


Cimahi, Itmi.or.id – Asosiasi Pengajar Qur’an Braille Indonesia (APQBI) terus mendorong agar kompetensi pengajar Al-Qur’an Braille mendapatkan pengakuan formal dari negara.
Setelah melalui proses standardisasi yang berjalan selama beberapa tahun, pengembangan menuju Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan pengakuan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) menjadi agenda yang akan diperjuangkan berikutnya.
Hal tersebut disampaikan Ketua APQBI Ust. Yayat Ruhyat, S.Pd. saat menutup Uji Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille Gelombang III di Sekretariat Pimpinan Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PP ITMI), Kota Cimahi, Jawa Barat, Ahad (16/8/2026).
“Kita insyaa Allah terus berusaha agar para pengajar Qur’an Braille dapat pengakuan oleh negara. Dari sektor formal, ke depannya insyaa Allah SKKNI, BNSP kita upayakan. Semoga membuahkan hasil sebagaimana yang kita inginkan,” kata Ust. Yayat.
Upaya tersebut menjadi kelanjutan dari perjalanan panjang peningkatan kualitas pengajar Al-Qur’an Braille. Bagi APQBI, kemampuan mengajar yang telah tumbuh di berbagai daerah perlu diperkuat dengan standardisasi sekaligus pengakuan terhadap kompetensi para pengajarnya.
Uji kompetensi gelombang ketiga berlangsung selama tiga hari. Para peserta menjalani rangkaian kegiatan sejak pretest, pembekalan, hingga praktik kerja lapangan di SLBN-A Citeureup, Cimahi.
Yayat mengakui waktu tiga hari belum cukup untuk mendalami seluruh pengetahuan dan keterampilan dalam pengajaran Al-Qur’an Braille.
“Tiga hari, sebetulnya tidak cukup ya. Tetapi mudah-mudahan dapat terus ditingkatkan ke depannya ilmunya,” ujarnya.
Karena itu, peserta diharapkan tidak berhenti belajar setelah kegiatan berakhir. Pengetahuan yang diperoleh selama uji kompetensi juga diharapkan dapat memberikan dampak ketika mereka kembali ke lingkungan masing-masing.
“Semoga kita dapat berkontribusi terhadap lingkungan, keluarga, masyarakat, sehingga inklusif,” kata Yayat.
Di tengah laporan penutupan, Ust. Yayat turut berbicara mengenai penyelenggaraan kegiatan. Ia mengapresiasi seluruh pihak yang telah bekerja selama rangkaian uji kompetensi.
Mulai dari penyelenggara, fasilitator, hingga Al-Hawari disebut ikut berjibaku menyukseskan kegiatan.
“Terima kasih dari semuanya yang telah berjibaku, penyelenggara, fasilitator, hingga Al-Hawari. Tanpa kerja sama yang baik, semuanya tidak akan berjalan dengan lancar,” ujarnya.
Ust. Yayat mengatakan panitia sejak awal ingin memberikan pelayanan terbaik kepada peserta dan tamu yang datang dari berbagai daerah.
Namun, ia tidak menutupi keterbatasan yang dihadapi penyelenggara.
“Kami berharap sebagai penyelenggara, kepada tamu agar dapat diberikan pelayanan yang baik, ditata dan dijamu. Tetapi ya beginilah kemampuan kami,” katanya.
Ia lantas mengungkap rencana awal penyelenggaraan yang rupanya belum dapat diwujudkan.
“Semula kan rencananya mau di hotel, dan uang transportasi diberikan. Tapi kan cuma rencana.”
Pernyataan itu mencairkan suasana penutupan. Ust. Yayat berharap keterbatasan tersebut tidak mengurangi nilai perjuangan para peserta yang telah mengikuti kegiatan hingga selesai.
“Semoga menjadi catatan amal kebaikan untuk bapak ibu,” ujarnya.
Ust. Yayat kembali menyelipkan humor ketika berbicara mengenai kontribusi peserta setelah kembali ke masyarakat.
Menurut dia, pengetahuan yang diperoleh harus diarahkan agar memberikan manfaat, bukan sekadar menjadi bekal pribadi.
