Tag: kemenag

  • Uji Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille Didukung BAZNAS Jabar, ITMI Berharap Jadi Model Nasional

    Uji Kompetensi Pengajar Al-Qur’an Braille Didukung BAZNAS Jabar, ITMI Berharap Jadi Model Nasional

    Cimahi, Itmi.or.id – Dukungan terhadap peningkatan kompetensi pengajar Al-Qur’an Braille mulai melibatkan berbagai lembaga.

    Pengurus Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (PP ITMI) berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti di Jawa Barat, tetapi dapat diikuti lembaga serupa di berbagai daerah.

    Harapan itu disampaikan Ketua Umum PP ITMI Ust. H. Yogi Madsuni saat membuka Uji Kompetensi Trainer Al-Qur’an Braille Gelombang III di Sekretariat PP ITMI, Kota Cimahi, Jawa Barat, Jumat (13/8/2026).

    Kegiatan yang diselenggarakan Asosiasi Pengajar Qur’an Braille Indonesia (APQBI) dan lembaga sertifikasi (LSP) pengajar Alqur’an Braille tersebut mendapat dukungan BAZNAS Provinsi Jawa Barat.

    Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia (RATI) juga menjadi salah satu pihak yang mendukung perjalanan program tersebut.

    Ketua Umum PP ITMI yang akrab disapa Pak Soni itu memberikan apresiasi khusus kepada BAZNAS Jawa Barat.

    “Terima kasih wabil khusus bagi BAZNAS Jawa Barat. Mudah-mudahan diikuti oleh BAZNAS-BAZNAS lainnya. Biar jadi role model,” katanya.

    Menurutnya, dukungan terhadap peningkatan kualitas pengajar Al-Qur’an Braille penting karena kebutuhan penyandang tunanetra tidak berhenti pada ketersediaan mushaf.

    Mushaf dapat tersedia, tetapi tanpa orang yang mampu mengajarkan cara membacanya dengan baik, persoalan buta huruf Al-Qur’an Braille belum selesai.

    Pengajar Ingin Mendapat Pengakuan Lebih Lua

    Ketua APQBI sekaligus Ketua Panitia Ust. Yayat Ruhyat, S.Pd. mengatakan APQBI dibentuk untuk menghimpun para pengajar Al-Qur’an Braille yang selama ini tersebar di berbagai daerah dan komunitas.

    Para pengajar tersebut memiliki pengalaman dan latar belakang yang berbeda. APQBI kemudian berupaya meningkatkan kompetensi, kualitas, sekaligus status mereka.

    “Di sini kita coba menghimpun. Tujuannya untuk meningkatkan kompetensinya, kualitasnya, juga statusnya,” ujar Yayat.

    Menurut Yayat, perjuangan itu tidak berhenti pada penyelenggaraan pelatihan dan uji kompetensi.

    APQBI juga telah membangun komunikasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Agama.

    “Mudah-mudahan ada kemudahan sesuai dengan yang kita harapkan. Sehingga para pengajar itu dapat pengakuan selain dari masyarakat, juga dari negara,” katanya.

    Upaya memperoleh pengakuan tersebut menjadi tahap lanjutan setelah selama bertahun-tahun pengajaran Al-Qur’an Braille berkembang melalui komunitas dan organisasi penyandang tunanetra.

    Sudah Memasuki Gelombang Ketiga

    Uji kompetensi di Cimahi menjadi pelaksanaan ketiga yang diselenggarakan APQBI.

    Gelombang pertama digelar pada Desember di kompleks Pesantren Adzikra, Bogor. Gelombang kedua berlangsung pada Maret di Markas Al-Qur’an Braille Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia yang juga menjadi sekretariat ITMI, Jalan RS Fatmawati Raya No. 20, Jakarta.

    Kini, Sekretariat PP ITMI di Cimahi menjadi tempat penyelenggaraan gelombang ketiga.

    “Alhamdulillah yang ketiga ini di Gedung Sekretariat PP ITMI,” kata Yayat.

    Sebanyak 21 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari sejumlah daerah, di antaranya Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, dan DKI Jakarta.

    Yayat mengatakan terdapat calon peserta lain yang sebenarnya direncanakan mengikuti kegiatan, tetapi belum dapat hadir karena memiliki keperluan yang tidak dapat ditinggalkan.

    Tak Hanya Datang untuk Diuji

    Selama tiga hari, peserta tidak hanya menjalani pengujian kemampuan.

