
Semarang, Itmi.or.id – Sebanyak 160 peserta dari 31 kabupaten /kota mengikuti rangkaian Musyawarah Wilayah (Muswil) V Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Jawa Tengah yang berlangsung selama tiga hari, Sabtu hingga Senin, 26–28 September 2026.
Kegiatan berlangsung di Asrama Haji Semarang, Jalan Abdul Rahman Saleh No. 285, Kelurahan Kalipancur, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Muswil V dirangkai dengan Al-Qur’an Braille Camp dan Seminar Wawasan Kebangsaan.
Ketua Panitia Muswil V ITMI Jawa Tengah, Andhi Setiyono, S.Sos., mengatakan seluruh rangkaian kegiatan secara umum berjalan lancar.
Menurutnya, penyelenggaraan Al-Qur’an Braille Camp tidak terlepas dari identitas dan visi ITMI sebagai organisasi tunanetra Muslim.
“Alhamdulillah, secara keseluruhan lancar. Berkaitan dengan Blind Al-Qur’an Braille Camp ini, sebetulnya identitas ITMI setiap acara itu ada acara keislaman. Acara ini adalah dalam rangka mewujudkan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an Braille,” kata Andhi.
Menurut Andhi, PW ITMI Jawa Tengah berupaya menjalankan program yang senafas dengan visi dan misi PP ITMI, termasuk upaya pemberantasan buta aksara Al-Qur’an Braille.
Pada hari pertama, peserta mengikuti pembekalan, tahsin dan tilawah Al-Qur’an Braille, tadabbur Al-Qur’an, serta pembinaan spiritual dan keislaman.
Pelaksanaan kegiatan turut dibantu sekitar 23 Al-Hawari dari mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang tengah melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL).
Seluruh 31 Daerah Hadir
Andhi mengatakan ITMI saat ini telah terbentuk di 31 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Seluruh daerah yang telah memiliki kepengurusan ITMI hadir dalam Muswil V, dengan rata-rata mengirimkan empat orang perwakilan.
“Kita ada 160 orang. Kita rata-rata setiap daerah ada empat orang perwakilan. Jawa Tengah itu kan ada 35 daerah, ITMI sendiri sudah ada di 31 daerah, alhamdulillah. Insyaallah nanti kita tambah lagi lima tahun ke depan,” ujarnya.
Kehadiran delegasi dari seluruh daerah juga mendapat perhatian Ketua Umum PP ITMI Ust. H. Yogi Madsuni yang turut menghadiri Muswil V.
Ust. H. Yogi Madsuni menilai pembagian delegasi dan juru bicara membuat persidangan berjalan tertib serta mampu mengakomodasi kepentingan anggota ITMI Jawa Tengah.
“Sehingga Musyawarah Wilayah, persidangan semuanya lancar, tertib, dan saya rasa mengakomodasi kepentingan anggota ITMI Jawa Tengah,” kata Ust. H. Yogi Madsuni kepada Redaksi ITMI di Semarang, Senin (28/9/2026).
Rumuskan Program Kerja dan Tiga Rekomendasi
Agenda utama Muswil berlangsung pada Ahad (27/9/2026), dimulai dengan pembahasan tata tertib dan laporan pertanggungjawaban kepengurusan.
Persidangan kemudian dilanjutkan dengan perumusan rekomendasi dan program kerja serta agenda pemilihan Ketua PW ITMI Jawa Tengah periode 2026–2031.
Andhi mengatakan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an Braille menjadi salah satu program yang akan terus diperkuat.
Selain itu, Muswil membahas peningkatan produktivitas dan pemberdayaan anggota serta pendidikan.
Perhatian terhadap pendidikan, kata Andhi, tidak hanya ditujukan kepada anggota tunanetra. ITMI Jawa Tengah juga ingin memperhatikan pendidikan anak-anak dari keluarga tunanetra.
“Ketika berbicara disabilitas, kita juga tidak mungkin bicara hanya disabilitas itu sendiri. Kita juga mempertimbangkan keluarganya. Dia ada anaknya, istrinya,” ujarnya.
PW ITMI Jawa Tengah berencana membangun relasi dengan lembaga pendidikan negeri maupun swasta untuk membuka peluang dukungan pendidikan bagi anak dari anggota tunanetra yang mengalami keterbatasan dalam pembiayaan pendidikan.