“Kita sudah dijamin matanya bisa masuk surga. Tinggal yang lain-lainnya harus kita arahkan agar tidak kabawa sakaba-kaba, tidak asal meraba,” kata Ust. Yayat.
Ungkapan “kabawa sakaba-kaba” dalam bahasa Sunda kurang lebih menggambarkan keadaan terbawa ke mana-mana tanpa arah. Ust. Yayat menggunakannya sebagai permainan kata dengan kondisi tunanetra yang mengandalkan perabaan.
Di balik gurauan tersebut, ia menekankan pentingnya arah yang jelas dalam pengembangan kompetensi para pengajar.
Dorongan menuju pengakuan formal tidak muncul setelah uji kompetensi gelombang ketiga saja.
Pada pembukaan kegiatan, Ust. Yayat sebelumnya menjelaskan bahwa APQBI telah berkomunikasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Agama. Tujuannya agar pengajar Al-Qur’an Braille yang selama ini bekerja di tengah masyarakat memiliki posisi dan kompetensi yang semakin jelas.
APQBI ingin pengakuan terhadap para pengajar tidak berhenti pada komunitas tempat mereka mengabdi.
Uji kompetensi menjadi salah satu bagian dari proses tersebut. Namun, sebagaimana disampaikan Yayat, pekerjaan berikutnya adalah membawa standardisasi pengajar Al-Qur’an Braille semakin dekat dengan sistem pengakuan kompetensi secara nasional.
Jika upaya menuju SKKNI dan BNSP tersebut dapat diwujudkan, APQBI berharap kompetensi para pengajar Al-Qur’an Braille memiliki pijakan yang semakin kuat.
Dengan demikian, perjuangan yang dibawa pulang dari Cimahi bukan hanya bagaimana peserta semakin terampil mengajar Al-Qur’an Braille, tetapi juga bagaimana profesi dan kompetensi mereka kelak memperoleh pengakuan yang layak dari negara.

Cimahi, Itmi.or.id – Uji Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille Gelombang III resmi ditutup di Sekretariat Pimpinan Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PP ITMI), Kota Cimahi, Jawa Barat, Ahad (16/8/2026).
Penutupan dihadiri Direktur LSP Pengajar Al-Qur’an Braille Indonesia Ust. Ahmad Solihin, S.T.H.I., Ketua Asosiasi Pengajar Qur’an Braille Indonesia (APQBI) Ust. Yayat Ruhyat, S.Pd., Ketua Bidang Pendidikan dan Dakwah PP ITMI Ust. H. Heppi Septian, S.Ag., serta seluruh peserta.
Berakhirnya kegiatan selama tiga hari itu bukan menjadi akhir perjalanan para pengajar. Direktur LSP Pengajar Al-Qur’an Braille Indonesia Ust. Ahmad Solihin mengatakan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pengajaran Al-Qur’an Braille.
“Di siang ini, di penghujung acara, masih banyak PR kita untuk menyiapkan dan mengajar para pengajar Qur’an Braille. Setiap kegiatan ada temuan baru. Dan itu menjadi bahan evaluasi bagi kami di tim LSP, fasilitator, untuk terus memperbaiki kualitas,” kata pria yang akrab disapa Ust. Aso.
Menurutnya, proses evaluasi akan terus dilakukan karena setiap gelombang pelatihan menghadirkan pengalaman dan temuan baru. Temuan tersebut menjadi bahan bagi LSP dan para fasilitator untuk memperbaiki pelaksanaan kegiatan berikutnya.
Ust. Aso menyebut para pengajar Al-Qur’an Braille yang mengikuti kegiatan tersebut sebagai “mujahid Qur’an”.
Sebutan itu, menurutnya, bukan tanpa alasan. Mengajarkan Al-Qur’an kepada penyandang tunanetra membutuhkan kesungguhan dan keseriusan, terlebih masih banyak penyandang tunanetra yang belum dapat membaca Al-Qur’an Braille.