    Hari pertama diisi dengan pretest dan materi metodologi pembelajaran Al-Qur’an Braille. Pada hari berikutnya, peserta dijadwalkan mengikuti kegiatan bersama DKM Masjid As-Sakinah dengan dukungan Kumpulan Remaja Masjid (Kurma).

    Agenda tersebut antara lain diisi sharing session dan talkshow “Kemerdekaan Bersama Al-Qur’an”.

    Pada hari terakhir, peserta akan mengikuti praktik mengajar di SLBN-A Citeureup, Cimahi.

    Yayat berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat dimanfaatkan peserta untuk meningkatkan kemampuan mereka sebagai pengajar.

    Ia menilai keberlangsungan program seperti ini tidak mungkin ditopang satu organisasi saja. Kerja sama antarlembaga menjadi bagian penting untuk memastikan pembinaan dapat terus dilakukan.

    “Kalau tidak ada kerja sama yang baik, ya tentu saja tidak akan ada hasil yang baik,” ujarnya.

    Dari Akses Mushaf Menuju Kualitas Pengajar

    Ketua umum mengatakan persoalan Al-Qur’an Braille telah mengalami perubahan dari masa ke masa.

    Pada dekade 1990-an, tantangan utamanya adalah sulitnya mendapatkan mushaf. Ia bahkan masih mengingat masa ketika penyandang tunanetra harus berebut untuk memperoleh Al-Qur’an Braille.

    Perkembangan teknologi kemudian membuat mushaf semakin mudah tersebar. Namun, persoalan bergeser kepada kemampuan membacanya.

    “Permasalahannya, mushafnya ada, tapi tunanetranya enggak bisa baca,” katanya.

    ITMI kemudian mengembangkan program pembelajaran dan Training of Trainers dari tingkat dasar hingga lanjutan.

    Ketika jumlah pengajar bertambah, tantangan kembali berubah. Para pengajar membutuhkan standardisasi kompetensi dan pengakuan yang lebih luas terhadap kemampuan mereka.

    Perjalanan tersebut kemudian melahirkan modul pengajaran, lembaga sertifikasi, APQBI, hingga Standar Kompetensi Kerja Khusus (SKKK) Pengajar Al-Qur’an Braille Indonesia.

    Karena itu, ketua umum berharap dukungan yang kini diberikan BAZNAS Jawa Barat dapat membuka jalan bagi keterlibatan lebih banyak lembaga di daerah lain.

    Bagi dia, memperluas kemampuan penyandang tunanetra membaca Al-Qur’an merupakan pekerjaan yang tidak dapat berhenti pada satu generasi pengajar. Pesan itu pula yang ia sampaikan menjelang membuka kegiatan.

    “Buta di dunia itu takdir, Pak, tapi buta di akhirat pilihan.”

  • ITMI Audiensi Dengan Kementerian Agama, Dorong Penguatan Pendidikan Al-Qur’an Braille Di Madrasah Dan Pesantren

    ITMI Audiensi Dengan Kementerian Agama, Dorong Penguatan Pendidikan Al-Qur’an Braille Di Madrasah Dan Pesantren

    Dokumentasi Photo 1
    Dokumentasi Photo 2
    Dokumentasi Photo 3

    Jakarta, Itmi.or.id — Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) melakukan audiensi dengan Kementerian Agama Republik Indonesia pada Selasa (23/6/2026) di Gedung Direktorat Pendidikan Pesantren, Jakarta Pusat.

    Pertemuan tersebut membahas penguatan pendidikan Al-Qur’an Braille serta peningkatan dukungan bagi para pengajar Al-Qur’an Braille di Indonesia.

    Audiensi dihadiri oleh Ketua Umum ITMI, Ust. Yogi Madsuni; Presiden Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia sekaligus Anggota Kehormatan ITMI, Drs. H. Arief Pribadi, M.M.Tr; Ketua Asosiasi Pengajar Al-Qur’an Braille Indonesia (APQBI), Yayat Ruhiyat, S.Pd., beserta jajaran; serta tim Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang diwakili oleh Ust. Ahmad Jaeni, M.Ag.

    Rombongan disambut langsung oleh Kasubdit Madrasah Diniyah Takmiliyah dan Pendidikan Al-Qur’an, Dr. Aziz Syafiudin.

    APQBI Dorong Al-Qur’an Braille Masuk Madrasah dan Pesantren

    Mengawali pertemuan, Ketua APQBI ust Yayat Ruhiyat menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan oleh Direktorat Pendidikan Pesantren. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan harapan agar pembelajaran Al-Qur’an Braille dapat menjadi bagian dari program pendidikan di madrasah maupun pesantren.