Muswil V juga menghasilkan sejumlah rekomendasi. Salah satunya berkaitan dengan persyaratan akademik calon ketua ITMI di berbagai jenjang organisasi.
Menurut Andhi, rekomendasi tersebut muncul karena terdapat kader yang dinilai memiliki kemampuan dan pengalaman organisasi, tetapi terkendala persyaratan jenjang pendidikan formal.
Muswil mengusulkan agar pengalaman kepengurusan dan rekam jejak kader di ITMI dapat menjadi pertimbangan dalam persyaratan pencalonan.
“Banyak kader-kader kita memiliki potensi, tapi terhambat akademik. Nah, ini kita membuat usulan klausulnya ‘dan/atau’. Artinya, dia pernah menjadi pengurus di tingkat PD, PW, bahkan PP. Jadi berdasarkan prestasinya di ITMI atau jam terbangnya,” kata Andhi.
Rekomendasi berikutnya menyangkut masa khidmat Dewan Syura dan Majelis Syura. Muswil mengusulkan agar keberlanjutan anggota Dewan Syura dan Majelis Syura dapat dievaluasi melalui forum permusyawaratan organisasi, baik Muktamar, Muswil maupun Musda.
“Jika bisa dilanjutkan ya disahkan, jika tidak tentu dengan sendirinya dilakukan penjaringan lagi,” ujarnya.
Menurut Andhi, usulan tersebut berkaitan dengan kebutuhan regenerasi dan kaderisasi di tubuh organisasi.
Soroti Hak Tunanetra Menggunakan Al-Qur’an Braille
Rekomendasi lainnya menyoroti insiden yang dialami peserta tunanetra dalam pelaksanaan MTQ tingkat nasional di Semarang. Dalam Muswil mengemuka persoalan adanya peserta tunanetra yang tidak diperbolehkan menggunakan Al-Qur’an Braille.
Forum Muswil menilai peristiwa tersebut sebagai bentuk diskriminasi terhadap tunanetra Muslim dan menjadikannya salah satu perhatian dalam rekomendasi yang dihasilkan.
Andhi mengatakan rekomendasi tersebut merupakan bentuk perhatian ITMI terhadap hak tunanetra Muslim sekaligus dorongan agar hak penyandang disabilitas sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan dapat dilaksanakan.
“Ini diskriminasi, kan ya. Nah, kami memberikan rekomendasi sebagai wujud perhatian kita terhadap tunanetra Muslim, dan agar semua bisa melaksanakan Undang-Undang Penyandang Disabilitas. Kalau hal ini kita diamkan, kan percuma. Bentuk action kita rekomendasi inilah,” ujarnya.
Ditutup Seminar Wawasan Kebangsaan
Setelah Muswil, rangkaian kegiatan berlanjut dengan Seminar Wawasan Kebangsaan pada Senin (28/9/2026).
Seminar tersebut menjadi salah satu agenda terakhir sebelum penutupan seluruh rangkaian kegiatan.
Menurut Andhi, seminar tersebut ingin menegaskan bahwa penyandang disabilitas netra juga memiliki ruang untuk berkontribusi bagi Jawa Tengah dan tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai objek penerima bantuan.
“Jangan sampai kita sebagai objek penderitaan saja. Jangan sampailah begitu. Kita juga bisa memberikan kontribusi, meskipun dengan cara kita sendiri,” katanya.
Ia mencontohkan peningkatan produktivitas dan kemandirian tunanetra sebagai bagian dari kontribusi tersebut. Dengan kemampuan yang dimiliki, tunanetra diharapkan dapat semakin mandiri sekaligus turut mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, Andhi menyebut tidak terdapat evaluasi besar terhadap penyelenggaraan kegiatan. Namun, panitia masih menemukan peserta yang merokok di area no smoking.
Menurutnya, kepatuhan terhadap aturan di ruang publik juga menjadi bagian yang perlu terus diedukasi.
Berakhirnya Seminar Wawasan Kebangsaan sekaligus menutup rangkaian Al-Qur’an Braille Camp, Muswil V, dan Seminar Wawasan Kebangsaan ITMI Jawa Tengah yang berlangsung selama tiga hari di Semarang.
