Solihin mengatakan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pengajaran Al-Qur’an Braille.

    “Di siang ini, di penghujung acara, masih banyak PR kita untuk menyiapkan dan mengajar para pengajar Qur’an Braille. Setiap kegiatan ada temuan baru. Dan itu menjadi bahan evaluasi bagi kami di tim LSP, fasilitator, untuk terus memperbaiki kualitas,” kata pria yang akrab disapa Ust. Aso.

    Menurutnya, proses evaluasi akan terus dilakukan karena setiap gelombang pelatihan menghadirkan pengalaman dan temuan baru. Temuan tersebut menjadi bahan bagi LSP dan para fasilitator untuk memperbaiki pelaksanaan kegiatan berikutnya.

    Para Pengajar Disebut “Mujahid Qur’an”

    Ust. Aso menyebut para pengajar Al-Qur’an Braille yang mengikuti kegiatan tersebut sebagai “mujahid Qur’an”.

    Sebutan itu, menurutnya, bukan tanpa alasan. Mengajarkan Al-Qur’an kepada penyandang tunanetra membutuhkan kesungguhan dan keseriusan, terlebih masih banyak penyandang tunanetra yang belum dapat membaca Al-Qur’an Braille.

    “Ini semua mujahid Qur’an. Kenapa kita gunakan kata mujahid? Karena ini sungguh-sungguh dan serius. Semoga kelak memperoleh syafaat karena menjadi sahabat Al-Qur’an,” ujarnya.

    Ust. Aso mengatakan upaya meningkatkan kualitas pengajar bukan pekerjaan yang baru dimulai. Proses pelatihan telah dilakukan sejak tahun 2000 dan terus berkembang hingga sekarang.

    Salah satu hasil dari perjalanan panjang tersebut adalah modul pengajaran Al-Qur’an Braille yang kini digunakan para peserta.

    “Kalau kita bicara perbaikan, itu tidak akan berhenti. Ini juga semua proses pelatihan, upaya ini sudah dilakukan sejak tahun 2000. Dan modul yang bapak ibu ini pegang, itu karya monumental,” kata Ust. Aso

    Karena itu, ia meminta peserta tidak menjadikan berakhirnya uji kompetensi sebagai titik untuk berhenti.

    “Di Luaran Sana Masih Banyak Tunanetra yang Belum Bisa Baca Qur’an”
    Ust. Aso mengingatkan bahwa kebutuhan terhadap pengajar Al-Qur’an Braille masih besar. Setelah kembali ke daerah masing-masing, peserta diharapkan melanjutkan peran mereka di tengah masyarakat.

    “Jadi tolong dari sini, jangan berhenti. Di luaran sana masih banyak tunanetra yang belum bisa baca Qur’an,” ujarnya.

    Di tengah pesan tersebut, Ust. Aso menyelipkan gurauan yang langsung disambut tawa peserta.

    “Belum lagi kalau ternyata ada yang berminat jadi tunanetra di usia dewasa.”

    Suasana penutupan yang semula serius pun mencair.

    Pesan untuk terus mengembangkan ilmu juga disampaikan Ketua APQBI Ust. Yayat Ruhyat, S.Pd. Menurutnya, tiga hari pelaksanaan uji kompetensi belum cukup untuk menampung seluruh pengetahuan yang diperlukan seorang pengajar.

    “Tiga hari sebetulnya tidak cukup, ya. Tetapi mudah-mudahan dapat terus ditingkatkan ke depannya ilmunya,” katanya.

    Ia berharap ilmu yang diperoleh tidak hanya bermanfaat bagi peserta secara pribadi, tetapi juga dibawa ke lingkungan yang lebih luas.

    “Semoga kita dapat berkontribusi terhadap lingkungan, keluarga, masyarakat, sehingga inklusif,” ujarnya.

    Berakhir dengan Praktik di SLBN-A Citeureup

    Sebelum acara penutupan, peserta telah menyelesaikan tahapan terakhir berupa praktik kerja lapangan di SLBN-A Citeureup, Cimahi.

    Ust. Yayat mengatakan perjalanan kegiatan telah dimulai sejak proses penjaringan peserta, rekapitulasi, pretest, rangkaian pembelajaran, hingga praktik langsung di lapangan.

    “Alhamdulillah kita sudah melampaui kegiatan ini, dari penjaringan peserta, rekapitulasi, pretest, hingga hari ini praktik kerja lapangan di SLBN-A Citeureup Cimahi,” kata Ust. Yayat.

    Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari penyelenggara, fasilitator, hingga Al-Hawari yang ikut menopang pelaksanaan kegiatan.

    “Terima kasih dari semuanya yang telah berjibaku, penyelenggara, fasilitator, hingga Al-Hawari. Tanpa kerja sama yang baik, semuanya tidak akan berjalan dengan lancar,” ujarnya.

    Menurut ketua APQBI itu, penyelenggara berupaya memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada peserta yang datang dari berbagai daerah meski dengan kemampuan yang tersedia.

    Rangkaian Uji Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille Gelombang III kemudian ditutup secara resmi oleh Ketua APQBI. Doa penutupan dipimpin Ust. H. Heppi Septian, S.Ag.

    Berakhirnya kegiatan di Cimahi membawa satu pekerjaan lanjutan bagi para peserta: kembali ke daerah masing-masing dan meneruskan pengajaran kepada penyandang tunanetra yang hingga kini belum mampu membaca Al-Qur’an Braille.