Tag: alqur’an braille

  • ITMI Audiensi Dengan Kementerian Agama, Dorong Penguatan Pendidikan Al-Qur’an Braille Di Madrasah Dan Pesantren

    ITMI Audiensi Dengan Kementerian Agama, Dorong Penguatan Pendidikan Al-Qur’an Braille Di Madrasah Dan Pesantren

    Dokumentasi Photo 1
    Dokumentasi Photo 2
    Dokumentasi Photo 3

    Jakarta, Itmi.or.id — Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) melakukan audiensi dengan Kementerian Agama Republik Indonesia pada Selasa (23/6/2026) di Gedung Direktorat Pendidikan Pesantren, Jakarta Pusat.

    Pertemuan tersebut membahas penguatan pendidikan Al-Qur’an Braille serta peningkatan dukungan bagi para pengajar Al-Qur’an Braille di Indonesia.

    Audiensi dihadiri oleh Ketua Umum ITMI, Ust. Yogi Madsuni; Presiden Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia sekaligus Anggota Kehormatan ITMI, Drs. H. Arief Pribadi, M.M.Tr; Ketua Asosiasi Pengajar Al-Qur’an Braille Indonesia (APQBI), Yayat Ruhiyat, S.Pd., beserta jajaran; serta tim Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang diwakili oleh Ust. Ahmad Jaeni, M.Ag.

    Rombongan disambut langsung oleh Kasubdit Madrasah Diniyah Takmiliyah dan Pendidikan Al-Qur’an, Dr. Aziz Syafiudin.

    APQBI Dorong Al-Qur’an Braille Masuk Madrasah dan Pesantren

    Mengawali pertemuan, Ketua APQBI ust Yayat Ruhiyat menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan oleh Direktorat Pendidikan Pesantren. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan harapan agar pembelajaran Al-Qur’an Braille dapat menjadi bagian dari program pendidikan di madrasah maupun pesantren.

    “Kami berharap Al-Qur’an Braille menjadi pembelajaran di madrasah dan pesantren,” ujarnya.

    Selain itu, Yayat juga menyoroti pentingnya pengakuan negara terhadap para pengajar Al-Qur’an Braille. Menurutnya, para guru yang selama ini berkhidmat dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada penyandang tunanetra perlu memperoleh dukungan dan kesejahteraan yang layak.

    “Mengajar Al-Qur’an memang dilandasi niat lillahi ta’ala, namun kebutuhan hidup para pengajar juga perlu mendapat perhatian,” ungkapnya.

    ITMI Paparkan Tantangan Literasi Al-Qur’an Braille

    Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum ITMI Ust. Yogi Madsuni memaparkan kondisi literasi Al-Qur’an Braille di kalangan penyandang tunanetra Indonesia. Ia menjelaskan bahwa jumlah tunanetra di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 1,5 persen dari total populasi penduduk.

    Menurutnya, dari sekitar 280 juta penduduk Indonesia saat ini, diperkirakan terdapat sekitar 4 juta penyandang tunanetra. Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan Muslim, namun baru sekitar 5 hingga 10 persen yang telah mampu membaca dan menulis Al-Qur’an Braille.

    Ia juga mengungkapkan bahwa masih banyak penyandang tunanetra yang mengalami kesulitan dalam mengakses lembaga pendidikan inklusif yang menyediakan layanan pembelajaran baca tulis Al-Qur’an Braille. Kondisi tersebut menjadi tantangan bersama yang perlu mendapat perhatian berbagai pihak.

    Bahan Ajar dan Metode Pembelajaran Siap Dikembangkan

    Sementara itu, Ust. Ahmad Jaeni selaku perwakilan tim LSP menjelaskan bahwa bahan ajar maupun metode pembelajaran Al-Qur’an Braille sebenarnya telah tersedia dan siap digunakan. Namun demikian, pemanfaatannya masih belum optimal karena belum tersosialisasikan secara luas kepada masyarakat maupun lembaga pendidikan.

    Menurutnya, dukungan pemerintah dan kolaborasi berbagai pihak akan sangat membantu percepatan penyebarluasan metode pembelajaran tersebut sehingga dapat menjangkau lebih banyak penyandang tunanetra di berbagai daerah.

    Kementerian Agama Siapkan Program Taman Pendidikan Al-Qur’an Braille

    Menanggapi berbagai masukan yang disampaikan, Kasubdit Madrasah Diniyah Takmiliyah dan Pendidikan Al-Qur’an, Dr. Aziz Syafiudin, menyampaikan komitmen Kementerian Agama untuk mendorong penguatan layanan pendidikan Al-Qur’an bagi penyandang tunanetra.

    Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan rencana peluncuran Program Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Braille sebagai salah satu upaya memperluas akses pendidikan Al-Qur’an yang inklusif.

    “Kami berharap kerja sama dari bapak dan ibu sekalian dalam mewujudkan program ini,” ujarnya.

    Ia juga menyampaikan bahwa berbagai aspek teknis, termasuk pendataan, metode pembelajaran, dan mekanisme pelaksanaan program akan dibahas lebih lanjut bersama para pemangku kepentingan terkait.

    Harapan Penguatan Payung Hukum bagi Pengajar Al-Qur’an Braille

    Presiden Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia, H. Arief Pribadi, turut menyampaikan harapannya agar para pengajar Al-Qur’an Braille memperoleh payung hukum yang kuat dari negara. Menurutnya, keberadaan regulasi yang jelas akan memberikan kepastian dan ketenangan bagi para pengajar dalam menjalankan tugasnya.

    Ia juga berharap program TPQ Braille dapat segera direalisasikan dan diluncurkan dalam waktu dekat.

    “Mudah-mudahan program ini dapat segera diluncurkan, bahkan bila memungkinkan bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas Internasional,” ungkapnya.

    Perkuat Kolaborasi untuk Pendidikan Al-Qur’an yang Inklusif

    Audiensi berlangsung dalam suasana hangat, konstruktif, dan penuh semangat kolaborasi. Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi antara ITMI, APQBI, dan Kementerian Agama dalam memperluas akses pendidikan Al-Qur’an Braille bagi penyandang tunanetra di Indonesia.

    Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama yang berlangsung dalam suasana santai dan penuh keakraban, menandai komitmen bersama untuk mewujudkan layanan pendidikan Al-Qur’an yang lebih inklusif, berkualitas, dan menjangkau seluruh penyandang tunanetra di Indonesia.