Tag: alquran

  • Keutamaan Mendekati Majelis Ilmu Bersama Para Ulama

    Itmi.or.id, Kesibukan sering membuat seseorang merasa tidak punya waktu untuk menghadiri majelis. Pekerjaan, urusan keluarga, perjalanan, dan berbagai persoalan sehari-hari dianggap lebih mendesak. Pengajian pun terus ditunda. Pekan ini tidak sempat, bulan depan mungkin bisa, hingga tanpa disadari hati semakin lama semakin jauh dari nasihat agama.

    Padahal, hati manusia tidak selalu berada dalam keadaan yang sama. Ada saatnya ia lembut dan mudah menerima kebaikan, tetapi ada pula waktunya ia lalai, keras, dan sulit disentuh oleh nasihat. Karena itu, hati membutuhkan perawatan. Salah satu cara menjaganya adalah dengan mendatangi majelis ilmu, duduk bersama orang-orang saleh, dan mendengarkan bimbingan para ulama.

    Majelis ilmu bukan sekadar tempat mendengarkan ceramah.

    Di dalamnya, seorang Muslim kembali diingatkan tentang Allah, tujuan hidup, serta bekal yang harus dipersiapkan sebelum menghadap-Nya.

    Allah Meninggikan Orang yang Berilmu

    Islam menempatkan ilmu pada kedudukan yang sangat tinggi. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:

    Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

    Ayat tersebut tidak hanya berbicara tentang kemuliaan orang yang telah memiliki ilmu, tetapi juga mengajarkan adab ketika berada dalam suatu majelis.

    Seorang Muslim diperintahkan memberikan kelapangan kepada orang lain, menaati aturan majelis, dan menghormati sesama penuntut ilmu.

    Ilmu tidak datang dengan sendirinya. Ia harus dicari dengan kesungguhan, kerendahan hati, dan kesediaan untuk belajar. Salah satu jalannya adalah dengan mendekat kepada ulama yang dapat menerangkan agama berdasarkan Al-Qur’an, sunah, serta pemahaman yang dapat dipertanggungjawabkan.

    Majelis yang Diselimuti Rahmat

    Rasulullah SAW menjelaskan besarnya keutamaan orang-orang yang berkumpul untuk membaca dan mempelajari Kitab Allah. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa apabila suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya bersama-sama, ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.

    Bayangkan betapa besar kemuliaan sebuah majelis ilmu. Orang yang datang mungkin hanya duduk di sudut masjid.

    Ia tidak dikenal, tidak memiliki kedudukan tinggi, dan tidak membawa harta yang banyak.

    Namun, karena ia hadir untuk mencari ilmu dan mengingat Allah, dirinya berada dalam majelis yang dikelilingi malaikat dan diliputi rahmat.

    Inilah sebabnya menghadiri pengajian tidak semestinya dianggap sebagai kegiatan tambahan yang dilakukan hanya ketika tidak ada kesibukan lain. Majelis ilmu merupakan kebutuhan bagi ruh sebagaimana makanan menjadi kebutuhan bagi tubuh.

    Ulama adalah Pewaris Para Nabi

    Kedekatan dengan ulama memiliki arti penting karena melalui merekalah ilmu agama diteruskan dari generasi ke generasi.

    Rasulullah SAW bersabda bahwa para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil ilmu tersebut, berarti ia telah mengambil bagian yang sangat besar.

    Mendekat kepada ulama bukan berarti mengkultuskan manusia atau menganggap seorang guru tidak pernah salah. Mendekat kepada ulama berarti belajar kepada orang yang memahami agama, menghormati ilmu yang dibawanya, serta meminta bimbingan ketika menghadapi persoalan yang belum dipahami.

    Banyak kesalahan dalam beragama bermula ketika seseorang merasa cukup belajar sendiri. Ia membaca potongan ayat, menonton video singkat, lalu mengambil kesimpulan tanpa memahami konteks dan penjelasan para ahli.

    Akibatnya, ilmu yang seharusnya membimbing justru dapat disalahgunakan untuk membenarkan keinginan pribadi.