    “Kami berharap Al-Qur’an Braille menjadi pembelajaran di madrasah dan pesantren,” ujarnya.

    Selain itu, Yayat juga menyoroti pentingnya pengakuan negara terhadap para pengajar Al-Qur’an Braille. Menurutnya, para guru yang selama ini berkhidmat dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada penyandang tunanetra perlu memperoleh dukungan dan kesejahteraan yang layak.

    “Mengajar Al-Qur’an memang dilandasi niat lillahi ta’ala, namun kebutuhan hidup para pengajar juga perlu mendapat perhatian,” ungkapnya.

    ITMI Paparkan Tantangan Literasi Al-Qur’an Braille

    Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum ITMI Ust. Yogi Madsuni memaparkan kondisi literasi Al-Qur’an Braille di kalangan penyandang tunanetra Indonesia. Ia menjelaskan bahwa jumlah tunanetra di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 1,5 persen dari total populasi penduduk.

    Menurutnya, dari sekitar 280 juta penduduk Indonesia saat ini, diperkirakan terdapat sekitar 4 juta penyandang tunanetra. Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan Muslim, namun baru sekitar 5 hingga 10 persen yang telah mampu membaca dan menulis Al-Qur’an Braille.

    Ia juga mengungkapkan bahwa masih banyak penyandang tunanetra yang mengalami kesulitan dalam mengakses lembaga pendidikan inklusif yang menyediakan layanan pembelajaran baca tulis Al-Qur’an Braille. Kondisi tersebut menjadi tantangan bersama yang perlu mendapat perhatian berbagai pihak.

    Bahan Ajar dan Metode Pembelajaran Siap Dikembangkan

    Sementara itu, Ust. Ahmad Jaeni selaku perwakilan tim LSP menjelaskan bahwa bahan ajar maupun metode pembelajaran Al-Qur’an Braille sebenarnya telah tersedia dan siap digunakan. Namun demikian, pemanfaatannya masih belum optimal karena belum tersosialisasikan secara luas kepada masyarakat maupun lembaga pendidikan.

    Menurutnya, dukungan pemerintah dan kolaborasi berbagai pihak akan sangat membantu percepatan penyebarluasan metode pembelajaran tersebut sehingga dapat menjangkau lebih banyak penyandang tunanetra di berbagai daerah.

    Kementerian Agama Siapkan Program Taman Pendidikan Al-Qur’an Braille

    Menanggapi berbagai masukan yang disampaikan, Kasubdit Madrasah Diniyah Takmiliyah dan Pendidikan Al-Qur’an, Dr. Aziz Syafiudin, menyampaikan komitmen Kementerian Agama untuk mendorong penguatan layanan pendidikan Al-Qur’an bagi penyandang tunanetra.

    Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan rencana peluncuran Program Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Braille sebagai salah satu upaya memperluas akses pendidikan Al-Qur’an yang inklusif.

    “Kami berharap kerja sama dari bapak dan ibu sekalian dalam mewujudkan program ini,” ujarnya.

    Ia juga menyampaikan bahwa berbagai aspek teknis, termasuk pendataan, metode pembelajaran, dan mekanisme pelaksanaan program akan dibahas lebih lanjut bersama para pemangku kepentingan terkait.

    Harapan Penguatan Payung Hukum bagi Pengajar Al-Qur’an Braille

    Presiden Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia, H. Arief Pribadi, turut menyampaikan harapannya agar para pengajar Al-Qur’an Braille memperoleh payung hukum yang kuat dari negara. Menurutnya, keberadaan regulasi yang jelas akan memberikan kepastian dan ketenangan bagi para pengajar dalam menjalankan tugasnya.

    Ia juga berharap program TPQ Braille dapat segera direalisasikan dan diluncurkan dalam waktu dekat.

    “Mudah-mudahan program ini dapat segera diluncurkan, bahkan bila memungkinkan bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas Internasional,” ungkapnya.

    Perkuat Kolaborasi untuk Pendidikan Al-Qur’an yang Inklusif

    Audiensi berlangsung dalam suasana hangat, konstruktif, dan penuh semangat kolaborasi. Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi antara ITMI, APQBI, dan Kementerian Agama dalam memperluas akses pendidikan Al-Qur’an Braille bagi penyandang tunanetra di Indonesia.

    Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama yang berlangsung dalam suasana santai dan penuh keakraban, menandai komitmen bersama untuk mewujudkan layanan pendidikan Al-Qur’an yang lebih inklusif, berkualitas, dan menjangkau seluruh penyandang tunanetra di Indonesia.