“Ini semua mujahid Qur’an. Kenapa kita gunakan kata mujahid? Karena ini sungguh-sungguh dan serius. Semoga kelak memperoleh syafaat karena menjadi sahabat Al-Qur’an,” ujarnya.
Ust. Aso mengatakan upaya meningkatkan kualitas pengajar bukan pekerjaan yang baru dimulai. Proses pelatihan telah dilakukan sejak tahun 2000 dan terus berkembang hingga sekarang.
Salah satu hasil dari perjalanan panjang tersebut adalah modul pengajaran Al-Qur’an Braille yang kini digunakan para peserta.
“Kalau kita bicara perbaikan, itu tidak akan berhenti. Ini juga semua proses pelatihan, upaya ini sudah dilakukan sejak tahun 2000. Dan modul yang bapak ibu ini pegang, itu karya monumental,” kata Ust. Aso
Karena itu, ia meminta peserta tidak menjadikan berakhirnya uji kompetensi sebagai titik untuk berhenti.
“Di Luaran Sana Masih Banyak Tunanetra yang Belum Bisa Baca Qur’an”
Ust. Aso mengingatkan bahwa kebutuhan terhadap pengajar Al-Qur’an Braille masih besar. Setelah kembali ke daerah masing-masing, peserta diharapkan melanjutkan peran mereka di tengah masyarakat.
“Jadi tolong dari sini, jangan berhenti. Di luaran sana masih banyak tunanetra yang belum bisa baca Qur’an,” ujarnya.
Di tengah pesan tersebut, Ust. Aso menyelipkan gurauan yang langsung disambut tawa peserta.
“Belum lagi kalau ternyata ada yang berminat jadi tunanetra di usia dewasa.”
Suasana penutupan yang semula serius pun mencair.
Pesan untuk terus mengembangkan ilmu juga disampaikan Ketua APQBI Ust. Yayat Ruhyat, S.Pd. Menurutnya, tiga hari pelaksanaan uji kompetensi belum cukup untuk menampung seluruh pengetahuan yang diperlukan seorang pengajar.
“Tiga hari sebetulnya tidak cukup, ya. Tetapi mudah-mudahan dapat terus ditingkatkan ke depannya ilmunya,” katanya.
Ia berharap ilmu yang diperoleh tidak hanya bermanfaat bagi peserta secara pribadi, tetapi juga dibawa ke lingkungan yang lebih luas.
“Semoga kita dapat berkontribusi terhadap lingkungan, keluarga, masyarakat, sehingga inklusif,” ujarnya.
Sebelum acara penutupan, peserta telah menyelesaikan tahapan terakhir berupa praktik kerja lapangan di SLBN-A Citeureup, Cimahi.
Ust. Yayat mengatakan perjalanan kegiatan telah dimulai sejak proses penjaringan peserta, rekapitulasi, pretest, rangkaian pembelajaran, hingga praktik langsung di lapangan.
“Alhamdulillah kita sudah melampaui kegiatan ini, dari penjaringan peserta, rekapitulasi, pretest, hingga hari ini praktik kerja lapangan di SLBN-A Citeureup Cimahi,” kata Ust. Yayat.
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari penyelenggara, fasilitator, hingga Al-Hawari yang ikut menopang pelaksanaan kegiatan.
“Terima kasih dari semuanya yang telah berjibaku, penyelenggara, fasilitator, hingga Al-Hawari. Tanpa kerja sama yang baik, semuanya tidak akan berjalan dengan lancar,” ujarnya.
Menurut ketua APQBI itu, penyelenggara berupaya memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada peserta yang datang dari berbagai daerah meski dengan kemampuan yang tersedia.
Rangkaian Uji Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille Gelombang III kemudian ditutup secara resmi oleh Ketua APQBI. Doa penutupan dipimpin Ust. H. Heppi Septian, S.Ag.
Berakhirnya kegiatan di Cimahi membawa satu pekerjaan lanjutan bagi para peserta: kembali ke daerah masing-masing dan meneruskan pengajaran kepada penyandang tunanetra yang hingga kini belum mampu membaca Al-Qur’an Braille.