    Karena itu, para ulama dari generasi ke generasi menegaskan pentingnya berguru. Mereka tidak berselisih tentang kemuliaan menuntut ilmu dan kebutuhan umat untuk merujuk kepada orang yang memiliki pengetahuan ketika tidak mengetahui suatu perkara.

    Empat Puluh Hari Jauh dari Ulama

    Di kalangan pesantren dikenal sebuah nasihat yang dinukil dalam pembahasan Wasiyatul Musthafa.

    Nasihat itu menyebutkan:

    Wahai Ali, apabila telah berlalu empat puluh hari bagi seorang mukmin dan ia tidak duduk bersama para ulama, maka hatinya menjadi keras dan ia berani melakukan dosa-dosa besar. Sebab, ilmu adalah kehidupan hati.

    Nasihat tersebut sering digunakan para kiai untuk mengingatkan agar seorang Muslim tidak terlalu lama menjauh dari ulama dan majelis ilmu.

    Redaksi ini memang tidak sepatutnya diposisikan setara dengan hadis sahih yang terdapat dalam kitab-kitab hadis utama.

    Namun, pesan yang dikandungnya selaras dengan pentingnya menjaga hati melalui ilmu dan nasihat agama.

    Angka empat puluh hari sendiri tidak semestinya dipahami secara kaku, seakan-akan pada hari ke-39 hati masih lembut lalu berubah keras tepat pada hari ke-40.

    Pesan utamanya adalah jangan membiarkan waktu yang panjang berlalu tanpa mengaji, tanpa mendengar nasihat, dan tanpa berhubungan dengan orang-orang berilmu.

    Hati yang lama tidak disentuh ilmu dapat kehilangan kepekaan. Dosa yang dahulu terasa berat mulai dianggap biasa.

    Ibadah yang dahulu dirindukan mulai dirasakan sebagai beban. Nasihat yang seharusnya diterima justru dianggap mengganggu.

    Bahkan, seseorang dapat merasa dirinya selalu benar dan tidak lagi membutuhkan teguran.

    Itulah salah satu tanda hati mulai mengeras.

    Majelis Ilmu Menjadi Cermin bagi Diri

    Dalam majelis ilmu, seseorang tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan.

    Ia juga menemukan cermin untuk melihat kekurangan dirinya.

    Ketika membahas kesabaran, ia teringat bahwa dirinya masih mudah marah.

    Ketika mendengar penjelasan tentang kejujuran, ia menyadari masih ada ucapan yang harus diperbaiki.

    Ketika diterangkan tentang kematian, ia kembali bertanya kepada dirinya sendiri: sudah cukupkah bekal yang disiapkan?

    Tidak semua nasihat akan terasa menyenangkan. Ada kalanya ceramah membuat hati tersentak karena membicarakan kebiasaan buruk yang selama ini dilakukan.

    Namun, justru itulah manfaatnya. Obat tidak selalu terasa manis, tetapi ia dibutuhkan untuk menyembuhkan.

    Majelis ilmu menghidupkan kembali rasa takut kepada Allah, harapan atas rahmat-Nya, serta kesadaran untuk memperbaiki diri.

    Seseorang mungkin datang dengan hati yang penuh masalah, lalu pulang dengan hati yang lebih tenang.

    Persoalannya memang belum tentu langsung selesai, tetapi ia memperoleh cara pandang yang lebih jernih dalam menghadapinya.

    Bukan Sekadar Hadir, tetapi Mengamalkan

    Mengikuti majelis ilmu tentu belum cukup apabila ilmu yang diperoleh hanya berhenti di telinga. Tujuan belajar bukan untuk mengumpulkan kutipan, memperbanyak perdebatan, atau merasa lebih saleh daripada orang lain.

    Ilmu seharusnya melahirkan perubahan.

    Setelah mengetahui pentingnya salat berjamaah, seseorang berusaha menjaganya. Setelah memahami bahaya ghibah, ia mulai menahan lisannya.

    Setelah mendengar kewajiban berbakti kepada orang tua, ia memperbaiki sikap dan perkataannya.

    Setelah mempelajari hak sesama manusia, ia menjadi lebih jujur dalam bekerja dan bermuamalah.

    Orang yang benar-benar memperoleh manfaat dari majelis ilmu akan semakin rendah hati.

