Tag: rumah aspirasi tunanetra indonesia

  • Kemenaker Respons Positif Usulan ITMI soal AI dan Pelatihan Kerja Tunanetra

    Kemenaker Respons Positif Usulan ITMI soal AI dan Pelatihan Kerja Tunanetra

    Dokumentasi photo 1

    Jakarta, itmi.or.id — Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) bersama Yayasan Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia (YRATI) kembali melakukan pertemuan lanjutan dengan unsur Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia pada Senin (18/5/2026).

    Pertemuan yang berlangsung di Kantor Yayasan Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia, Jalan RS Fatmawati Raya Nomor 20, Cilandak, Jakarta Selatan tersebut merupakan tindak lanjut dari audiensi bersama Direktorat Jenderal Binapenta Kementerian Ketenagakerjaan RI yang sebelumnya digelar pada 11 Mei 2026.

    Sejumlah agenda strategis dibahas dalam pertemuan tersebut, mulai dari pengembangan pelatihan kerja bagi penyandang disabilitas sensorik netra, penguatan sertifikasi pengajar Al-Qur’an Braille, hingga peluang kerja sama melalui nota kesepahaman (MoU) bersama Kementerian Ketenagakerjaan.

    Pertemuan dihadiri Presiden YRATI Drs. H. Arief Pribadi, M.Mtr., Ketua Umum ITMI Ust. H. Yogi Madsuni, Ketua Bidang I ITMI Eka Setiawan, S.Pd., Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi dan Ketenagakerjaan Dra. Lais Agus Tarini, Kepala Balai UPT Kemenaker Ibu Dini, serta jajaran pengurus dan staf lainnya. Sekretaris Umum ITMI Heri Mujianto, S.H.I., M.Pd., dan anggota Media Publikasi, Riset, dan Teknologi ITMI Dwi Citolaksono turut mengikuti rapat melalui Zoom Meeting.

    ITMI Dorong Penguatan Pelatihan Disabilitas

    Dalam pemaparannya, Ketua Umum ITMI Yogi Madsuni menjelaskan pentingnya pemahaman yang tepat mengenai disabilitas sensorik netra, baik tunanetra total maupun low vision, karena keduanya memiliki kebutuhan layanan yang berbeda.

    Ia juga menyampaikan sejumlah usulan pelatihan yang dinilai relevan bagi penyandang disabilitas netra, di antaranya keterampilan kerajinan tangan, peningkatan kualitas massage, digital marketing, hingga pelatihan Artificial Intelligence (AI).

    Menurut Yogi, perkembangan teknologi kecerdasan buatan sangat penting untuk mendukung kemandirian tunanetra dalam kehidupan sehari-hari.

    “Artificial Intelligence sangat diperlukan oleh disabilitas sensorik netra, misalnya untuk membantu mengenali gambar, membaca pecahan uang, hingga menerjemahkan bahasa,” ujarnya.

    Selain itu, ITMI juga menyoroti pentingnya aksesibilitas perangkat dan aplikasi yang digunakan dalam pelatihan kerja, termasuk dukungan aplikasi yang kompatibel dengan pembaca layar.

    Penguatan Sertifikasi Pengajar Al-Qur’an Braille

    ntasi photo 3

    Selain isu pelatihan kerja, pembahasan juga mengarah pada penguatan Standar Kompetensi Kerja Khusus (SKKK) Pengajar Al-Qur’an Braille agar dapat meningkat menjadi skema sertifikasi nasional melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

    Ketua Bidang I ITMI Eka Setiawan, S.Pd., menegaskan pentingnya sertifikasi tersebut sebagai bentuk standarisasi kompetensi pengajar Al-Qur’an Braille di Indonesia.

    Usulan tersebut turut diperkuat oleh Sekretaris Umum ITMI Heri Mujianto, S.H.I., M.Pd., serta anggota Media Publikasi, Riset, dan Teknologi ITMI Dwi Citolaksono.

    Sementara itu, Ketua Departemen Ekonomi menyampaikan bahwa ITMI dan YRATI selama ini telah menjalankan berbagai pelatihan keterampilan tangan bagi tunanetra. Namun tantangan terbesar yang masih dihadapi ialah aspek pemasaran produk.

    Karena itu, pembahasan juga mencakup strategi branding, pengemasan produk, pemasaran digital, hingga pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi.

    Kemenaker Respons Positif Pelatihan AI dan MoU

    Dokumentasi photo 4

    Presiden YRATI H. Arief Pribadi dalam kesempatan tersebut menilai pemerintah saat ini menunjukkan keseriusan dalam menangani isu disabilitas, salah satunya melalui pembentukan direktorat khusus disabilitas di lingkungan Kementerian Ketenagakerjaan.

    Menanggapi berbagai usulan yang disampaikan, Kepala Balai UPT Kemenaker Ibu Dini menyatakan dukungannya terhadap penguatan sertifikasi pengajar Al-Qur’an Braille.

    Ia menyebut usulan pembentukan BNSP Pengajar Al-Qur’an Braille akan disampaikan kepada Direktorat Jenderal terkait di Kementerian Ketenagakerjaan.

    Selain itu, pihaknya juga membuka peluang koordinasi terkait pelatihan Artificial Intelligence dengan pihak Microsoft.

    “Ibu Kepala Balai juga menyetujui adanya MoU dan mengajak ITMI serta RATI untuk meninjau Balai UPT di Kota Bekasi,” demikian disampaikan dalam pertemuan tersebut.

    Kunjungan itu nantinya diharapkan dapat menjadi langkah awal pemetaan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas sensorik netra di Indonesia.

    Kontributor: Dwi Citolaksono.