    Semakin banyak yang dipelajari, semakin ia menyadari luasnya ilmu Allah dan sedikitnya pengetahuan yang dimiliki.

    Jangan Menunggu Hati Menjadi Keras

    Tidak perlu menunggu muncul masalah besar untuk kembali ke majelis ilmu. Jangan menunggu rumah tangga terguncang, pekerjaan bermasalah, atau hati benar-benar kehilangan ketenangan.

    Datanglah selama masih ada kesempatan.

    Bila tidak dapat menghadiri setiap kajian, tetapkan waktu secara rutin.

    Hadiri majelis terdekat, simak pengajian dari sumber yang dapat dipercaya, bacalah kitab bersama guru, dan jagalah hubungan dengan orang-orang saleh.

    Teknologi memang memudahkan kita mendengarkan kajian dari mana saja. Namun, sebisa mungkin jangan meninggalkan pertemuan langsung sepenuhnya.

    Duduk dalam majelis, bertemu guru, menyapa saudara seiman, dan merasakan suasana ibadah bersama memiliki pengaruh yang berbeda bagi hati.

    Jangan biarkan berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan berlalu tanpa mendengar nasihat.

    Tubuh yang tidak diberi makan akan melemah. Demikian pula hati yang tidak memperoleh ilmu dan zikir akan kehilangan kehidupan.

    Majelis ilmu bukan hanya tempat untuk orang yang sudah saleh.

    Ia justru tempat bagi siapa pun yang ingin belajar menjadi lebih baik. Datanglah dengan segala kekurangan yang dimiliki. Sebab, tidak ada orang yang harus menjadi sempurna terlebih dahulu untuk mulai mendekat kepada Allah.

    Semoga Allah melembutkan hati kita, memberikan kecintaan kepada ilmu, mempertemukan kita dengan guru-guru yang saleh, serta menjadikan ilmu yang dipelajari sebagai cahaya dalam menjalani kehidupan.

    Aamiin

  • Kajian Bulanan PP ITMI Bahas Fotosintesis dalam Perspektif Al-Qur’an, Ustadz Aidin ajak Jama’ah Merenungi Tanda-Tanda Kebesaran Allah

    Kajian Bulanan PP ITMI Bahas Fotosintesis dalam Perspektif Al-Qur’an, Ustadz Aidin ajak Jama’ah Merenungi Tanda-Tanda Kebesaran Allah

    Cimahi, itmi.or.id — Pengurus Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PP ITMI) kembali menggelar kajian bulanan rutin yang kali ini mengangkat tema “Proses Fotosintesis dalam Perspektif Al-Qur’an”.

    Kegiatan berlangsung pada Ahad, 14 Dzulhijjah 1447 Hijriah atau bertepatan dengan 31 Mei 2026 M, secara hibrida dari Sekretariat PP ITMI di Komplek Cijerah II, Blok I KSB 5, Kelurahan Melong, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, serta diikuti jamaah secara daring melalui Zoom, YouTube PP ITMI, dan Radio Suara ITMI.

    Kajian yang telah menjadi agenda rutin PP ITMI setiap bulan ini dihadiri oleh jajaran pengurus pusat, anggota Majelis Syura, pengurus APQBI, jamaah tunanetra muslim Bandung Raya, serta peserta dari berbagai wilayah dan daerah yang mengikuti secara daring.

    Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Ketua Majelis Syura ITMI Ustadz Aidin selaku pemateri utama, Sekretaris Umum PP ITMI Heri Mujianto, S.H.I., M.Pd., Ketua Bidang Pendidikan dan Dakwah Ustadz H. Hepi Septian, S.Ag., Ketua Departemen Dakwah H. Sahril Laode Sika, S.Ag., Ketua Bidang Pemberdayaan dan Kemuslimahan Ipan Hidayatulloh, M.Pd. yang mengikuti kegiatan dari Tanah Suci pasca menunaikan ibadah haji, Ketua Departemen Taklim Asep Kosasih, S.Pd.I., Ketua Departemen Kepemudaan dan Manajemen Crisis Center Amin Rasyid, S.Pd., Ketua APQBI Ustadz Yayat Ruhyat, S.Pd., anggota Majelis Syura Drs. Entis Sutisna, serta jajaran Unit Media Informasi, Publikasi, Riset dan Teknologi PP ITMI.

    Kegiatan diawali dengan sambutan Sekretaris Umum PP ITMI, Heri Mujianto. Dalam sambutannya, ia menyampaikan permohonan maaf dari Ketua Umum ITMI yang berhalangan hadir karena kondisi kesehatan setelah menjalani rangkaian agenda organisasi yang cukup padat di sejumlah daerah.

    “Ketua Umum menyampaikan salam kepada seluruh jamaah. Beliau saat ini sedang beristirahat karena beberapa hari terakhir menjalani kegiatan yang cukup padat di Jakarta, Banten hingga Indramayu. Mudah-mudahan beliau segera diberikan kesehatan dan dapat kembali beraktivitas seperti biasa,” ujarnya.

    Pada kesempatan tersebut, Heri juga menyampaikan sejumlah perkembangan organisasi. Salah satunya terkait terbitnya sertifikat wakaf Masjid ITMI yang berlokasi di Langensari, Solokanjeruk, Kabupaten Bandung.

    “Alhamdulillah sertifikat wakaf Masjid ITMI telah terbit dan insya Allah akan diambil ke BPN dalam waktu dekat. Ini merupakan ikhtiar panjang yang akhirnya membuahkan hasil,” katanya.

    Selain itu, ia juga menginformasikan bahwa website resmi ITMI telah resmi diluncurkan dan program Kartu Tanda Anggota ITMI (KTAI) mulai dapat dicetak. Heri mengajak seluruh pengurus dari tingkat daerah, wilayah hingga pusat untuk terus berkhidmat dan memperkuat organisasi.

    Menurutnya, keberadaan data anggota yang terintegrasi menjadi sangat penting, terutama setelah berbagai audiensi yang dilakukan ITMI bersama pemerintah, termasuk Kementerian Ketenagakerjaan.

    “Data anggota menjadi kebutuhan penting. Karena itu kami mengajak seluruh tunanetra muslim untuk bergabung dan mendata diri melalui ITMI. Dengan data yang baik, akses terhadap pelatihan, pemberdayaan, maupun peluang kerja akan semakin terbuka,” ujarnya.

    Memasuki sesi utama, Ustadz Aidin mengajak peserta merenungi hubungan antara fenomena alam dan petunjuk yang terdapat dalam Al-Qur’an. Ia menjelaskan bahwa jauh sebelum ilmu pengetahuan modern berkembang, Al-Qur’an telah memberikan banyak isyarat mengenai alam semesta yang menjadi sumber kehidupan manusia.

    Dalam penyampaiannya, Ustadz Aidin mengulas kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidir yang termaktub dalam Surah pada Alqur’an sebagai pelajaran tentang pentingnya kerendahan hati dalam mencari ilmu.

    Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan bahwa ilmu Allah sangat luas dan manusia tidak boleh merasa paling mengetahui segala sesuatu.

    “Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir mengajarkan kepada kita bahwa di atas ilmu yang kita miliki masih ada ilmu Allah yang jauh lebih luas. Karena itu seorang mukmin harus senantiasa belajar, merenung, dan mengambil pelajaran dari setiap tanda kebesaran Allah yang ada di alam semesta,” tuturnya.

    Kajian berlangsung hangat dan interaktif. Antusiasme jamaah terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi diskusi. Ust. Aidin juga menghadirkan kuis berhadiah produk kesehatan berbahan alami yang menambah semarak suasana.

    Selain kajian, kegiatan turut didukung oleh para Alhawari yang sejak pagi berjibaku menyiapkan konsumsi dan makan siang bagi peserta yang hadir secara langsung di sekretariat.

    Melalui kajian bulanan ini, PP ITMI berharap tradisi menuntut ilmu dan memperdalam pemahaman keislaman terus tumbuh di kalangan tunanetra muslim, sekaligus memperkuat ukhuwah dan semangat dakwah dalam kehidupan sehari-hari.

    Kontributor: D. Citolaksono.