  • ITMI Audiensi dengan Kementerian Ketenagakerjaan, Dorong Penguatan Pelatihan dan Penyerapan Kerja Disabilitas

    dokumentasi photo1
    Jakarta, itmi.or.id — Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) bersama Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia melakukan audiensi dengan Direktorat Jenderal Binapenta Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia pada Senin, 11 Mei 2026. Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Binapenta Kementerian Ketenagakerjaan RI tersebut membahas berbagai peluang kolaborasi dalam penguatan pelatihan, sertifikasi kompetensi, hingga peningkatan penyerapan tenaga kerja bagi penyandang disabilitas. Audiensi dihadiri oleh perwakilan Direktorat Jenderal Binapenta Kementerian Ketenagakerjaan RI, jajaran Pengurus Pusat ITMI, pengurus Asosiasi Pengajar Qur’an Braille Indonesia (APQBI), tim LSP, serta unsur Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia.

    Pemerintah Beri Perhatian Khusus kepada Penyandang Disabilitas

    Dalam sambutannya, Ibu Esti selaku perwakilan Menteri Ketenagakerjaan RI menyampaikan bahwa pemerintah terus memberikan perhatian terhadap penguatan pemberdayaan penyandang disabilitas. Menurutnya, pembentukan Direktorat Binapenta menjadi salah satu langkah pemerintah dalam memperkuat program pelatihan, pemberdayaan, dan penyerapan tenaga kerja disabilitas. “Pemerintah membutuhkan informasi dan masukan langsung dari organisasi disabilitas,” ujarnya dalam audiensi tersebut, 11/05/2026 Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah saat ini tengah membuka peluang kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk organisasi disabilitas dan sektor swasta. Selain itu, pemerintah telah menyiapkan balai pelatihan khusus penyandang disabilitas di Bekasi, serta sejumlah balai pelatihan lain yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

    ITMI Perkenalkan Program Pemberdayaan dan Pendidikan Qur’an Braille

    Presiden Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia, H. Arif Pribadi, dalam kesempatan tersebut memaparkan sejumlah program pemberdayaan yang dijalankan pihaknya, sekaligus memperkenalkan struktur organisasi ITMI yang telah terbentuk dari tingkat pusat hingga daerah. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan organisasi penyandang disabilitas agar program-program yang dijalankan dapat lebih tepat sasaran. Sementara itu, Ketua Umum ITMI Ust. H. Yogi Madsuni memperkenalkan ITMI sebagai organisasi kemasyarakatan tunanetra muslim yang bergerak dalam bidang organisasi, pendidikan dan dakwah, serta pemberdayaan. Menurutnya, salah satu program unggulan ITMI ialah pemberantasan buta huruf Braille dan Al-Qur’an Braille. “Disabilitas bukanlah ketidakmampuan, melainkan hambatan yang harus difasilitasi agar penyandang disabilitas dapat berkembang dan mandiri,” ujarnya 11/05/2026. Ia juga menyampaikan bahwa ITMI telah melaksanakan berbagai program pemberdayaan, termasuk pelatihan Digital Marketing pada akhir tahun 2025.

    APQBI Dorong Penguatan Pengajar Al-Qur’an Braille

    Dalam audiensi tersebut, Ketua APQBI Yayat Ruhyat, S.Pd., turut memaparkan kondisi pengajaran Al-Qur’an Braille di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa estimasi jumlah penyandang tunanetra di Indonesia mencapai sekitar 1,5 persen dari total penduduk Indonesia, dengan sekitar tiga juta di antaranya beragama Islam. Namun dari jumlah tersebut, baru sebagian kecil yang mampu membaca Al-Qur’an Braille secara lancar. Karena itu, APQBI menargetkan terbentuknya 1.000 trainer atau pengajar Al-Qur’an Braille dalam lima tahun ke depan. APQBI juga mendorong agar SKKK AQB dapat ditingkatkan menjadi SKKNI sebagai bentuk penguatan standar kompetensi nasional bagi pengajar Al-Qur’an Braille.

    Sertifikasi Kompetensi dan Pelatihan Jadi Fokus

    Pembahasan mengenai sertifikasi kompetensi turut disampaikan oleh Eka Setiawan, S.Pd., (Kabid I Bidang Organisasi) yang memaparkan proses penyusunan SKKK serta pentingnya standarisasi kompetensi bagi para pengajar Al-Qur’an Braille. Menurutnya, masih banyak pengajar Al-Qur’an Braille yang memiliki kemampuan mengajar, namun belum memiliki sertifikasi resmi karena proses belajar yang masih bersifat otodidak. Selain itu, Sekretaris Umum ITMI Heri Mujianto, S.H.I., M.Pd., menyoroti pentingnya keberadaan pihak penghubung antara masyarakat disabilitas dan para pemangku kebijakan agar program pemerintah dapat benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan.
    Dokumentasi photo 2

    Komitmen Awal Penguatan Kolaborasi

    Dalam tanggapannya, jajaran Binapenta menyampaikan dukungan terhadap penguatan kerja sama bersama organisasi penyandang disabilitas. Pemerintah juga membuka peluang pembentukan kelas pelatihan khusus disabilitas sesuai kebutuhan masing-masing kelompok.
    Dokumentasi photo 3
    Selain itu, Kementerian Ketenagakerjaan RI turut mengundang jajaran Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia dan ITMI untuk berkunjung ke Balai Pelatihan Disabilitas di Bekasi. Audiensi tersebut ditutup dengan semangat kolaborasi dan harapan adanya tindak lanjut konkret antara pemerintah dan organisasi disabilitas, khususnya dalam bidang pelatihan kerja, sertifikasi kompetensi, pengembangan pengajar Al-Qur’an Braille, pemberdayaan ekonomi, serta peningkatan penyerapan tenaga kerja penyandang disabilitas di Indonesia.
    dokumentasi photo 4
    dokumentasi photo1