  • Keutamaan Hari Jum’at: Momentum Memperbaiki Diri dan Memperbanyak Doa

    www.itmi.or.id, Ada suasana yang berbeda ketika hari Jum’at datang.

    Sejak pagi, nuansanya terasa lebih tenang. Masjid mulai ramai. Lantunan sholawat terdengar lebih sering. Banyak orang mengenakan pakaian terbaiknya untuk menunaikan shalat Jum’at.

    Bagi umat Islam, Jum’at bukan sekadar penanda akhir pekan. Ia adalah hari istimewa yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahkan menyebut Jum’at sebagai hari terbaik di antara hari-hari lainnya.

    Hari Terbaik dalam Islam

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    Sebaik-baik hari di mana matahari terbit adalah hari Jum’at.

    (HR. Muslim)

    Hadits ini menunjukkan bahwa Jum’at memiliki kemuliaan yang tidak dimiliki hari lainnya. Dalam sejarah manusia, banyak peristiwa besar terjadi pada hari Jum’at.

    Disebutkan bahwa Nabi Adam ‘Alaihissalam diciptakan pada hari Jum’at, dimasukkan ke surga pada hari Jum’at, dan diturunkan ke bumi juga pada hari Jum’at.

    Karena itu, tidak heran jika para ulama menyebut Jum’at sebagai hari raya mingguan bagi umat Islam.

    Ada Waktu Mustajab untuk Berdoa

    Salah satu keistimewaan hari itu adalah adanya waktu mustajab, yaitu waktu di mana doa-doa sangat berpeluang dikabulkan oleh Allah.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    Pada hari Jum’at terdapat satu waktu, apabila seorang muslim memohon kebaikan kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya.

    (HR. Bukhari dan Muslim)

    Para ulama berbeda pendapat mengenai kapan tepatnya waktu tersebut. Namun banyak yang berpendapat bahwa waktu mustajab itu berada di akhir waktu Ashar menjelang Maghrib.
    Karena itu hari Jum’at seharusnya tidak hanya diisi dengan rutinitas dunia, tetapi juga diperbanyak dengan doa dan mendekatkan diri kepada Allah.

    Anjuran Memperbanyak Sholawat

    Hari Jum’at juga menjadi waktu yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
    Rasulullah bersabda:

    Perbanyaklah sholawat kepadaku pada hari Jum’at dan malam Jum’at.

    (HR. Al-Baihaqi)

    Sholawat bukan hanya bentuk cinta kepada Rasulullah, tetapi juga jalan mendapatkan keberkahan dan ketenangan hati.

    Di tengah kehidupan yang penuh kesibukan dan tekanan hari ini, memperbanyak shalawat bisa menjadi pengingat bahwa hidup bukan hanya soal urusan dunia.

    Momentum Memperbaiki Diri

    Hari Jum’at juga sering menjadi momentum bagi seorang muslim untuk kembali mengevaluasi dirinya.

    Mungkin selama sepekan kita terlalu sibuk, Terlalu lelah mengejar urusan dunia, , Terlalu banyak melakukan kesalahan. Atau terlalu jauh dari Al-Qur’an dan masjid.

    Lalu Jum’at datang seperti pengingat lembut agar hati kembali pulang kepada Allah.

    Ketika adzan Jum’at berkumandang, sebenarnya Allah sedang memanggil hamba-hamba-Nya untuk berhenti sejenak dari urusan dunia dan mengingat-Nya.

    Sunnah-Sunnah yang Dianjurkan di Hari Jum’at

    Ada beberapa amalan sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan pada hari Jum’at, di antaranya:

    • mandi Jum’at,
    • memakai pakaian terbaik,
    • menggunakan wewangian,
    • membaca Surah Al-Kahfi,
    • memperbanyak dzikir dan shalawat,

    • serta datang lebih awal ke masjid.

    Amalan-amalan ini bukan sekadar rutinitas, tetapi bagian dari adab seorang muslim dalam memuliakan hari Jum’at.

    Yuk, tetap semangat raih kemulyaan dan keutamaan dihari ini. Dengan cara kita, dengan cara yang terbaik dan sesuai dengan kesanggupan kita. Semoga Allah mudahkan. Aamiin